Saga menghela napas, lalu mengambil posisi kuda-kuda. “Kalian sudah keterlaluan.”
Codet dan kawan-kawannya tertawa. “Lihat ini! Anak ingusan mau sok jagoan!”
Namun, tawa mereka lenyap dalam sekejap. Saga bergerak dengan kecepatan luar biasa, seperti bayangan yang menyelinap di antara mereka. Dalam satu gerakan cepat, ia menyerang Codet dengan jurus pertama Betsy, “Sisik Naga Menggeliat.” Pukulan telak itu menghantam dada Codet hingga ia terhuyung ke belakang.
Japra mencoba menyerang dari belakang, tetapi Saga dengan cekatan menghindar dan membalas dengan jurus kedua, “Tendangan Elang Menukik.” Kakinya menyapu kaki Japra dengan presisi sempurna, membuat lawannya terjatuh dengan keras ke tanah.
Maung, yang masih belum percaya dengan kecepatan Saga, menghunus belati kecil dari balik bajunya. “Kau cari mati, bocah!”
Namun, sebelum Maung bisa bergerak lebih jauh, Saga sudah melompat dan menggunakan jurus ketiga, “Serangan Bayangan Berlapis.” Tubuhnya bergerak secepat angin, dan dalam sekejap Maung merasakan pukulan bertubi-tubi menghantam tubuhnya. Ia jatuh tersungkur, kesakitan.
Ketiga berandalan itu terkapar di tanah, babak belur dan tidak mampu melawan. Mereka terengah-engah, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dengan ketakutan, mereka pun lari terbirit-birit meninggalkan tempat kejadian.
Namun, perkelahian itu ternyata tidak hanya disaksikan oleh Rahma dan Gandi. Dua orang berseragam seperti punggawa Kesultanan Demak, Ki Jaka Wulung dan Raden Mahesa Anabrang, memperhatikan dari kejauhan. Mereka perlahan mendekat, memperhatikan Saga yang sedang membantu Rahma dan Gandi berdiri.
Setelah tiba di rumah Sulaiman, Saga menemani Gandi membasuh wajahnya di ruang murid, sementara dua utusan Kesultanan Demak berbincang dengan Sulaiman di ruang tamu.
Hasanah, istri Sulaiman, datang membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa kudapan. Dengan ramah, ia menyuguhkan minuman kepada tamu-tamu suaminya.
“Silakan diminum, Ki Jaka, Raden Mahesa,” ucap Hasanah dengan sopan.
Ki Jaka Wulung mengangguk sopan. “Terima kasih, Nyai Hasanah.”
Hasanah menatap suaminya dengan lirih, seakan merasakan kegelisahan di hatinya. Ia tahu bahwa undangan dari Kesultanan Demak bukan perkara sepele.
Raden Mahesa mengambil cangkirnya dan menyesap teh itu sebelum berbicara, “Guru Sulaiman, kami membawa amanat dari Sultan Demak. Beliau mengundang Anda dan murid-murid Anda untuk datang ke Demak guna mengikuti uji tanding.”
Sulaiman terdiam sejenak, pikirannya berkecamuk. “Kami merasa terhormat. Namun, apakah ada alasan khusus mengapa Sultan mengundang kami kali ini?”
Ki Jaka Wulung menatap Sulaiman dengan serius. “Sejujurnya, ada hal lain yang menarik perhatian kami. Jurus yang digunakan oleh Saga saat menghadapi para berandalan di pasar… itu bukan jurus biasa.”
Sulaiman termenung. Ia tahu Saga berbakat, tetapi jika dua punggawa Kesultanan Demak saja sudah heran dengan kemampuannya, ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi pada muridnya itu.
Di ruangan lain, Rahma yang seharusnya tinggal di rumah memaksa untuk ikut ke Demak. “Aku tidak bisa diam di sini, Ayah. Aku ingin ikut. Aku ingin melihat langsung bagaimana Saga bertanding.”