Pukul 10.21 WIB. Aniya duduk di baris ketiga ruang kuliah. Telepon genggamnya bergetar di atas meja. Awalnya, ia mengabaikan. Mungkin hanya pesan dari ibunya. Atau notifikasi tugas kelompok yang membosankan.
Namun, ponsel itu bergetar lagi. Lalu lagi. Dan lagi. Beruntun. Agresif.
Aniya mengernyit. Nama yang tertera di layar bukan Ratih. Melainkan Bu Diah. Sahabat ibunya.
Jantung Aniya seketika berdesir hebat. Perasaan tidak nyaman yang merayap sejak pagi tadi tiba-tiba meledak menjadi ketakutan murni. Dengan tangan yang gemetar, ia menggeser tombol hijau.
“Halo, Bu?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara bising. Suara teriakan. Isak tangis. Dan suara seseorang meraung panik di latar belakang. “Asap! Asap dari belakang! Tolong!”
Dunia Aniya runtuh dalam sekejap. “Bu Diah?!” teriak Aniya, mengabaikan dosen dan teman-temannya yang menoleh. “Bu Diah, ada apa?!”
Tut. Tut. Tut. Sambungan terputus.
Di saat yang bersamaan, di pusat komunikasi pelabuhan, operator langsung menegakkan tubuh. “Posko Pelabuhan, silakan.”
Suara di seberang putus-putus. Terganggu oleh deru angin dan hiruk-pikuk kepanikan. “Kapal wisata… kebakaran… asap tebal… penumpang panik…”
Operator menoleh ke arah rekannya. Wajah mereka pucat pasi. Laporan itu diteruskan ke ruang kendali dalam hitungan detik.
Di lantai dua gedung administrasi, Kepala Pelabuhan Rahadian sedang merapikan dokumen saat pintu ruangannya terbuka paksa. “Pak Rahadian!” stafnya berlari masuk dengan napas memburu. “Laporan kebakaran kapal wisata di perairan utara.”
Rahadian berdiri begitu cepat hingga kursinya terpelanting ke belakang. “Status?” “Masih berkembang, Pak!” “Jumlah penumpang?” “Belum terverifikasi!”
Rahadian tidak membuang waktu. Ia menyambar telepon meja. “Hubungkan saya ke Syahbandar. Sekarang!”
Di kantor Syahbandar, Amran Putra baru saja memegang dokumen keberangkatan ketika telepon menjerit. Ia mengangkatnya sebelum dering kedua.
“Amran.” “Rahadian. Kapal wisata terbakar.”
Suara Rahadian yang berat dan datar sudah cukup menjelaskan skala bencana ini. “Lokasi?” “Masih diverifikasi. Segera kirim koordinat terakhir.” “Status siaga?” “Tingkatkan ke darurat penuh. Kita tidak punya waktu.”
Sambungan berakhir. Roda koordinasi berputar gila-gilaan.
Di ruang operasi, Jatmiko menatap layar radar dengan mata menyipit. Titik sinyal kapal wisata itu kini terlihat tidak stabil. Bergetar.
“Pak!” teriak seorang operator. “Laporan visual masuk! Asap sudah terlihat dari jarak beberapa mil!”
Ruangan mendadak hening. Kematian baru saja menampakkan wujudnya. Jika asap sudah terlihat dari kejauhan, artinya api tidak lagi bisa dikendalikan.
Pukul 10.29 WIB. Inspektur Bambang, Kepala Kepolisian Pelabuhan, menghentikan langkahnya di koridor. “Pak, insiden kapal wisata.” “Korban?” “Belum diketahui, tapi api aktif dan menyebar cepat.”
Bambang tidak butuh penjelasan lebih lanjut. Ia tahu statistik bencana transportasi laut. “Kerahkan seluruh personel. Buka pusat krisis. Sekarang!”
Lima belas menit pertama. Itu adalah segalanya. Jika terlambat, lautan akan menjadi saksi bisu bagi ratusan jiwa.
Sementara di kampus, Aniya berlari keluar kelas. Ponselnya panas karena terus-menerus melakukan panggilan ulang. Tidak aktif. Tidak tersambung. Tidak ada jawaban.
Ketakutan yang selama ini menghantui pikirannya kini menjelma menjadi kenyataan yang dingin dan tajam. Tangannya gemetar hebat. Napasnya memburu, tercekat di tenggorokan.
Pukul 10.41 WIB. Monitor di ruang koordinasi menampilkan peta yang kini ditandai dengan titik merah besar. Laporan visual masuk.
“Kami melihat asap hitam pekat membumbung tinggi,” suara operator terdengar serak.
Ruangan itu seketika menjadi makam bagi harapan. Tidak ada lagi perdebatan. Tidak ada lagi prosedur yang bertele-tele. Sebuah kapal yang membawa ratusan orang kini benar-benar menjadi bola api di tengah hamparan laut.
Rahadian menarik napas panjang, menatap peta dengan pandangan yang kosong namun tegas. “Mulai operasi penuh. Selamatkan sebanyak yang kita bisa.”
Di luar gedung, sirene kendaraan darurat mulai meraung, membelah kesunyian kota dengan nada duka yang mendesak. Ambulans berpacu, pemadam bergerak, dan di balik layar, Aniya terus berlari.
Ia berlari menuju dermaga. Menuju ketidakpastian. Menuju laut yang, untuk kedua kalinya dalam hidupnya, datang untuk merenggut separuh jiwanya.
*****
