Tujuh tahun berlalu. Waktu bergerak pelan, layaknya ombak yang tak pernah berhenti membasuh pantai. Banyak hal telah berubah. Nama-nama korban tragedi itu kini hanya disebut dalam seminar keselamatan, laporan investigasi, atau peringatan tahunan yang dihadiri segelintir orang.
Sebagian luka telah mengering. Sebagian kenangan telah memudar. Namun tidak semuanya. Ada kehilangan yang tetap berdiam di dalam hati, meski tahun demi tahun terus berganti.
Sore itu, hujan baru saja reda di Kebayoran. Udara terasa sejuk; dedaunan masih menyimpan butiran air yang berkilau diterpa cahaya matahari senja. Sebuah mobil berhenti di depan rumah sederhana bercat hijau muda—rumah tua yang menjadi saksi bisu tawa, tangis, dan penantian yang tak kunjung usai.
Aniya turun dari kursi pengemudi. Di sampingnya, sang suami membantu mengeluarkan barang dari bagasi, sementara Alya, putri kecil mereka yang berusia empat tahun, sudah berlari memasuki halaman.
“Alya, jangan lari!” seru Aniya. Gadis kecil itu hanya tertawa riang. “Sebentar!” Lalu menghilang ke arah belakang rumah.
Aniya menggeleng sambil tersenyum. “Persis seperti kamu waktu kecil,” celetuk suaminya. Aniya hendak membalas, namun tiba-tiba suara riang dari halaman belakang menghentikan langkahnya. “Nenek! Yang besar dong!”
Aniya terdiam. Lalu menoleh ke arah suaminya dengan tatapan bingung. Mereka bergerak menuju halaman belakang. Melewati teras, melewati pintu samping, lalu berhenti tepat di bawah pohon mangga tua yang masih berdiri kokoh.
Di sana, di atas tikar sederhana, Alya sedang duduk sambil tertawa. Di hadapannya, terdapat sebuah kursi roda. Dan di atas kursi roda itu, duduk seorang perempuan tua. Rambutnya memutih, wajahnya dipenuhi garis usia, namun matanya—mata itu masih sama. Hangat dan teduh.
Perempuan itu sedang mengupas mangga dengan pisau kecil. “Alya dapat dua lagi,” suara itu lembut. Tawa yang begitu akrab. Tawa yang pernah hidup dalam setiap sudut rumah ini. Tawa yang selama tujuh tahun hanya mampu Aniya temui dalam mimpi.
Aniya berdiri mematung. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang hangat. Perempuan tua itu perlahan mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu. Senyum itu masih sama. Senyum yang pernah menguatkannya saat takut, senyum yang pernah menghapus air matanya, senyum yang dahulu nyaris hilang ditelan laut.
“Ani.” Suaranya lirih, seolah tujuh tahun hanyalah jeda yang singkat. “Kamu masih suka lupa makan siang kalau sedang bekerja.”
Aniya tidak mampu menahan diri. Air matanya jatuh. “Aku tidak lupa,” jawabnya dengan suara bergetar. “Kamu bohong.” “Aku serius.” “Kamu bohong.”
Mereka saling tersenyum. Seperti ibu dan anak yang waktu tak pernah bisa memisahkan.
Alya menatap mereka bergantian, lalu memeluk lengan kursi roda neneknya. “Nenek bela Alya!” Ratih terkekeh, tawa yang membuat dunia Aniya seakan kembali pada porosnya.
Di bawah pohon mangga itu, matahari perlahan turun menuju ufuk barat. Aniya duduk di samping kursi roda, menggenggam tangan ibunya. Hangat. Nyata.
Ratih memandang cucunya yang sedang mengejar kupu-kupu, lalu beralih menatap putrinya. Matanya berbinar damai. “Lihat,” bisiknya. “Indah ya.” Aniya mengangguk. “Indah sekali.”
Tujuh tahun lalu, dunia mengira laut telah mengambil Ratih. Namun laut tidak pernah benar-benar berhasil memilikinya. Karena pada akhirnya, ada cinta yang terlalu kuat untuk tenggelam. Dan ada orang-orang yang memang ditakdirkan untuk pulang ke dermaga yang tepat.
TAMAT.
Catatan Penulis: Cerita ini adalah karya fiksi dan tidak merujuk pada peristiwa nyata. Melalui kisah ini, saya mengajak kita semua untuk merefleksikan kembali pentingnya prosedur keselamatan di laut. Bagi kita yang hidup di wilayah kepulauan, keselamatan bukan sekadar formalitas, melainkan ikhtiar agar setiap perjalanan di atas laut selalu berakhir dengan kepulangan yang selamat ke pelukan keluarga.
Selain itu, tulisan ini adalah bentuk apresiasi setinggi-tingginya bagi seluruh relawan dan petugas penyelamat yang selalu siap siaga di garis depan. Semoga kisah Aniya menjadi pengingat bagi kita untuk senantiasa waspada dan saling menjaga, sehingga musibah dapat diminimalisir dan duka yang mendalam tidak perlu terulang kembali di masa depan.
