*Mitos

Diduga Mencari Orang Tuanya, Seorang Anak Hilang di Pantai Pulau Pari

Avatar photo
530
×

Diduga Mencari Orang Tuanya, Seorang Anak Hilang di Pantai Pulau Pari

Sebarkan artikel ini
📷 Istimewa
📷 Istimewa

Pulau Pari — Seorang anak perempuan dikabarkan hilang tanpa jejak saat tengah mencari orang tuanya di pesisir Pulau Pari, Kepulauan Seribu.

Peristiwa itu bukan catatan resmi kepolisian, melainkan cerita yang telah lama beredar dan dipercaya sebagian warga sebagai asal-usul penamaan Pantai Pasir Perawan.

Cerita ini dituturkan oleh salah satu warga Pulau Pari yang tidak ingin identitasnya disebutkan.

Menurutnya, kisah tersebut bermula puluhan tahun silam, saat seorang anak perempuan yang pamit pergi ke pantai untuk mencari kedua orang tuanya yang belum juga pulang dari melaut.

“Waktu itu sore hari, dia pergi sendirian. Katanya mau cari ayahnya di ujung pantai. Tapi sampai malam enggak pulang-pulang,” ucap sumber tersebut sambil menatap kosong ke arah garis pantai yang senyap diterpa angin.

Pencarian dilakukan oleh warga selama berhari-hari, menyisir pantai, semak belukar, hingga ke arah hutan mangrove.

Namun tak ditemukan satu pun jejak, seolah anak itu lenyap ditelan tanah. Seorang tetua kampung bahkan sempat melakukan ritual pencarian secara spiritual, dan dari sanalah muncul keyakinan bahwa sang anak telah berpindah alam.

Sejak saat itu, warga menyebut kawasan tersebut dengan sebutan Pantai Pasir Perawan.

“Perawan karena anak itu belum sempat remaja, hilang di tempat yang masih perawan, belum dijamah apa-apa. Dan sejak itu juga, pantai ini terasa lebih sunyi,” tambah sumber tersebut.

Pantai Pasir Perawan 📷 Istimewa
Pantai Pasir Perawan 📷 Istimewa

Kini, Pantai Pasir Perawan justru menjadi primadona wisata Pulau Pari. Keindahan alamnya yang memesona—pasir putih halus, laut biru kehijauan, dan suasana yang tenang—menarik minat wisatawan dari berbagai daerah.

Namun di balik keelokan panorama, kisah lama itu masih dibisikkan di antara warga dan para pemandu lokal yang gemar membagikan cerita malam di sekitar api unggun.

Cerita ini menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Antara mitos dan kenyataan, kisah anak yang hilang tersebut menyisakan ruang hening dalam sejarah lisan Pulau Pari.

Pantai ini bukan sekadar tempat berlibur, tapi juga ruang kontemplatif tentang kehilangan, alam, dan batas antara yang kasat dan tak kasat mata.

Bagaimana Anda menilai informasi ini? Berikan reaksi Anda!

Dukung Konten Berkualitas

Jika artikel ini bermanfaat bagi Anda, pertimbangkan untuk memberikan donasi melalui e-wallet.

Gunakan nomor: 082118113019 untuk melakukan donasi melalui aplikasi e-wallet pilihan Anda.

Lihat tata cara donasi di sini