Kisah

Batas Buih I : Harapan Terakhir

×

Batas Buih I : Harapan Terakhir

Sebarkan artikel ini

Bagian 1: Gema Maghrib yang Terputus

Geladak KM Jangkar Muda bergetar hebat. Mesin diesel kuno di bawah dek menderu parah, memuntahkan asap hitam yang langsung disapu angin utara. Bau solar pekat bercampur keasinan air laut menguap di udara, menyesakkan dada lima belas pekerja proyek yang duduk berhimpit di atas tumpukan palet kayu dan sisa papan tripleks cor. Kapal motor berukuran dua belas meter itu benar-benar sarat muatan. Selain manusia, dek bawahnya dipenuhi sisa material bangunan—potongan besi perancah (scaffolding) dan pipa paralon yang bergeser berisik setiap kali haluan kapal menghantam ombak.

“Geser sedikit, Zak. Kakiku kram,” keluh Sapri sambil meluruskan kaki botnya yang penuh noda semen kering.

Sponsored Banner Pulauseribu.co.id

Zaki, pemuda sembilan belas tahun itu, bergeser canggung. Tangannya mendekap erat tas ransel kain yang kusam. “Maaf, Bang Sapri. Lambung kapal bergoyang terus, aku agak mual.”

“Minum air hangat ini,” Bang Rahmat menyodorkan sebuah termos plastik usang ke depan Zaki. Sebagai pekerja paling senior, wajah Rahmat yang dipenuhi garis keriput tampak tenang, meski matanya sesekali melirik ke arah langit yang mulai berubah warna. “Baru pertama kali ikut proyek di pulau privat, ya? Laut Kepulauan Seribu kalau sudah masuk musim angin utara memang begini. Anggap saja naik ayunan di pasar malam.”

Beberapa pekerja lain tertawa hambar, mencoba mengusir ketegangan yang mulai merayap di antara deru ombak yang kian tinggi.

Di balik bilik kemudi kayu yang sempit, Bang Sekur mencengkeram lingkaran setir kapal dengan kedua tangannya yang kapalan. Matanya lurus menembus kaca depan yang buram oleh percikan air garam. Di sampingnya, Bang Rahmat berdiri sambil berpegangan pada tiang sekat, memantau situasi.

“Kurang ke kiri sedikit, Kur. Ombak dari kanan makin tidak beraturan,” ujar Rahmat, suaranya setengah berteriak melawan bisingnya mesin.

Bang Sekur meludah ke luar jendela bilik kemudi. “Arus bawah lagi gila, Mat. Kalau aku terlalu buang ke kiri, kita bisa kandas di gugusan Karang Lebar. Muatan kita ini terlalu berat, mandor sialan itu memaksa semua sisa material harus diangkut sore ini juga tanpa peduli kapasitas.”

Rahmat mengangguk paham, wajahnya menggelap. Ia melirik jam tangan digitalnya yang retak. “Setengah jam lagi sampai Pulau Panggang?”

“Kalau mesin tua ini tidak mogok,” balas Sekur ketus. “Lihat langit di depan itu. Ungu pekat. Ini bukan hujan biasa, ini badai angin barat yang kesasar ke utara. Kita harus lewat sebelum malam benar-benar jatuh, atau kita terjebak di laut lepas tanpa lampu suar.”

Sapri tiba-tiba melongokkan kepalanya ke pintu bilik kemudi yang terbuka. “Bang Sekur, air mulai masuk dari celah lambung kanan. Tidak banyak, tapi cukup membuat lantai dek basah.”

“Ambil gayung dan ember di belakang, Pri! Suruh anak-anak kuras bergantian. Jangan biarkan air mengumpul di buritan!” perintah Sekur tegas tanpa menoleh sedikit pun dari setir.

Waktu bergerak semakin mencekam. Langit runtuh menjadi segelap jelaga. Warna ungu di cakrawala lenyap seketika, digantikan pekatnya malam yang datang terlalu cepat. Angin bertiup lebih kencang, membawa aroma garam yang tajam dan rasa dingin yang langsung menusuk pori-pori pakaian kerja mereka yang tipis.

Zaki mulai menggigil di sudut dek. Ia memeluk lututnya, menatap gulita laut di luar lambung kapal yang sesekali diterangi kilat abu-abu di kejauhan. “Bang Sapri, kalau kita sampai malam di tengah laut, apa aman?”

Sapri yang baru selesai menguras air menggunakan ember plastik mencoba tersenyum, meski jantungnya sendiri berdegup kencang. “Aman, Zak. Bang Sekur itu pelaut paling berpengalaman di sini. Dia tahu jalan pintas melewati celah pulau. Sebentar lagi kita pasti melihat lampu dermaga.”

Tepat di tengah kesunyian yang menegangkan itu, sayup-sayup gema azan magrib mengalun dari pelantang suara masjid di pulau pemukiman seberang. Suara sakral itu terdengar magis, naik turun diombang-ambingkan angin malam yang basah. Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Beberapa pekerja spontan menundukkan kepala, merapalkan doa keselamatan dalam hati, mencari secercah ketenangan di tengah ketidakpastian alam. Namun, gema suci itu tidak pernah mencapai kalimat terakhirnya. Tepat pada lafal Asyhadu alla ilaha illallah, alam seolah meledak.

“OMBAK TINGKAT! PEGANGAN SEMUA!!” teriakan Bang Sekur dari bilik kemudi terdengar histeris, memotong alunan azan.

Dari kegelapan di sisi kanan kapal, sebuah dinding air raksasa muncul entah dari mana. Tingginya melampaui atap kabin KM Jangkar Muda, meluncur cepat dengan buih putih yang bergemuruh mengerikan.

“Zak, pegang tiang! Pegang yang kuat!!” teriak Sapri panik. Ia melempar tubuhnya ke arah Zaki, mencoba meraih kerah baju pemuda itu.

Bang Sekur memutar kemudi dengan sisa seluruh tenaganya, mencoba mengarahkan haluan kapal untuk memotong ombak tegak lurus. Namun, perpaduan muatan besi yang berat di dek bawah dan hantaman arus samping membuat kapal kehilangan keseimbangan seketika. Kapal miring drastis hingga sudut yang mustahil untuk kembali tegak.

BRAAKKK!

Dinding kayu lambung kanan kapal hancur berkeping-keping saat ombak raksasa itu menggilas mereka tanpa ampun. Air laut dalam volume ribuan kubik tumpah ruah ke dalam dek, menghancurkan kaca kemudi, mematikan mesin diesel dalam satu sentakan dingin, dan membalikkan KM Jangkar Muda sepenuhnya ke dalam gulita samudra. Azan magrib lenyap, digantikan jerit takbir yang terputus dan kegelapan total yang menelan lima belas nyawa ke dalam batas buih yang mematikan.


Bagian 2: Menggapai Malam di Batas Buih

Air laut yang asin dan sedingin es langsung menyergap rongga dada Sapri. Tubuhnya terlempar ke dalam pusaran air yang gelap gulita, berputar-putar tanpa arah seperti kain yang digilas di dalam mesin. Pandangannya buta. Telinganya pengang oleh suara gemuruh air yang menggilas apa saja di sekelilingnya. Secara insting, kaki Sapri menendang-nendang liar ke atas, melawan beban celana jin dan sepatu bot kerjanya yang kini terasa seberat timah, menariknya ke dasar laut.

Ketika kepalanya berhasil memecah permukaan air, Sapri langsung terbatuk-batuk hebat, meraup oksigen sebanyak-banyaknya di tengah sabetan angin malam dan buih laut yang membakar mata.

“Tolong! Sapri! Di sebelah sini, Pri!” sebuah teriakan parau terdengar dari arah kiri, timbul tenggelam di antara deburan ombak.

Dalam keremangan cahaya kilat yang sesekali menyambar langit, Sapri melihat Bang Rahmat sedang memeluk sebuah jeriken plastik berukuran dua puluh liter. Di sekeliling mereka, kepala-kepala manusia muncul dan tenggelam layaknya gabus jala yang putus dari talinya.

“Bang Rahmat! Di mana yang lain?!” teriak Sapri, suaranya parau dan habis akibat menelan air asin.

“Cari benda apa saja yang mengapung, Pri! Jangan biarkan tanganmu kosong!” balas Rahmat sambil sekuat tenaga mengayuh kaki, menahan dada seorang pekerja lain agar tidak terseret arus bawah. “Zaki kelelep di dekat buritan tadi! Tolong dia, Pri!”

Sapri memutar tubuhnya, mencoba berenang melawan arus yang menariknya ke arah berlawanan. Matanya menyipit, menyisir permukaan air yang hitam pekat. Tepat di samping potongan tiang kapal yang patah, ia melihat selembar papan tripleks tebal bekas cetakan cor semen mengambang bebas. Sapri menerjang maju, mencakar air dengan sisa tenaga yang ada hingga jemarinya berhasil meraih pinggiran tripleks tersebut.

Cengkeraman tangan Sapri pada kayu kasar itu begitu kuat hingga kuku-kukunya pecah dan berdarah karena serpihan kayu yang tajam. Dinginnya air laut mulai merayap naik dari ujung jari kaki hingga ke sumsum tulangnya, memicu getaran hebat yang membuat rahangnya gemertak. Rasa perih dan dingin yang melumpuhkan itu mendadak menghantam kesadarannya, melempar ingatannya kembali ke daratan.

Di dalam kepalanya yang mulai pening, wajah Siti, istrinya, tergambar dengan begitu jernih. Sapri mengingat betul sore hari sebelum ia berangkat ke pulau proyek tiga minggu lalu. Siti berdiri di ujung dermaga beton Pulau Panggang, mengenakan daster kuning kesukaannya. Tangan kanannya yang halus tidak pernah lepas mengelus perutnya yang telah membesar, mengandung anak pertama mereka yang kini menginjak usia delapan bulan.

“Jangan lama-lama di pulau seberang, Bang. Sebentar lagi anak kita lahir. Aku takut kalau Abang tidak ada di sampingku saat mulesnya datang,” bisik Siti waktu itu dengan mata berkaca-kaca, sementara angin pantai memainkan ujung jilbabnya. Sapri mengingat bagaimana ia mengecup kening istrinya dan berjanji akan pulang membawa uang yang cukup untuk biaya persalinan di bidan puskesmas.

“Aku harus pulang, Siti… Aku tidak boleh mati di sini,” bisik Sapri lirih, air matanya luruh menyatu dengan ombak malam. Harapan Sapri terkunci pada satu janji: ia harus kembali ke dermaga itu, demi Siti, dan demi tangisan bayi yang belum sempat ia dengar langsung.

BYUURR!

Satu hantaman ombak menyamping kembali membuyarkan lamunan Sapri, membuatnya tersedak. Tepat di depannya, tubuh kurus Zaki mendadak muncul, bergerak liar mencoba menggapai apa saja sebelum kembali tenggelam. Pemuda sembilan belas tahun itu sudah kehilangan arah, matanya terbelalak penuh kepanikan.

“Zaki! Tenang, Zak! Jangan berontak!” teriak Sapri sambil menjulurkan ujung papan tripleks ke arah pemuda itu.

Zaki langsung menyambar papan itu dengan brutal, membuat posisi papan sempat miring dan hampir tenggelam. Sapri menahan beban tersebut dengan menendang kakinya lebih keras di dalam air.

“Pegang yang kuat, Zak! Jangan lepas!” bentak Sapri tepat di depan wajah Zaki yang sudah pucat pasi. Zaki hanya mengangguk lemah, bibirnya membiru, napasnya tersengal-sengal di antara sabetan air laut.

“Sapri! Bawa Zaki ke sini! Kita satukan kayunya!” seru Bang Rahmat dari jarak beberapa meter.

Rahmat berhasil mengumpulkan tiga pekerja lain di dekatnya, memeluk sebatang balok kayu kaso panjang yang hanyut dari dek atas. Dengan susah payah, mencakar gelombang yang terus datang menghantam, Sapri mendorong papan tripleksnya mendekati kelompok Rahmat. Tangan-tangan mereka yang basah dan gemetar saling menggapai dalam kegelapan, mencoba menyatukan puing-puing sisa kapal menjadi satu rakit darurat yang rapuh. Malam baru saja dimulai, dan di atas beberapa bilah kayu ini, lima belas nyawa mulai saling mengikat takdir mereka agar tidak tercerai-berai ditelan malam Kepulauan Seribu.


Bagian 3: Taruhan Dua Generasi

“Tetap berkumpul! Jangan ada yang memisahkan diri! Pegang tali ini, Dul!” Suara Bang Rahmat menggelegar, parau menembus deru angin malam yang kian beringas.

Air laut setinggi dada menghantam wajah Rahmat berulang kali, menyemburkan rasa asin yang membakar mata dan tenggorokannya. Lelaki berusia empat puluh lima tahun itu sekuat tenaga mempertahankan posisinya di ujung balok kayu kaso yang menjadi sumbu rakit darurat mereka. Menggunakan seutas tali nilon jala yang sempat ia sambar dari dek atas tepat sebelum kapal terbalik, Rahmat mencoba mengikat ujung tripleks cetakan cor milik Sapri ke balok kayu utama. Tangannya yang kasar, tebal, dan gemetar hebat karena hawa dingin bekerja secepat mungkin, meski beberapa kali simpul talinya terlepas akibat guncangan ombak yang tak menentu.

“Bang Rahmat, arus bawah menarik kakiku! Berat sekali, Bang!” teriak salah satu pekerja dari sisi belakang. Suaranya naik satu oktav penuh, dicekam kepanikan luar biasa karena merasa tubuhnya terus terseret ke bawah.

“Jaga jarak, jangan panik! Sapri, pegang pundak si Dul! Yang punya sarung, lepas sekarang! Ikat badan kalian ke kayu!” perintah Rahmat tanpa menoleh sedikit pun.

Matanya yang merah dan perih terus memindai lingkaran manusia di sekelilingnya dalam keremangan malam. Dari lima belas orang yang berada di kapal tadi, seluruhnya berhasil meraih puing-puing rakit darurat yang rapuh itu. Namun, posisi mereka sangat rentan. Mereka mengambang di atas palung laut yang dalam, dan jika gelombang besar kembali menghantam dari samping, ikatan tangan mereka yang mulai melemah bisa terlepas seketika.

BYUURR!

Satu gelombang susulan setinggi dua meter menghantam rakit darurat mereka dari depan. Rakit kayu itu terangkat tinggi, terombang-ambing di puncak riak, sebelum akhirnya terempas kasar kembali ke permukaan air yang hitam. Beberapa pekerja menjerit histeris, terbatuk-batuk sambil memuntahkan air laut yang sempat tertelan ke dalam kerongkongan mereka.

Saat itulah, sebuah malapetaka fisik menghantam Rahmat. Otot betis kiri lelaki tua itu mendadak mengeras, memendek, dan mengunci dengan rasa sakit yang luar biasa dahsyat. Kram akut. Efek dari terlalu lama berendam di dalam air laut yang sedingin es dan memaksa kakinya terus mengayuh tanpa henti tanpa jeda sedikit pun. Rasa sakitnya begitu menusuk hingga membuat pandangan mata Rahmat sempat menggelap sejenak. Cengkeraman jemarinya pada tali nilon melonggar, dan tubuhnya hampir saja merosot ke dalam gulita laut jika Sapri tidak bergerak cepat mencengkeram erat ban pinggang celana kerjanya.

“Bang Rahmat! Bertahan, Bang! Pegang kayu ini!” teriak Sapri, menahan tubuh Rahmat menggunakan bahunya sendiri.

Rahmat mengerang keras, giginya merapat rapat menahan nyeri hebat yang membakar kaki kirinya. Di tengah rasa sakit yang melumpuhkan itu, di dalam kegelapan malam lautan Kepulauan Seribu yang seolah tanpa akhir, kesadaran Rahmat justru terlempar jauh ke daratan, menuju sebuah rumah panggung kecil berdinding papan di sudut pemukiman.

Di bawah temaram lampu teplok yang seolah menolak padam ditiup angin pesisir, Rahmat melihat Ilham dan Nisa, dua buah hatinya. Ilham, si sulung, tampak tekun membolak-balik buku pelajaran sekolah menengahnya yang tebal di atas lantai tikar, sementara Nisa, adiknya, sibuk menulis di buku latihan dengan dahi yang berkerut dalam.

Setiap malam sebelum ia memutuskan berangkat mengambil proyek pembangunan resor mewah di pulau wisata privat itu, Rahmat selalu duduk di ambang pintu rumah, menatap punggung kedua anaknya dengan rasa bangga yang bercampur getir. Ia adalah seorang ayah tunggal sejak istrinya tiada. Rahmat masih mengingat betul kalimat yang selalu ia tanamkan pada mereka setiap kali mereka makan malam bersama:

“Kalian harus jadi orang berpendidikan, Nak. Jangan seperti Ayah yang seumur hidup kulitnya gosong disengat matahari, cuma jadi kuli panggul semen dan pencangkul batu di tanah orang lain. Biar Ayah saja yang pundaknya patah memikul beban, asal nanti kalian bisa duduk bekerja di dalam ruangan yang sejuk.”

Semua peluh, sabetan angin malam, cacian dari mandor proyek yang tidak sabaran, hingga keputusan untuk tetap tinggal di barak kerja yang pengap selama berminggu-minggu, semuanya ia lakukan hanya demi satu tujuan nyata: uang kelulusan Ilham tahun ini, dan uang pangkal kuliah untuk Nisa yang bercita-cita menjadi seorang guru.

Bayangan itu kemudian berganti menjadi sebuah visi yang begitu nyata di dalam kepala Rahmat yang mulai pening. Ia melihat dirinya sendiri mengenakan kemeja batik satu-satunya yang paling rapi, duduk tegak di dalam aula gedung wisuda yang megah di Jakarta. Di atas panggung, Ilham dan Nisa berjalan dengan langkah gagah, mengenakan toga hitam dengan samir beludru yang berkilat di bawah lampu sorot. Kedua anaknya tersenyum lebar, mata mereka menyisir barisan undangan, mencari-cari sosok ayah yang telah menukar sisa masa mudanya demi masa depan mereka.

“Aku tidak boleh tenggelam di sini… belum waktunya mereka kehilangan aku,” geram Rahmat di antara napasnya yang memburu dan memendek.

“Bang! Bang Rahmat! Dengar suaraku?!” Suara teriakan Sapri menyentak Rahmat kembali ke realita lautan yang kejam.

Rahmat membuka matanya yang basah. Rasa kram di betis kirinya belum hilang sepenuhnya, terasa seperti ditusuk-tusuk puluhan jarum panas di dalam air, namun mental bertahannya telah kembali utuh. Dengan raungan yang keluar dari lubuk tenggorokannya, Rahmat kembali menarik tali nilon jala yang sempat kendor, lalu melilitkannya kuat-kuat ke pergelangan tangannya sendiri agar tubuhnya tidak terlepas dari rakit meskipun nanti ia kehilangan kesadaran.

“Sapri! Pegang ujung kayu yang sebelah kanan! Dul, jangan lepas sarungmu! Kita tidak boleh kalah oleh air ini!” teriak Rahmat, suaranya kembali menemukan kekuatannya yang hilang, mengalahkan gemuruh badai malam.

Ia memandang ke arah empat belas pasang mata yang mengelilinginya—wajah-wajah muda yang ketakutan, para kepala keluarga yang merindukan jalan pulang. Di atas rakit darurat dari puing kayu yang terus berderit hebat dihantam gelombang, Rahmat tahu bahwa malam ini bukan lagi sekadar tentang bertahan hidup dari dinginnya laut. Ini adalah taruhan hidup mati antara sisa umur seorang ayah dan seluruh menara masa depan generasi yang sedang menunggunya pulang di dermaga seberang.


Bagian 4: Taruhan di Ujung Nyawa

Hawa dingin malam itu kian biadab, merayap masuk menusuk tulang di antara pukul dua atau tiga dini hari. Kegelapan di perairan Kepulauan Seribu seolah menjelma menjadi jubah kematian yang siap membungkus apa saja. Di sudut rakit darurat yang terus berderit ringkih, Zaki didera kepasrahan hebat. Tubuh kurusnya bergetar tanpa kendali, bersandar lemas pada sepotong balok kayu kaso tebal yang menjadi satu-satunya penopang dadanya agar tidak merosot ke dalam palung laut.

Namun, di tengah perjuangan melawan maut, kepanikan massal justru melahirkan monster di dalam diri manusia.

“Rakitnya tenggelam! Sisi ini terlalu berat! Kita bisa mati semua!” Oman, salah seorang pekerja bertubuh gempal, berteriak kesetanan. Matanya liar penuh ketakutan, kehilangan seluruh akal sehatnya.

Oman merasa bagian puing yang ia pegang mulai lapuk dan tenggelam akibat beban tubuhnya yang besar. Didorong rasa egois yang membutakan nurani, Oman merangkak brutal melintasi jalinan kayu, tidak peduli kakinya menginjak tangan pekerja lain. Ia mengincar balok kayu kokoh tempat Zaki bersandar.

“Lepas, Zak! Kayu ini buat aku! Badanmu ringan, cari yang lain!” bentak Oman kasar.

“Jangan, Bang Oman… Saya sudah tidak kuat pegangan,” bisik Zaki, suaranya parau nyaris habis, matanya menatap memohon.

Tanpa belas kasih, Oman menggunakan kekuatan fisiknya yang besar untuk menyentak dan merenggut paksa kayu sandaran Zaki. Sentakan kuat itu seketika memutuskan sisa daya cengkeram jemari Zaki yang sudah mati rasa akibat hipotermia.

“Oman! Apa-apaan kamu! Jangan gila!” teriak Sapri sekuat tenaga, mencoba menahan tubuh Oman, namun terlambat.

Zaki terlempar ke belakang, terlepas dari struktur rakit. Tubuh kurusnya langsung tenggelam ditelan ombak hitam yang bergulung. Pemuda sembilan belas tahun itu timbul tenggelam, tangannya menggapai-gapai udara dengan sisa tenaga yang nihil, bersiap melepas napas terakhirnya di dasar samudra.

Melihat hal itu, Bang Rahmat tidak tinggal diam. Naluri seorang pemimpin dan ayah di dalam dadanya bergolak hebat. Mengabaikan betis kirinya yang masih kaku akibat kram akut, Rahmat melepas pegangannya pada tali nilon rakit. Ia menerjang ombak, berenang sekuat tenaga membelah arus bawah yang ganas demi meraih kerah baju Zaki.

BYUURR!

Rahmat berhasil menangkap Zaki, menopang kepala pemuda itu di atas permukaan air. Namun, beban tubuh Zaki yang sudah pingsan ditambah kaki Rahmat yang kram membuat mereka berdua perlahan-lahan mulai terseret menjauh dari rakit darurat. Rahmat tahu, dengan kondisi fisiknya saat ini, mereka berdua akan karam bersama dalam hitungan menit. Hanya ada satu cara agar Zaki bisa tetap mengapung.

Dengan gerakan cepat dan penuh kepastian, Rahmat melepas gesper pelampung badan (life jacket) satu-satunya yang membungkus tubuh tuanya.

“Bang Rahmat! Apa yang Abang lakukan?! Jangan dilepas!” jerit Sapri dari atas rakit, menyadari keputusasaan dari tindakan seniornya itu.

Rahmat tidak membalas teriakan Sapri. Dengan napas yang memburu dan dada yang sesak oleh air asin yang mulai tertelan, ia memaksakan pelampung miliknya masuk ke tubuh Zaki, mengikat tali-talinya dengan erat ke dada pemuda itu. Begitu pelampung itu terpasang, tubuh Zaki otomatis terangkat, mengambang dengan aman di atas batas buih.

Sebaliknya, tanpa pelampung, tubuh Bang Rahmat seketika merosot dalam, menyisakan dada dan kepalanya yang berjuang keras tetap di atas air. Detik-detik sebelum kekuatannya benar-benar habis, Rahmat mencengkeram erat bahu Zaki, menatap lurus ke dalam mata pemuda itu dengan tatapan penuh tekanan emosional yang menyayat hati.

“Zaki… Dengar aku, Zak! Buka matamu!” raung Rahmat, suaranya bergetar hebat menahan tangis dan hawa dingin.

Zaki membuka matanya sedikit, menatap wajah Rahmat yang sudah pucat pasi di bawah temaram kilat langit.

“Kamu harus hidup, Zak… Bawa obat untuk ibumu di daratan,” bisik Rahmat, suaranya mulai melemah seiring tubuhnya yang kian berat ditarik arus bawah. Air matanya luruh, menyatu dengan keasinan air laut. “Dan… demi Allah, kalau kamu selamat… aku titip Ilham dan Nisa… Jaga kedua anakku, Zak. Bilang pada mereka, Ayah tidak pernah menyerah untuk mereka…”

“Bang Rahmat… Jangan pergi, Bang!” jerit Zaki, kesadarannya tersentak hebat oleh rasa bersalah dan kesedihan yang teramat dalam. Tangannya mencoba menggapai tangan Rahmat, namun jemarinya yang beku tidak mampu menahan beban.

Satu hantaman gelombang samping yang besar datang tanpa ampun. Cengkeraman tangan Rahmat terlepas. Tubuh lelaki tua yang telah mengorbankan seluruh sisa hidupnya itu seketika terseret arus bawah, lenyap ditelan kegelapan malam lautan Kepulauan Seribu yang dingin.

Saat tubuh tuanya mulai tenggelam semakin dalam ke dalam palung laut yang hitam dan sunyi, dinginnya air laut tiba-tiba tidak lagi terasa menyiksa. Tekanan air yang menghimpit dadanya perlahan melunak. Di dalam kegelapan mutlak bawah laut, sisa kesadaran Bang Rahmat memercikkan sebuah fatamorgana yang luar biasa terang dan hangat.

Laut yang gelap lenyap dari pandangannya.

Di dalam kepala Rahmat, ia tiba-tiba melihat Ilham, putra sulungnya, sedang berdiri tegak di atas podium sebuah aula yang megah. Ilham mengenakan toga wisuda lengkap, tersenyum begitu lebar dengan mata yang berkaca-kaca bangga, memegang sebuah ijazah sarjana yang selama ini selalu menjadi mimpi terbesar Rahmat. Ilham menatap ke arah kerumunan, seolah sedang mencari sosok ayahnya untuk berkata, “Ayah, Ilham berhasil.”

Belum sempat air mata kebahagiaan Rahmat tumpah, bayangan itu bergeser. Ia melihat Nisa, putri kecilnya, kini telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang anggun. Nisa berdiri di depan papan tulis sebuah ruang kelas yang bersih, mengenakan seragam guru yang rapi. Tangan halusnya sedang menuntun jemari anak-anak kecil dengan senyum penuh kesabaran dan kasih sayang—persis seperti mendiang ibunya. Nisa menoleh ke arah jendela kelas, tersenyum teduh seolah tahu sang ayah sedang memperhatikannya dari jauh.

Melihat semua bayangan itu, seulas senyum damai yang tulus terukir di bibir pucat Bang Rahmat yang mulai kehabisan oksigen. Rasa sakit, kram di kakinya, dan ketakutan akan maut lenyap seketika, digantikan oleh keikhlasan yang paripurna.

Dia tidak kalah oleh laut. Dia tahu, nyawa yang ia tukarkan malam ini adalah harga yang pantas untuk menebus masa depan indah Ilham dan Nisa yang baru saja ia saksikan. Rahmat percaya penuh, amanah itu kini ada di tangan Zaki yang aman.

Bersamaan dengan runtuhnya bayangan indah itu, Bang Rahmat melepaskan embusan napas terakhirnya. Gelembung-gelembung udara naik ke atas, pecah menjadi buih di permukaan, sementara raganya meluncur tenang masuk ke dalam pelukan abadi samudra luas.

“BANG RAHMAAAATTT!!”

Jeritan histeris Zaki dan Sapri membelah sunyinya malam di atas permukaan, tenggelam tak berdaya di bawah gemuruh badai yang mulai mereda. Di atas laut yang kejam, Zaki kini mengambang dengan pelampung milik Rahmat. Sebuah pelampung yang tidak hanya menahan tubuhnya agar tidak tenggelam, tetapi juga memikul beban amanah, air mata, dan cinta terbesar dari seorang ayah yang telah menukar nyawanya demi hari esok.


Bagian 5: Fajar yang Dinanti

Jarum jam khayali bergulir begitu lambat mendekati pukul lima pagi. Badai yang tadinya mengamuk biadab di atas perairan Kepulauan Seribu perlahan mulai melelahkan diri. Hujan deras telah reda, menyisakan kabut maritim kelabu yang tebal dan alunan ombak besar yang bergerak lambat. Laut perlahan-lahan beralih tenang, tampak begitu sunyi dan dingin—seolah-olah beberapa jam lalu lautan luas itu tidak baru saja menelan seorang pahlawan.

Namun di atas rakit darurat, keheningan yang tercipta terasa begitu pekat dan menyiksa.

Zaki terapung diam, tubuhnya tersangga dengan aman oleh life jacket jingga milik Bang Rahmat yang terikat erat di dadanya. Air matanya mengalir tanpa henti, membasahi pipi dan berbaur dengan keasinan air laut. Di dekatnya, Sapri masih memeluk ujung rakit dengan pandangan mata yang kosong, sementara jemarinya yang kaku menolak lepas dari bilah kayu.

Di sudut lain, Oman tertunduk dalam-dalam. Pria bertubuh gempal yang tadi bertindak egois itu kini gemetar hebat. Bukan hanya karena gigitan hipotermia yang menusuk tulang, melainkan karena rasa bersalah yang teramat besar mulai menggerogoti akal sehatnya. Pelampung dan kayu yang berhasil ia rebut kini terasa seperti beban dosa yang amat berat. Tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara; kehilangan Bang Rahmat meninggalkan lubang hitam yang menganga di dalam dada setiap pekerja yang tersisa.

Tepat saat semburat warna jingga pertama memecah kaki langit di ufuk timur, sebuah keajaiban yang mereka pertaruhkan dengan nyawa akhirnya datang menjemput.

WUUUSSSHH!

Berkas cahaya putih berkekuatan tinggi tiba-tiba membelah kabut fajar, menyapu permukaan air yang berombak. Bersamaan dengan itu, raungan mesin ganda berkapasitas besar dari kapal cepat (speedboat) penyelamat terdengar bergemuruh memecah kesunyian laut pagi.

“Toloongg… di sini…” suara Sapri terdengar sangat lirih, parau, dan nyaris habis. Ia mencoba mengangkat satu tangannya yang kaku untuk memberi tanda, namun tenaganya sudah terkuras habis.

Beruntung, sorotan lampu senter dari kapal penyelamat bergerak cekatan. Cahaya terang itu sempat melewati mereka sebelum akhirnya berbalik tajam dan mengunci tepat pada posisi rakit darurat dan tubuh Zaki yang mengambang.

“Ada korban di depan! Dekati rakit! Siapkan tali dan tandu!” Terdengar teriakan instruksi dari pengeras suara kapal rescue.

Proses evakuasi berjalan cepat namun dramatis. Beberapa petugas berpakaian pelampung oranye langsung melompat ke dalam air. Zaki menjadi orang pertama yang ditarik naik karena posisinya yang paling rentan terpisah dari rakit.

Saat tubuh kurusnya berhasil diangkat ke atas dek kapal yang kokoh dan hangat, petugas langsung membungkusnya dengan selimut wol tebal dan memasangkan masker oksigen. Namun, Zaki tidak merasakan kehangatan itu. Matanya yang bengkak menatap kosong ke arah hamparan laut yang perlahan mulai berubah warna menjadi biru cerah keemasan.

Di sebelahnya, Sapri yang baru saja dievakuasi langsung ambruk di atas lantai fiber kapal. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencengkeram kerah baju salah satu petugas sambil menangis histeris.

“Pak! Tolong cari Bang Rahmat! Cari dia, Pak! Dia hanyut di sana… dia lepas pelampungnya demi anak ini! Tolong cari dia!” Raungan tangis Sapri pecah, membelah keheningan pagi.

Petugas penyelamat hanya bisa saling berpandangan nanar dengan wajah penuh simpati. Sang kapten kapal menggeleng lemah ke arah laut lepas; mereka semua tahu, terseret arus bawah perairan sedalam itu di tengah badai malam hari jarang sekali memberikan kesempatan kedua untuk selamat.

Zaki menggenggam erat-erat pinggiran pelampung jingga yang masih melingkari tubuhnya. Pelampung ini terasa begitu berat, karena di dalamnya melekat sisa hembusan napas terakhir dan pengorbanan suci dari orang yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.

Kata-kata terakhir Bang Rahmat kembali bergaung, memukul telinga dan nuraninya dengan tekanan emosional yang teramat dahsyat.

“Jaga kedua anakku, Zak. Bilang pada mereka, Ayah tidak pernah menyerah untuk mereka…”

Air mata Zaki kembali luruh menetes di atas dek kapal. Fajar yang dinanti-nanti selama belasan jam di batas maut akhirnya benar-benar tiba, mengusir kegelapan dengan cahaya pagi yang begitu indah dan bersih. Namun, bagi Zaki, fajar ini bukan lagi sekadar tanda bahwa ia telah selamat dari maut.

Fajar ini adalah awal dari sebuah takdir baru yang harus ia pikul di atas pundak mudanya. Hari ini ia akan pulang ke daratan membawa obat kehidupan untuk ibunya, tetapi ia juga pulang dengan memikul sebuah janji suci: menghidupkan kembali separuh jiwa Bang Rahmat yang telah gugur, demi menjaga masa depan Ilham dan Nisa agar tidak pernah karam.


Air Mata di Atas Ufuk

Dua minggu telah berlalu sejak malam jahanam itu, namun bendera kuning masih berkibar lambat di tiang rumah panggung Pulau Panggang. Harapan untuk membawa pulang raga Bang Rahmat luruh sepenuhnya setelah tim SAR gabungan resmi menghentikan pencarian pada hari ketujuh. Laut utara Kepulauan Seribu menolak menyerahkan jasad sang pahlawan; ia telah memilih jalannya sendiri untuk bersemayam selamanya di dasar palung laut yang sunyi.

Bagi Ilham dan Nisa, ketiadaan jasad sang ayah adalah siksaan tanpa akhir. Tidak ada nisan untuk ditaburi bunga, tidak ada tanah yang bisa mereka dekap saat rindu mendera. Mereka hanya bisa berdiri di tepi dermaga, menatap hamparan air biru yang kini terasa begitu asing dan kejam.

Namun, bagi Zaki, takdir menyiapkan pukulan yang jauh lebih biadab.

Sore itu, dengan tubuh yang masih lemas dan langkah kaki yang pincang, Zaki berlari menyusuri jalan setapak pulau sambil mendekap erat kantong plastik berisi obat-obatan ibunya—obat yang ditebus dari upah dan taruhan nyawa di tengah badai. Pikirannya dipenuhi bayangan senyum sang ibu yang akan menyambutnya di ambang pintu.

Namun, begitu kakinya menginjak halaman rumah, langkah Zaki seketika terkunci.

Suara tangis para tetangga terdengar menyayat hati dari dalam rumah. Di ruang tengah yang temaram, tubuh ibunya sudah terbujur kaku di bawah kain jarik batik. Wanita paruh baya itu telah mengembuskan napas terakhirnya pada fajar yang sama saat Zaki dievakuasi oleh kapal penyelamat—tubuh ringkihnya kalah cepat oleh maut sebelum obat itu sempat menyentuh bibirnya.

PRRAAAKK!

Kantong obat di tangan Zaki jatuh berserakan di atas lantai papan. Pemuda sembilan belas tahun itu ambruk bersimpuh di samping jenazah ibunya. Dada Zaki terasa sesak luar biasa, terkoyak oleh rasa hampa yang teramat dalam. Dunia seolah runtuh seketika. Mengapa ia harus selamat dari amukan badai jika alasan utamanya untuk bertahan hidup justru telah pergi selamanya?

“Kalau kamu selamat… aku titip Ilham dan Nisa… Jaga kedua anakku, Zak…”

Suara serak Bang Rahmat di detik-detik terakhirnya kembali terngiang, bergaung laksana lonceng yang memecah keputusasaan Zaki. Pucuk amanah itu seketika terasa membakar dadanya. Zaki menyeka air matanya dengan kasar. Ia berdiri, lalu melangkah keluar rumah menuju kediaman Bang Rahmat.

Di beranda rumah mendiang Bang Rahmat, Ilham dan Nisa sedang duduk terpaku dengan mata yang bengkak. Zaki datang mendekat, lalu berlutut di depan kedua anak remaja yang kini telah yatim piatu itu. Di atas pangkuannya, Zaki meletakkan selembar life jacket jingga milik Bang Rahmat—satu-satunya “warisan” yang tersisa dari laut.

“Ibuku sudah tidak ada… dan jasad Ayah kalian tidak pernah kembali,” ucap Zaki, suaranya bergetar hebat menahan tangis yang kembali pecah. Ia memeluk Ilham dan Nisa dengan kedua tangannya yang masih dipenuhi luka goresan kayu rakit. “Tapi mulai hari ini, demi Allah… aku yang akan jadi kakak kalian. Aku yang akan memastikan menara masa depan kalian tidak akan pernah karam, seperti janji yang aku ucapkan pada Ayah di batas buih.”

Di bawah langit senja yang perlahan menggelap, tiga anak manusia yang disatukan oleh tragedi dan kehilangan itu saling berdekapan erat. Mereka tahu, badai malam itu telah merenggut segalanya, namun di atas puing-puing duka yang tersisa, sebuah ikatan keluarga yang baru justru baru saja lahir.

TAMAT


⚠️ DISCLAIMER

Kisah “Batas Buih” ini adalah fiksi belaka.

Seluruh nama tokoh, kapal, tempat, dan peristiwa di dalamnya merupakan hasil imajinasi penulis. Jika terdapat kesamaan dengan orang, kelompok, atau kejadian nyata di dunia medis maupun kehidupan sehari-hari, hal tersebut adalah kebetulan semata.

Kisah

Bagian 1: Jangan Pergi, Bu Dentang sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar nyaring, memecah sunyi di ruang…