Bagian 1: Jangan Pergi, Bu
Dentang sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar nyaring, memecah sunyi di ruang makan yang sempit. Rumah sederhana bercat krem di salah satu gang padat kawasan Kebayoran itu seharusnya ramai dengan denyut kehidupan—suara motor yang melintas, riuh anak-anak bermain bola plastik, hingga jerit pedagang keliling di ujung gang. Namun sore itu, bagi Aniya, dunia seolah kedap suara.
Pusat gravitasi ketakutan Aniya hari ini hanya tertuju pada satu titik: sebuah koper biru berukuran sedang yang tergeletak pasrah di dekat sofa ruang tamu. Benda itu tampak seperti ganjalan tak kasatmata yang menghalangi napasnya sejak pagi.
“Aniya, makannya dihabiskan. Jangan melamun.”
Suara Ratih memecah lamunan. Ibunya keluar dari dapur membawa segelas teh hangat dengan langkah yang terlampau ringan—terlalu bersemangat untuk ukuran seseorang yang akan melakukan perjalanan jauh. Ada rona cerah di wajah lima puluh tahun itu, sebuah binar yang sudah lama tidak Aniya lihat.
Aniya meletakkan sendoknya, tak mampu lagi menelan apa pun. “Ibu sudah benar-benar mendaftar?”
Ratih tersenyum tipis, menyesap tehnya. “Sudah, Nak.”
“Ibu masih bisa membatalkannya. Masih bisa.”
“Kamu mulai lagi.”
Aniya menatap ibunya dengan tatapan yang memohon. “Ibu, aku serius. Ini bukan sekadar wisata.”
“Teman-teman pengajian juga ikut, Nia. Kapalnya besar, aman.”
Aniya sontak menggeleng, napasnya sedikit tertahan. “Jangan katakan itu.”
Ratih terdiam. Ia tahu kalimat itu adalah duri. Kalimat yang sama—persis seperti itu—pernah diucapkan oleh suaminya, Ayah Aniya, lima belas tahun silam. Tepat sebelum pria itu melangkah pergi dan tak pernah lagi menjejakkan kaki di rumah ini.
Keheningan seketika membeku. Aniya menunduk, membiarkan rambutnya menutupi wajah. Ia membenci dirinya sendiri setiap kali pembicaraan mereka berakhir di palung kenangan yang sama. Luka itu tidak pernah benar-benar menutup; ia hanya berhenti berdarah, namun tetap basah.
“Aku cuma takut, Bu,” bisik Aniya, suaranya pecah.
Ratih menatap wajah putrinya, melihat sisa-sisa trauma seorang anak kecil yang kehilangan dunianya dalam satu malam. “Ayahmu tidak akan suka melihatmu hidup dalam kurungan ketakutan seperti ini.”
Aniya tersenyum getir. “Kalau Ayah masih ada, mungkin aku tidak akan sekecil ini nyaliku.”
Ratih menunduk, jarinya membelai pinggiran gelas. Kenangan itu kembali menyerbu: telepon tengah malam, kabar kapal terbakar, daftar korban yang dipajang di rumah sakit, hingga tatapan hampa Aniya kecil yang terus bertanya, “Ayah kapan pulang?”
“Lima belas tahun sudah berlalu, Nia,” lirih Ratih.
“Aku tahu.”
“Kamu harus berdamai dengan laut.”
Aniya menatap lurus ke mata ibunya, tajam dan penuh kepedihan. “Aku tidak sedang berperang dengan laut, Bu. Aku hanya takut kehilangan Ibu juga.”
Kalimat itu menghantam jantung Ratih lebih keras dari apa pun. Jam dinding berdetak ritmis—tik, tik, tik—menghitung detik-detik yang tersisa. Di luar, azan Maghrib mulai melengking dari musala ujung gang, membawa hawa dingin yang tak biasa.
“Aniya,” panggil Ratih lembut, matanya mulai berkaca-kaca.
“Iya?”
“Ibu juga takut,” aku Ratih jujur. “Sangat takut.”
“Lalu kenapa tetap pergi?”
Ratih memandang jendela. Langit sore yang tadinya jingga kini berubah ungu gelap, seperti memar. “Ibu capek hidup dalam ketakutan. Ibu ingin melihat dunia sekali lagi, sebelum Ibu benar-benar lupa caranya untuk bernapas.”
Malam turun dengan perlahan, membawa kepasrahan yang pekat. Saat Ratih mulai memasukkan pakaian, topi, dan obat-obatan ke dalam koper, Aniya hanya bisa mematung di ambang pintu. Setiap baju yang terlipat rapi ke dalam koper itu terasa seperti ancaman. Setiap desah napas ibunya terdengar seperti perpisahan.
Tengah malam. Gang di depan rumah telah mati, menyisakan sunyi yang mencekam. Namun, Aniya tidak mampu memejamkan mata. Pikirannya dipenuhi bayangan-bayangan buruk yang merayap di langit-langit kamar.
Pukul 02.17.
Aniya akhirnya terlelap, dan mimpi itu datang lagi.
Ia kembali menjadi gadis kecil di sebuah dermaga yang bising oleh tangis. Lampu ambulans berkelap-kelip merah-biru, menyapu wajah orang-orang yang putus asa. Di ujung dermaga, ia melihat ayahnya berdiri, namun saat ia berlari, sosok itu memudar.
Dunia di mimpinya berubah. Kini, ia melihat ibunya berdiri sendirian di atas geladak kapal yang megah. Tiba-tiba, cakrawala berubah menjadi kelabu, tertutup oleh asap hitam pekat yang menggulung ke langit.
“Ibu!” teriak Aniya.
Ia berlari sekuat tenaga. Namun kapal itu bergerak menjauh, ditelan kabut tebal yang dingin.
Aniya terbangun dengan napas memburu, tubuhnya dibasahi keringat dingin. Jam digital di meja menunjukkan pukul 02.17. Ia segera bangkit, berlari menuju kamar ibunya. Pintu itu sedikit terbuka. Ratih masih tertidur lelap, dadanya naik-turun dengan tenang.
Aniya mengembuskan napas lega, namun hatinya tidak bisa tenang. Ada firasat buruk yang mengendap jauh di dasar jiwanya—sesuatu yang tak mampu ia jelaskan dengan kata-kata. Ia tidak tahu bahwa saat ia berdiri di ambang pintu kamar ibunya, nasib mereka sedang diputar oleh takdir di tengah laut sana.
Pagi akan datang, membawa asap yang lebih pekat daripada mimpi buruk mana pun.
Bagian 2: Pagi yang Terlalu Cerah
Pukul lima pagi. Langit Jakarta masih terbungkus warna biru nila saat suara alarm ponsel Ratih memecah keheningan rumah.
Aniya, yang sepanjang malam hanya memejamkan mata tanpa benar-benar terlelap, langsung terjaga. Beberapa detik ia hanya berbaring menatap langit-langit kamar, mencoba menipu diri sendiri bahwa mimpi buruk semalam hanyalah bunga tidur. Namun, suara langkah kaki ibunya dari kamar sebelah segera menghantamnya kembali pada kenyataan.
Hari keberangkatan itu akhirnya tiba.
Dari arah dapur, sayup-sayup terdengar suara air mendidih, disusul denting sendok yang beradu dengan dinding gelas. Ratih bersenandung kecil—lagu lawas yang sering ia dengar di radio. Entah mengapa, melodi ceria itu justru membuat dada Aniya terasa sesak, seolah ada beban tak terlihat yang perlahan menekan paru-parunya.
Aniya bangkit, menyeret kakinya menuju dapur.
Ratih sudah rapi. Jilbab biru muda membingkai wajahnya dengan sempurna. Tas selempang kecil sudah tergantung di bahu. Di meja makan, dua piring roti bakar dan telur mata sapi telah tersaji, uap hangatnya menari-nari di udara.
“Kamu bangun juga,” sapa Ratih dengan senyum yang begitu jernih.
“Bagus. Temani Ibu sarapan.”
Aniya duduk. Ia memegang gelas teh hangat, namun hanya membiarkannya mendingin di tangan. Pikirannya masih menggantung pada bayangan mimpi semalam.
“Kamu masih kesal?” tanya Ratih lembut.
Aniya menggeleng pelan. “Bukan kesal.”
“Lalu?”
“Aku cuma ingin Ibu tidak pergi.”
Ratih tersenyum tipis, sebuah senyum yang sudah ia berikan puluhan kali untuk pertanyaan yang sama. “Aniya, Ibu janji akan hati-hati.”
“Janji?”
“Janji.”
Keduanya terdiam. Tidak ada yang menyadari bahwa janji manusia hanyalah bisikan kecil di hadapan takdir yang sudah dituliskan di garis cakrawala.
Pukul enam lewat tiga puluh. Klakson minibus sewaan terdengar dua kali di depan gang. Tut. Tut.
“Itu rombongan Ibu,” ujar Ratih. Ia bangkit, diikuti Aniya.
Di depan rumah, suasana sudah riuh. Ibu-ibu pengajian duduk berdesakan di dalam kendaraan, tertawa dan bercanda. Suasananya begitu lazim—seperti perjalanan wisata biasa. Tidak ada tanda bahaya. Tidak ada firasat buruk yang kasatmata. Namun, itulah yang justru membuat Aniya merinding. Musibah tidak pernah datang dengan wajah menyeramkan; ia sering kali datang menyamar dalam rupa hari yang cerah.
Ratih mengangkat koper kecilnya, tapi Aniya dengan sigap mengambil alih.
“Biar aku yang bawa,” ucap Aniya, suaranya sedikit bergetar.
Sesampainya di samping minibus, Ratih berbalik. Untuk sesaat, mereka saling menatap. Lebih lama dari biasanya. Lebih dalam. Ada ribuan kata yang tersangkut di tenggorokan, tak mampu keluar.
“Aniya.”
“Iya, Bu.”
“Jangan lupa makan.”
“Ibu juga.”
“Jaga diri, ya.”
Ratih menarik Aniya ke dalam pelukannya. Hangat. Lembut. Namun, kali ini Aniya merasakan sesuatu yang ganjil. Ia tidak ingin melepaskan pelukan itu. Sama sekali tidak.
“Bu…”
“Iya?”
“Kalau aku minta sekali lagi…”
Ratih membelai rambut putrinya dengan sabar. “Kamu keras kepala sekali.”
“Aku serius.”
“Aku juga serius,” jawab Ratih tenang. Ia mengecup kening Aniya. Sekilas. Sederhana. Sebuah memori yang tanpa mereka sadari akan menjadi artefak paling berharga bagi Aniya di sisa hidupnya.
Minibus bergerak meninggalkan gang. Aniya berdiri mematung, menatap kendaraan itu hingga lenyap di tikungan. Rumah itu mendadak terasa jauh lebih sunyi. Jauh lebih besar. Di meja makan, kopi milik Ratih masih tersisa, hangatnya belum hilang sepenuhnya, namun pemiliknya sudah pergi menjemput takdir.
Pukul delapan pagi. Aniya sudah berada di kampus, namun jiwanya tertinggal di rumah. Ia terus menatap ponselnya, menunggu kabar yang bisa meredam kegelisahannya.
Ting.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Ratih.
Aniya membuka pesan itu dengan tangan gemetar. Sebuah foto: Ratih berdiri bersama rombongan di atas kapal. Laut di belakang mereka terlihat begitu tenang, begitu biru, seolah tak punya dosa. Langit tanpa awan. Matahari bersinar dengan angkuh.
Di bawah foto itu, sebuah keterangan tertulis: “Sudah berangkat. Lautnya cantik sekali. Jangan khawatir, ya. Nanti Ibu bawakan oleh-oleh.”
Aniya tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, napasnya terasa lebih lega. Ia membalas pesan itu dengan cepat.
“Hati-hati ya, Bu. Jangan jauh-jauh dari rombongan.”
Balasan datang beberapa detik kemudian: “Siap, Komandan.” disertai emoji tertawa.
Aniya terkekeh pelan. Ia tidak tahu bahwa itu adalah percakapan terakhir yang akan ia terima. Di kejauhan, kapal wisata itu terus melaju membelah laut yang tampak terlalu tenang. Terlalu jernih.
Seolah-olah lautan pagi itu sedang menahan napas, menyembunyikan sesuatu yang perlahan-lahan sedang mendekat dari balik garis cakrawala.
Bagian 3: Di Antara Tawa dan Ombak
Pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Matahari pagi bersinar angkuh di atas perairan utara Jakarta. Laut tampak begitu tenang, permukaannya berkilauan seperti hamparan kaca yang memantulkan cahaya langit tanpa cela.
Bagi sebagian besar penumpang, pagi itu terasa sempurna. Hari yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang. Hari untuk melupakan rutinitas. Hari untuk tertawa. Hari untuk berlibur.
Di atas kapal wisata yang membawa ratusan penumpang menuju Kepulauan Seribu, suasana begitu hidup. Tawa terdengar di mana-mana. Beberapa orang sibuk mematut diri di depan kamera, berswafoto dengan latar laut biru. Ada yang merekam video untuk dikirim kepada keluarga. Ada pula yang duduk santai menikmati semilir angin laut yang membelai wajah.
Ratih termasuk salah satunya. Ia berdiri di sisi lambung kapal bersama tiga sahabat pengajiannya: Bu Diah, Bu Nining, dan Bu Sri. Keempat perempuan itu sudah bersahabat lebih dari sepuluh tahun.
“Kita seperti anak muda lagi, ya,” canda Bu Nining sambil tertawa. “Kalau anak muda, jangan panggil saya nenek-nenek begini,” sahut Bu Sri. Tawa mereka pecah bersamaan.
Ratih ikut tertawa, namun ada binar syukur di matanya. Sudah lama ia tidak merasakan kebahagiaan sesederhana ini. Tidak ada pekerjaan rumah. Tidak ada tagihan. Tidak ada kesibukan yang merongrong. Hanya laut, angin, dan perjalanan.
“Pasti Aniya masih marah sama saya,” ujar Ratih tiba-tiba. Bu Diah tersenyum. “Masih soal kapal?” Ratih mengangguk lemah. “Iya.” “Dia sayang sama kamu, Ratih.” Ratih menatap cakrawala. “Aku tahu. Tapi lukanya… masih trauma.”
Tidak ada yang melanjutkan percakapan. Mereka semua tahu kisah itu. Tentang suami Ratih. Tentang kecelakaan laut bertahun-tahun silam. Tentang seorang anak kecil yang tumbuh tanpa ayah. Dan tentang luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
“Kadang saya merasa bersalah,” kata Ratih pelan. “Karena sampai sekarang Aniya masih hidup dalam ketakutan.” Bu Sri menggenggam bahunya erat. “Itu bukan salahmu.” Ratih tersenyum tipis. Namun jauh di dalam hatinya, ia tidak sepenuhnya percaya.
Sementara itu, di bagian belakang kapal, Arman—salah satu awak kapal—sedang berjalan melakukan pemantauan rutin. Tubuhnya tinggi, kulitnya gelap terbakar matahari. Baginya, laut bukan sekadar tempat kerja, tapi rumah. Ayahnya nelayan. Kakeknya nelayan. Hampir seluruh darahnya adalah air laut.
Namun pagi itu, ada sesuatu yang mengusik instingnya. Ia menoleh ke arah buritan. Pandangannya terkunci pada salah satu kotak penyimpanan di dekat ruang mesin. Dari celah ventilasi kecil, tampak asap tipis muncul sesaat lalu hilang ditelan angin.
Arman mengernyit. Mungkin hanya uap panas. Atau mungkin bukan apa-apa. Namun instingnya berteriak sebaliknya.
Ia melangkah mendekat. Tiba-tiba, seorang awak lain memanggilnya, “Bantu angkat galon dulu, Man.” Arman menoleh ragu. “Nanti.” “Penumpang minta air minum.” Arman kembali menatap ventilasi itu. Asap tadi sudah tak terlihat. Ia mengembuskan napas panjang, mungkin ia hanya terlalu lelah. Ia akhirnya berbalik dan mengikuti rekannya.
Tanpa ia sadari, keputusan kecil itu akan menghantuinya seumur hidup.
Di kampus, Aniya sedang berusaha fokus pada presentasi kelompok. Namun pikirannya melayang. Sesekali ia membuka aplikasi pesan. Masih belum ada kabar baru dari ibunya.
“Nia, kamu kenapa sih dari tadi?” bisik Salsa, sahabatnya. Aniya tersenyum tipis. “Ibuku lagi wisata.” “Terus?” “Aku khawatir.” “Dia bukan anak kecil, Nia.” Aniya mengangguk. Ia tahu. Namun rasa khawatir tidak selalu tunduk pada logika. Ia muncul tanpa alasan, tanpa kendali.
Pukul sepuluh lewat dua belas menit. Kapal wisata terus melaju. Angin laut bertiup lembut. Sebagian penumpang membuka bekal, sebagian lagi bernyanyi. Suasana dek kapal begitu hangat. Tidak ada yang memperhatikan Arman yang kembali berjalan cepat menuju area mesin.
Kali ini langkahnya lebih lebar. Instingnya tak bisa lagi diabaikan.
Saat tiba di depan ventilasi yang sama, jantungnya seolah berhenti berdetak. Asap tipis itu muncul lagi. Kali ini lebih jelas. Lebih pekat. Dan disertai aroma yang membuat darahnya membeku. Bau kabel terbakar.
Arman langsung membuka pintu akses ruang mesin. Gelombang udara panas menyergap wajahnya seperti tamparan. Ia mematung. Matanya membelalak.
“Ya Allah…”
Api kecil terlihat menjilat salah satu instalasi listrik. Belum besar. Namun cukup untuk membuat seluruh tubuhnya gemetar. Arman segera meraih alat pemadam api ringan (APAR) di dekat pintu. Tangannya bergerak cepat, terlatih. Namun, saat ia menarik alat itu, wajahnya pucat pasi. Jarum indikator tekanan berada di zona merah. Kosong.
Untuk pertama kalinya pagi itu, ketakutan yang sesungguhnya menyergap. Sementara di atas dek, para penumpang masih tertawa. Masih berfoto. Masih menikmati laut yang indah. Tanpa mengetahui bahwa beberapa meter di bawah kaki mereka, sesuatu sedang lahir. Sesuatu yang akan mengubah ratusan kehidupan hanya dalam hitungan menit.
Bagian 4: Lima Menit yang Mengubah Segalanya
Pukul 10.21 WIB. Aniya duduk di baris ketiga ruang kuliah. Telepon genggamnya bergetar di atas meja. Awalnya, ia mengabaikan. Mungkin hanya pesan dari ibunya. Atau notifikasi tugas kelompok yang membosankan.
Namun, ponsel itu bergetar lagi. Lalu lagi. Dan lagi. Beruntun. Agresif.
Aniya mengernyit. Nama yang tertera di layar bukan Ratih. Melainkan Bu Diah. Sahabat ibunya.
Jantung Aniya seketika berdesir hebat. Perasaan tidak nyaman yang merayap sejak pagi tadi tiba-tiba meledak menjadi ketakutan murni. Dengan tangan yang gemetar, ia menggeser tombol hijau.
“Halo, Bu?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara bising. Suara teriakan. Isak tangis. Dan suara seseorang meraung panik di latar belakang. “Asap! Asap dari belakang! Tolong!”
Dunia Aniya runtuh dalam sekejap. “Bu Diah?!” teriak Aniya, mengabaikan dosen dan teman-temannya yang menoleh. “Bu Diah, ada apa?!”
Tut. Tut. Tut. Sambungan terputus.
Di saat yang bersamaan, di pusat komunikasi pelabuhan, operator langsung menegakkan tubuh. “Posko Pelabuhan, silakan.”
Suara di seberang putus-putus. Terganggu oleh deru angin dan hiruk-pikuk kepanikan. “Kapal wisata… kebakaran… asap tebal… penumpang panik…”
Operator menoleh ke arah rekannya. Wajah mereka pucat pasi. Laporan itu diteruskan ke ruang kendali dalam hitungan detik.
Di lantai dua gedung administrasi, Kepala Pelabuhan Rahadian sedang merapikan dokumen saat pintu ruangannya terbuka paksa. “Pak Rahadian!” stafnya berlari masuk dengan napas memburu. “Laporan kebakaran kapal wisata di perairan utara.”
Rahadian berdiri begitu cepat hingga kursinya terpelanting ke belakang. “Status?” “Masih berkembang, Pak!” “Jumlah penumpang?” “Belum terverifikasi!”
Rahadian tidak membuang waktu. Ia menyambar telepon meja. “Hubungkan saya ke Syahbandar. Sekarang!”
Di kantor Syahbandar, Amran Putra baru saja memegang dokumen keberangkatan ketika telepon menjerit. Ia mengangkatnya sebelum dering kedua.
“Amran.” “Rahadian. Kapal wisata terbakar.”
Suara Rahadian yang berat dan datar sudah cukup menjelaskan skala bencana ini. “Lokasi?” “Masih diverifikasi. Segera kirim koordinat terakhir.” “Status siaga?” “Tingkatkan ke darurat penuh. Kita tidak punya waktu.”
Sambungan berakhir. Roda koordinasi berputar gila-gilaan.
Di ruang operasi, Jatmiko menatap layar radar dengan mata menyipit. Titik sinyal kapal wisata itu kini terlihat tidak stabil. Bergetar.
“Pak!” teriak seorang operator. “Laporan visual masuk! Asap sudah terlihat dari jarak beberapa mil!”
Ruangan mendadak hening. Kematian baru saja menampakkan wujudnya. Jika asap sudah terlihat dari kejauhan, artinya api tidak lagi bisa dikendalikan.
Pukul 10.29 WIB. Inspektur Bambang, Kepala Kepolisian Pelabuhan, menghentikan langkahnya di koridor. “Pak, insiden kapal wisata.” “Korban?” “Belum diketahui, tapi api aktif dan menyebar cepat.”
Bambang tidak butuh penjelasan lebih lanjut. Ia tahu statistik bencana transportasi laut. “Kerahkan seluruh personel. Buka pusat krisis. Sekarang!”
Lima belas menit pertama. Itu adalah segalanya. Jika terlambat, lautan akan menjadi saksi bisu bagi ratusan jiwa.
Sementara di kampus, Aniya berlari keluar kelas. Ponselnya panas karena terus-menerus melakukan panggilan ulang. Tidak aktif. Tidak tersambung. Tidak ada jawaban.
Ketakutan yang selama ini menghantui pikirannya kini menjelma menjadi kenyataan yang dingin dan tajam. Tangannya gemetar hebat. Napasnya memburu, tercekat di tenggorokan.
Pukul 10.41 WIB. Monitor di ruang koordinasi menampilkan peta yang kini ditandai dengan titik merah besar. Laporan visual masuk.
“Kami melihat asap hitam pekat membumbung tinggi,” suara operator terdengar serak.
Ruangan itu seketika menjadi makam bagi harapan. Tidak ada lagi perdebatan. Tidak ada lagi prosedur yang bertele-tele. Sebuah kapal yang membawa ratusan orang kini benar-benar menjadi bola api di tengah hamparan laut.
Rahadian menarik napas panjang, menatap peta dengan pandangan yang kosong namun tegas. “Mulai operasi penuh. Selamatkan sebanyak yang kita bisa.”
Di luar gedung, sirene kendaraan darurat mulai meraung, membelah kesunyian kota dengan nada duka yang mendesak. Ambulans berpacu, pemadam bergerak, dan di balik layar, Aniya terus berlari.
Ia berlari menuju dermaga. Menuju ketidakpastian. Menuju laut yang, untuk kedua kalinya dalam hidupnya, datang untuk merenggut separuh jiwanya.
Bagian 5: Antara Harapan dan Ketidakpastian
Pukul 11.17 WIB. Jakarta tetap berjalan. Matahari bersinar angkuh di atas gedung-gedung tinggi. Kendaraan tetap mengalir di jalanan, mahasiswa masih sibuk dengan dunianya, dan pedagang tetap menjajakan dagangannya. Kehidupan di kota ini tidak pernah berhenti hanya karena ada seseorang yang dunianya sedang runtuh.
Di dalam taksi yang melaju kencang menuju pelabuhan, Aniya duduk kaku. Tangannya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Puluhan panggilan telah ia lakukan. Ke nomor ibunya. Ke Bu Diah. Ke siapa saja yang ada dalam daftar rombongan wisata itu.
Hasilnya selalu sama. Tidak aktif. Tidak ada jawaban. Hanya nada tunggu yang menyiksa.
Setiap kali panggilan terputus, harapan Aniya ikut terpotong sedikit demi sedikit, menyisakan ruang kosong yang perlahan diisi oleh ketakutan.
“Mbak, saya percepat lagi?” tanya sopir taksi, suaranya pelan dan hati-hati. Ia melirik kaca spion, melihat wajah pucat gadis di belakangnya yang matanya mulai sembab.
Aniya hanya mengangguk tanpa suara. Tenggorokannya terasa tersumbat.
Pukul 11.43 WIB. Pelabuhan telah bermetamorfosis. Tempat yang biasanya menjadi titik temu para petualang, kini berubah menjadi pusat duka. Sirene ambulans melengking tanpa jeda, membelah udara panas siang itu. Mobil pemadam kebakaran berjajar di tepi dermaga, dan puluhan petugas berseragam hilir mudik membawa perlengkapan darurat.
Begitu turun dari taksi, Aniya berlari. Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menekan dinding dadanya.
“Mbak, tidak boleh masuk!” cegat seorang polisi di gerbang. “Ibu saya… Ibu saya di kapal itu, Pak!”
Polisi itu terdiam. Ketegasan di wajahnya luruh oleh tatapan putus asa gadis di depannya. “Silakan ke posko informasi, Mbak. Di sebelah sana.”
Aniya berlari ke arah tenda darurat yang berdiri pucat di bawah terik matahari. POSKO KRISIS DAN INFORMASI KELUARGA KORBAN. Tulisan itu terasa seperti palu godam yang menghantam ulu hatinya.
Di dalam tenda, suasana lebih menyesakkan. Ini bukan sekadar ruangan. Ini adalah ruang tunggu antara hidup dan mati. Tangisan tertahan. Isak yang pecah. Doa-doa yang dirapalkan dengan suara bergetar. Semua orang di sana sedang menatap layar televisi yang menyiarkan gambar asap hitam yang membumbung tinggi dari tengah laut.
Aniya mendekati meja registrasi. Petugas di sana tampak kelelahan, matanya merah.
“Nama penumpang?” “Ratih.” “Usia?” “Lima puluh tahun.”
Petugas itu mengetik dengan jemari yang lesu. Ia berhenti sejenak. Menatap layar, lalu menatap Aniya. Ada keraguan di matanya—sebuah tatapan yang paling ditakuti oleh siapa pun yang sedang menunggu kabar.
“Apakah nama ibu saya ada?” suara Aniya serak. “Kami… kami masih melakukan pencocokan data, Mbak.”
Belum tahu. Dua kata itu lebih tajam daripada pisau.
Di gedung utama pelabuhan, ruang koordinasi darurat bekerja tanpa henti. Kepala Pelabuhan Rahadian terus menatap peta digital. Laporan jumlah korban yang berhasil dievakuasi terus berubah. Delapan kritis. Dua puluh tujuh selamat. Angka-angka itu adalah nyawa.
Di tengah kebisingan itu, televisi di sudut tenda kembali menayangkan visual dari lokasi kejadian. Asap hitam pekat. Kapal yang setengah terbakar. Laut yang terlihat begitu asing dan kejam.
Aniya menunduk. Tangannya gemetar hebat. Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di pelabuhan, ia tidak lagi mampu menahan air mata. Ia menangis dalam diam, di tengah keramaian ratusan orang yang bernasib sama.
Tiba-tiba, pintu tenda terbuka lebar. Seorang petugas masuk membawa selembar daftar panjang. Semua orang di dalam tenda spontan berdiri. Harapan muncul serentak, menekan udara hingga terasa tipis.
Petugas itu menarik napas panjang. Daftar pertama korban yang berhasil diidentifikasi ada di tangannya.
Dan di luar sana, sirene ambulans kembali meraung, membawa gelombang baru ketakutan. Membawa jawaban yang sedang dicari oleh semua orang di tempat ini.
Bagian 6: Daftar Nama
Pukul 12.15 WIB. Suasana di dalam posko krisis berubah dalam sekejap. Jika sebelumnya hanya dipenuhi kecemasan, kini udara terasa jauh lebih berat. Lebih sesak.
Petugas yang membawa daftar identifikasi berdiri di depan ruangan dengan wajah tegang. Di tangannya terdapat beberapa lembar kertas yang menjadi pusat gravitasi bagi puluhan pasang mata. Tidak ada suara. Tidak ada percakapan. Hanya ada degup jantung yang berpacu di dada masing-masing orang.
“Mohon tenang,” suara petugas terdengar berat. “Saya akan membacakan nama-nama korban yang telah berhasil dievakuasi dan berada di rumah sakit rujukan.”
Aniya memejamkan mata. Ia menahan napas. Jantungnya berdetak begitu kencang, menabrak dinding rusuknya sendiri. Duk. Duk. Duk.
Nama pertama menggema. Lalu kedua. Ketiga. Keempat. Kelima.
Orang-orang mulai bergerak. Beberapa menangis lega. Beberapa lainnya berlari keluar posko menuju ambulans. Seorang ibu tua jatuh bersimpuh, memeluk udara setelah mendengar nama anaknya disebut. Namun, Aniya masih berdiri mematung. Menunggu satu nama. Hanya satu.
Daftar pertama selesai dibacakan. Nama Ratih tidak ada. Sesuatu runtuh di dalam dada Aniya. Mungkin ada daftar berikutnya, bisik batinnya, sebuah harapan yang semakin tipis.
Pukul 12.37 WIB. Daftar kedua tiba. Kapal SAR terus hilir-mudik membelah perairan. Helikopter pemantau berputar-putar di langit, suaranya terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu konsentrasi. Di posko, harapan kini perlahan berubah menjadi keputusasaan.
Nama demi nama kembali dibacakan. Aniya masih berdiri. Tangannya mencengkeram tas selempang begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Ratih…” bisiknya lirih, seolah nama itu adalah doa yang harus ia lafalkan terus-menerus.
Namun sekali lagi, daftar itu selesai. Nama Ratih tetap tidak ada. Kali ini, kaki Aniya kehilangan kekuatannya.
Pukul 13.10 WIB. Di ruang koordinasi utama, Rahadian menatap laporan terbaru dengan tatapan kosong. Setiap laporan baru adalah beban yang menekan pundaknya lebih dalam. Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan kasar.
“Pak!” stafnya masuk tergesa. “Ada keluarga korban yang memaksa masuk area evakuasi. Mahasiswi. Mencari ibunya.”
Rahadian berdiri. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah keluar.
Di balik barikade dermaga, Aniya sedang beradu argumen dengan petugas. Air matanya sudah tidak terbendung, mengalir deras membasahi pipinya yang kuyu. “Pak, tolong!” suaranya pecah. “Tolong cari ibu saya!”
Petugas mencoba menahannya, tapi Aniya tidak menyerah. “Bagaimana saya bisa tenang?!” teriaknya. “Saya sudah kehilangan ayah saya! Saya tidak mau kehilangan ibu saya juga!”
Suasana seketika hening. Suara teriakan Aniya yang penuh luka itu seolah menghentikan waktu. Rahadian berhenti beberapa meter dari kerumunan. Ia memperhatikan gadis itu—bukan sebagai keluarga korban, tapi sebagai seorang anak yang takut dunianya runtuh untuk kedua kalinya.
Rahadian melangkah mendekat. “Aniya?”
Gadis itu menoleh. Wajahnya pucat pasi, matanya merah bengkak. “Pak… tolong…”
“Kami sedang berusaha,” jawab Rahadian pelan. “Tolong bilang mereka jangan berhenti mencari,” suara Aniya bergetar. “Laut sudah mengambil ayah saya. Tolong… jangan biarkan laut mengambil ibu saya juga.”
Kalimat itu menggantung di udara, membuat petugas di sekitar menunduk dalam. Rahadian sendiri kehilangan kata-kata. Prosedur dan SOP seolah tidak ada artinya di depan duka yang begitu murni.
Tiba-tiba, napas Aniya memburu. Pandangannya berkunang-kunang. “Bu…” bisiknya sebelum dunianya menggelap. “Jangan pergi…”
Tubuh Aniya roboh ke depan. Rahadian bergerak cepat, namun beberapa petugas sudah lebih dulu menangkap tubuh gadis itu sebelum menghantam aspal. “Medis! Bawa tandu!”
Di tengah kekacauan itu, radio di tangan Rahadian menjerit. “Posko, kami menemukan kelompok korban baru di sektor pencarian timur.”
Rahadian menoleh ke radio, lalu ke arah Aniya yang terbaring lemah. “Berapa orang?” “Tujuh korban.” “Status?”
Jeda radio itu terasa selamanya. “Kami masih melakukan identifikasi.”
Rahadian menatap laut yang berkilauan di kejauhan. Di sana, di antara asap hitam dan ombak yang tak peduli, nasib Ratih sedang diperjuangkan.
Bagian 7: Sapu Tangan Bermotif Melati
Pukul 14.08 WIB. Ruang medis darurat di pelabuhan dipenuhi aroma antiseptik yang tajam dan suara derap langkah kaki yang terburu-buru. Aniya perlahan membuka matanya. Langit-langit tenda putih terlihat samar, berputar pelan di kepalanya yang terasa berat.
Ingatan kembali menghantamnya seperti gelombang pasang: telepon dari Bu Diah, asap hitam, kapal yang terbakar, dan ketidakpastian nasib ibunya.
“Ibu…” bisiknya parau. Air mata seketika mengalir, membasahi bantal tipis di bawah kepalanya.
Seorang petugas medis mendekat, menahan bahunya. “Mbak Aniya, jangan dipaksa bangun dulu.”
“Ibu saya mana?” Aniya mengabaikan rasa pusingnya. Namun, petugas itu terdiam. Tidak ada jawaban yang bisa diberikan, karena memang belum ada kepastian.
Di luar tenda, pelabuhan adalah lautan duka. Keluarga korban memenuhi area tunggu; sebagian mulai menunduk dalam kepasrahan, sebagian lagi masih menolak untuk menyerah pada takdir. Di salah satu sudut, seorang gadis remaja duduk terbungkus selimut tebal. Wajahnya pucat pasi, matanya kosong menatap lantai. Namanya Nadia, penyintas yang baru tiba dua jam lalu.
Saat Aniya akhirnya keluar dari ruang medis dengan langkah tertatih, ia kembali ke posko informasi. Rahadian, yang kebetulan melintas, menatapnya dengan raut khawatir. “Harusnya kamu istirahat.”
“Saya tidak bisa,” jawab Aniya tegas.
Tiba-tiba, seorang petugas menghampiri mereka. “Pak Rahadian, salah satu penyintas ingin memberikan sesuatu.”
“Kepada siapa?”
Petugas itu menunjuk Aniya. “Kepada Mbak ini.”
Beberapa menit kemudian, Aniya duduk berhadapan dengan Nadia. Remaja itu gemetar. Di genggamannya, terdapat sebuah benda kecil yang terlipat rapi. Saat Nadia perlahan mengulurkannya, dunia Aniya seakan berhenti berputar.
Itu adalah sapu tangan putih gading dengan sulaman bunga melati kecil di sudutnya.
Dunia Aniya runtuh. Ia ingat benda itu. Ia sendiri yang membelinya dua bulan lalu, hadiah untuk ulang tahun ibunya yang ke-50. Tangannya menutupi mulut, napasnya tercekat. “Itu… punya ibu saya,” bisiknya nyaris tak terdengar.
Nadia menangis tanpa suara, mengangguk pelan. “Aku… aku terakhir melihat beliau.”
Aniya mendengarkan. Ia tahu ini adalah bagian paling menyakitkan yang akan ia dengar, namun ia tidak bisa berpaling.
“Asap masuk ke dek atas,” Nadia mulai bercerita dengan suara yang retak. “Orang-orang panik, berdesakan, menangis. Aku terpisah dari rombonganku. Aku takut sekali.”
Nadia menarik napas, mencoba menata ingatannya. “Lalu, ada seorang ibu menghampiriku. Beliau memegang pundakku. Beliau tenang sekali, padahal di sekeliling kami api sudah menjilat langit-langit kapal.”
Aniya menggenggam sapu tangan itu erat-erat. Itu Ibu, batinnya. Itu cara Ibu.
“Beliau bilang padaku,” suara Nadia pecah, “‘Nak, jangan ikut berdesakan. Kalau di sini, kamu akan terjebak. Kamu harus lompat ke laut.’ Aku bilang aku takut. Lalu beliau memakaikan pelampung itu padaku. Beliau yang mengikat semuanya dengan tangan beliau sendiri.”
Aniya menutup mata. Ia bisa membayangkan tangan ibunya yang lembut, kini sibuk menyelamatkan nyawa orang asing di saat maut sudah berada di depan mata.
“Beliau menyuruhku melompat,” lanjut Nadia, air matanya jatuh ke pangkuan. “Aku tidak mau. Aku menangis. Lalu beliau mendorongku… perlahan, supaya aku berani. Saat aku muncul ke permukaan laut, aku melihat beliau masih berdiri di atas kapal. Beliau melambaikan tangan.”
Tidak ada suara lagi. Hanya isak tangis yang tertahan.
Rahadian, yang berdiri tak jauh dari mereka, menundukkan kepala. Di tengah kepanikan, di tengah api yang membakar segalanya, Ratih tetap memilih untuk menjadi “ibu”. Bagi anak orang lain, di saat ia sendiri sedang menghadapi ajal.
Aniya memeluk sapu tangan itu ke dadanya, menghirup aroma samar melati dan parfum yang sangat ia kenal. Kini, ia memiliki sesuatu yang lebih berharga dari sekadar laporan pencarian. Ia memiliki potongan terakhir dari jiwa ibunya.
Bahwa di tengah asap, di tengah maut, ibunya tetap menjadi cahaya.
Aniya meraih tangan Nadia, menggenggamnya kuat. “Terima kasih,” bisiknya. “Terima kasih sudah memberiku cerita terakhir tentang Ibu.”
Sore turun dengan perlahan di atas pelabuhan, membawa sisa-sisa kecemasan yang menggantung. Aniya kini sadar; harapan ibunya masih hidup mungkin memang semakin tipis, namun di satu sisi, ia baru saja menyadari bahwa ia memiliki seorang ibu yang sangat luar biasa.
Ia belum tahu apakah Ratih akan kembali, namun ia tahu, apa pun yang terjadi, ibunya tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia ini tanpa meninggalkan jejak kasih yang mendalam.
Bagian 8: Ombak yang Tak Lagi Sama
Malam turun perlahan di atas pelabuhan. Lampu-lampu sorot yang sejak siang menyala kini hanya memantulkan cahaya pucat di permukaan laut yang mulai tenang. Posko krisis masih berdiri. Ambulans masih datang dan pergi. Petugas masih bekerja. Namun, di balik kebisingan itu, sebuah kenyataan dingin mulai merayap: tidak semua yang hilang akan kembali.
Aniya masih duduk di bangku plastik yang sama. Tepat saat pengumuman terakhir dibacakan. Daftar korban kembali diperbarui. Ada yang ditemukan. Ada yang selamat. Ada yang dirawat. Dan ada yang… masih belum diketahui.
Ratih termasuk di dalamnya. Statusnya tidak berubah. Belum ditemukan.
Sebuah ruang kosong yang menggantung tanpa ujung. Di pangkuannya, sapu tangan bermotif melati itu masih tergenggam erat. Ia menempelkan kain kecil itu ke pipinya. Masih ada sisa kehangatan di sana. Sisa dari seseorang yang kini entah berada di mana.
Beberapa hari kemudian, Nadia datang. Pelukan dua orang asing yang dipersatukan oleh satu nama: Ratih. Perempuan yang mungkin telah mengorbankan napas terakhirnya demi menyelamatkan seorang anak yang bahkan tidak ia kenal.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti kabut. Pencarian terus dilakukan. Kapal patroli membelah laut siang dan malam. Penyelam turun ke kedalaman. Namun laut adalah penjaga rahasia yang paling setia. Sebagian korban ditemukan. Sebagian lainnya, termasuk Ratih, akhirnya masuk ke dalam daftar yang paling menyakitkan.
Korban hilang.
Tidak ada tangisan besar saat pengumuman itu. Air mata Aniya seolah sudah habis, mengering bersama harapan yang perlahan padam. Yang tersisa hanya sunyi. Sunyi yang panjang. Dan sunyi yang abadi.
Tujuh tahun berlalu. Luka itu tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya berubah bentuk. Menjadi sesuatu yang lebih tenang. Lebih dalam. Dan lebih diam.
Jakarta. Pukul 08.15 WIB. Hujan tipis membasahi halaman kantor pusat investigasi transportasi. Di lantai lima, seorang perempuan muda berjalan cepat menyusuri koridor. Langkahnya mantap. Tegas. Di dada kirinya, kartu identitas tersemat rapi: ANIYA RATNA PRAMESTI. Kepala Bagian Keselamatan Transportasi Laut.
Tujuh tahun telah mengubah banyak hal. Gadis yang dulu menangis histeris di pelabuhan, kini memimpin tim yang bertugas memastikan tragedi serupa tidak akan terulang.
Di ruang rapat, Aniya berdiri di depan layar presentasi. Tatapannya menyapu ruangan. Tenang. “Tidak ada perjalanan yang terlalu pendek untuk mengabaikan keselamatan,” suaranya terdengar jelas, memenuhi ruangan. “Tidak ada kapal yang terlalu dekat untuk mengabaikan prosedur.”
Ia bicara bukan sebagai pejabat. Ia bicara sebagai seseorang yang pernah kehilangan segalanya di atas air.
Rapat selesai dua jam kemudian. Aniya berdiri sendiri di dekat jendela, menatap langit Jakarta yang mendung. Di atas meja kerjanya, sebuah bingkai foto berdiri kokoh. Foto dirinya dan Ratih. Di sebelahnya, sapu tangan bermotif melati itu terlipat rapi. Sudah tua. Warnanya memudar. Namun selalu berada di sana.
Tok. Tok. Tok. “Masuk.”
Seorang staf muda muncul. “Bu Aniya, tim investigasi sudah hadir.” “Baik.”
Staf itu hendak berbalik, namun ia berhenti. “Bu, saya pernah membaca kisah Ibu di artikel keselamatan pelayaran. Kisah itu… membuat saya memilih bekerja di bidang ini.”
Aniya tersenyum. Senyum yang menyimpan ribuan kenangan. Setelah staf itu pergi, ia kembali menatap sapu tangan di mejanya. Perlahan, ia mengambilnya. Membuka lipatan yang sangat dikenalnya.
“Tujuh tahun, Bu…” bisiknya pelan. “Masih terasa seperti kemarin.”
Hujan di luar semakin deras. Namun kali ini, Aniya tidak menangis. Ia akhirnya memahami sesuatu. Laut memang mengambil banyak hal darinya. Ayahnya. Ibunya. Sebagian masa kecilnya.
Namun laut juga meninggalkan sebuah janji. Janji untuk menjaga mereka yang masih memiliki waktu untuk pulang. Janji untuk memastikan semakin sedikit anak yang harus menunggu di pelabuhan dengan hati yang hancur.
Aniya meletakkan kembali sapu tangan itu. Di luar sana, kapal-kapal terus berlayar. Ombak terus datang dan pergi. Badai akan selalu lahir suatu hari nanti.
Namun berkat mereka yang memilih belajar dari kehilangan, akan ada lebih banyak jiwa yang berhasil kembali ke dermaga. Bagi Aniya, itulah cara terbaik untuk mengenang Ratih. Bukan dengan terus tenggelam dalam duka. Melainkan dengan menjaga pengorbanan itu tetap hidup.
Karena beberapa orang memang tidak pernah kembali dari laut. Tetapi cinta, keberanian, dan keteladanan mereka… Akan terus berlayar, jauh melampaui cakrawala.
Tujuh Tahun yang Dicuri Laut
Tujuh tahun berlalu. Waktu bergerak pelan, layaknya ombak yang tak pernah berhenti membasuh pantai. Banyak hal telah berubah. Nama-nama korban tragedi itu kini hanya disebut dalam seminar keselamatan, laporan investigasi, atau peringatan tahunan yang dihadiri segelintir orang.
Sebagian luka telah mengering. Sebagian kenangan telah memudar. Namun tidak semuanya. Ada kehilangan yang tetap berdiam di dalam hati, meski tahun demi tahun terus berganti.
Sore itu, hujan baru saja reda di Kebayoran. Udara terasa sejuk; dedaunan masih menyimpan butiran air yang berkilau diterpa cahaya matahari senja. Sebuah mobil berhenti di depan rumah sederhana bercat hijau muda—rumah tua yang menjadi saksi bisu tawa, tangis, dan penantian yang tak kunjung usai.
Aniya turun dari kursi pengemudi. Di sampingnya, sang suami membantu mengeluarkan barang dari bagasi, sementara Alya, putri kecil mereka yang berusia empat tahun, sudah berlari memasuki halaman.
“Alya, jangan lari!” seru Aniya. Gadis kecil itu hanya tertawa riang. “Sebentar!” Lalu menghilang ke arah belakang rumah.
Aniya menggeleng sambil tersenyum. “Persis seperti kamu waktu kecil,” celetuk suaminya. Aniya hendak membalas, namun tiba-tiba suara riang dari halaman belakang menghentikan langkahnya. “Nenek! Yang besar dong!”
Aniya terdiam. Lalu menoleh ke arah suaminya dengan tatapan bingung. Mereka bergerak menuju halaman belakang. Melewati teras, melewati pintu samping, lalu berhenti tepat di bawah pohon mangga tua yang masih berdiri kokoh.
Di sana, di atas tikar sederhana, Alya sedang duduk sambil tertawa. Di hadapannya, terdapat sebuah kursi roda. Dan di atas kursi roda itu, duduk seorang perempuan tua. Rambutnya memutih, wajahnya dipenuhi garis usia, namun matanya—mata itu masih sama. Hangat dan teduh.
Perempuan itu sedang mengupas mangga dengan pisau kecil. “Alya dapat dua lagi,” suara itu lembut. Tawa yang begitu akrab. Tawa yang pernah hidup dalam setiap sudut rumah ini. Tawa yang selama tujuh tahun hanya mampu Aniya temui dalam mimpi.
Aniya berdiri mematung. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang hangat. Perempuan tua itu perlahan mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu. Senyum itu masih sama. Senyum yang pernah menguatkannya saat takut, senyum yang pernah menghapus air matanya, senyum yang dahulu nyaris hilang ditelan laut.
“Ani.” Suaranya lirih, seolah tujuh tahun hanyalah jeda yang singkat. “Kamu masih suka lupa makan siang kalau sedang bekerja.”
Aniya tidak mampu menahan diri. Air matanya jatuh. “Aku tidak lupa,” jawabnya dengan suara bergetar. “Kamu bohong.” “Aku serius.” “Kamu bohong.”
Mereka saling tersenyum. Seperti ibu dan anak yang waktu tak pernah bisa memisahkan.
Alya menatap mereka bergantian, lalu memeluk lengan kursi roda neneknya. “Nenek bela Alya!” Ratih terkekeh, tawa yang membuat dunia Aniya seakan kembali pada porosnya.
Di bawah pohon mangga itu, matahari perlahan turun menuju ufuk barat. Aniya duduk di samping kursi roda, menggenggam tangan ibunya. Hangat. Nyata.
Ratih memandang cucunya yang sedang mengejar kupu-kupu, lalu beralih menatap putrinya. Matanya berbinar damai. “Lihat,” bisiknya. “Indah ya.” Aniya mengangguk. “Indah sekali.”
Tujuh tahun lalu, dunia mengira laut telah mengambil Ratih. Namun laut tidak pernah benar-benar berhasil memilikinya. Karena pada akhirnya, ada cinta yang terlalu kuat untuk tenggelam. Dan ada orang-orang yang memang ditakdirkan untuk pulang ke dermaga yang tepat.
TAMAT.
Catatan Penulis: Cerita ini adalah karya fiksi dan tidak merujuk pada peristiwa nyata. Melalui kisah ini, saya mengajak kita semua untuk merefleksikan kembali pentingnya prosedur keselamatan di laut. Bagi kita yang hidup di wilayah kepulauan, keselamatan bukan sekadar formalitas, melainkan ikhtiar agar setiap perjalanan di atas laut selalu berakhir dengan kepulangan yang selamat ke pelukan keluarga.
Selain itu, tulisan ini adalah bentuk apresiasi setinggi-tingginya bagi seluruh relawan dan petugas penyelamat yang selalu siap siaga di garis depan. Semoga kisah Aniya menjadi pengingat bagi kita untuk senantiasa waspada dan saling menjaga, sehingga musibah dapat diminimalisir dan duka yang mendalam tidak perlu terulang kembali di masa depan.


