Kisah  

Batas Buih 2 : Asap di Atas Laut

Malam turun perlahan di atas pelabuhan. Lampu-lampu sorot yang sejak siang menyala kini hanya memantulkan cahaya pucat di permukaan laut yang mulai tenang. Posko krisis masih berdiri. Ambulans masih datang dan pergi. Petugas masih bekerja. Namun, di balik kebisingan itu, sebuah kenyataan dingin mulai merayap: tidak semua yang hilang akan kembali.

Aniya masih duduk di bangku plastik yang sama. Tepat saat pengumuman terakhir dibacakan. Daftar korban kembali diperbarui. Ada yang ditemukan. Ada yang selamat. Ada yang dirawat. Dan ada yang… masih belum diketahui.

Ratih termasuk di dalamnya. Statusnya tidak berubah. Belum ditemukan.

Sebuah ruang kosong yang menggantung tanpa ujung. Di pangkuannya, sapu tangan bermotif melati itu masih tergenggam erat. Ia menempelkan kain kecil itu ke pipinya. Masih ada sisa kehangatan di sana. Sisa dari seseorang yang kini entah berada di mana.

Beberapa hari kemudian, Nadia datang. Pelukan dua orang asing yang dipersatukan oleh satu nama: Ratih. Perempuan yang mungkin telah mengorbankan napas terakhirnya demi menyelamatkan seorang anak yang bahkan tidak ia kenal.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti kabut. Pencarian terus dilakukan. Kapal patroli membelah laut siang dan malam. Penyelam turun ke kedalaman. Namun laut adalah penjaga rahasia yang paling setia. Sebagian korban ditemukan. Sebagian lainnya, termasuk Ratih, akhirnya masuk ke dalam daftar yang paling menyakitkan.

Korban hilang.

Tidak ada tangisan besar saat pengumuman itu. Air mata Aniya seolah sudah habis, mengering bersama harapan yang perlahan padam. Yang tersisa hanya sunyi. Sunyi yang panjang. Dan sunyi yang abadi.

Tujuh tahun berlalu. Luka itu tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya berubah bentuk. Menjadi sesuatu yang lebih tenang. Lebih dalam. Dan lebih diam.

Jakarta. Pukul 08.15 WIB. Hujan tipis membasahi halaman kantor pusat investigasi transportasi. Di lantai lima, seorang perempuan muda berjalan cepat menyusuri koridor. Langkahnya mantap. Tegas. Di dada kirinya, kartu identitas tersemat rapi: ANIYA RATNA PRAMESTI. Kepala Bagian Keselamatan Transportasi Laut.

Tujuh tahun telah mengubah banyak hal. Gadis yang dulu menangis histeris di pelabuhan, kini memimpin tim yang bertugas memastikan tragedi serupa tidak akan terulang.

Di ruang rapat, Aniya berdiri di depan layar presentasi. Tatapannya menyapu ruangan. Tenang. “Tidak ada perjalanan yang terlalu pendek untuk mengabaikan keselamatan,” suaranya terdengar jelas, memenuhi ruangan. “Tidak ada kapal yang terlalu dekat untuk mengabaikan prosedur.”

Ia bicara bukan sebagai pejabat. Ia bicara sebagai seseorang yang pernah kehilangan segalanya di atas air.

Rapat selesai dua jam kemudian. Aniya berdiri sendiri di dekat jendela, menatap langit Jakarta yang mendung. Di atas meja kerjanya, sebuah bingkai foto berdiri kokoh. Foto dirinya dan Ratih. Di sebelahnya, sapu tangan bermotif melati itu terlipat rapi. Sudah tua. Warnanya memudar. Namun selalu berada di sana.

Tok. Tok. Tok. “Masuk.”

Seorang staf muda muncul. “Bu Aniya, tim investigasi sudah hadir.” “Baik.”

Staf itu hendak berbalik, namun ia berhenti. “Bu, saya pernah membaca kisah Ibu di artikel keselamatan pelayaran. Kisah itu… membuat saya memilih bekerja di bidang ini.”

Aniya tersenyum. Senyum yang menyimpan ribuan kenangan. Setelah staf itu pergi, ia kembali menatap sapu tangan di mejanya. Perlahan, ia mengambilnya. Membuka lipatan yang sangat dikenalnya.

“Tujuh tahun, Bu…” bisiknya pelan. “Masih terasa seperti kemarin.”

Hujan di luar semakin deras. Namun kali ini, Aniya tidak menangis. Ia akhirnya memahami sesuatu. Laut memang mengambil banyak hal darinya. Ayahnya. Ibunya. Sebagian masa kecilnya.

Namun laut juga meninggalkan sebuah janji. Janji untuk menjaga mereka yang masih memiliki waktu untuk pulang. Janji untuk memastikan semakin sedikit anak yang harus menunggu di pelabuhan dengan hati yang hancur.

Aniya meletakkan kembali sapu tangan itu. Di luar sana, kapal-kapal terus berlayar. Ombak terus datang dan pergi. Badai akan selalu lahir suatu hari nanti.

Namun berkat mereka yang memilih belajar dari kehilangan, akan ada lebih banyak jiwa yang berhasil kembali ke dermaga. Bagi Aniya, itulah cara terbaik untuk mengenang Ratih. Bukan dengan terus tenggelam dalam duka. Melainkan dengan menjaga pengorbanan itu tetap hidup.

Karena beberapa orang memang tidak pernah kembali dari laut. Tetapi cinta, keberanian, dan keteladanan mereka… Akan terus berlayar, jauh melampaui cakrawala.

*****

Editor: Sagara Ahmad
Exit mobile version