Kepulauan Seribu selama ini dikenal sebagai beranda bahari Jakarta. Gugusan pulau yang menawarkan pantai berpasir putih, laut yang jernih, serta ekosistem bawah laut yang memikat telah lama menjadi tujuan wisata domestik maupun mancanegara. Namun di balik pesona tersebut, tersimpan ironi yang belum sepenuhnya terpecahkan.
Sebagian pulau resort masih bertumpu pada pembangkit listrik berbahan bakar diesel dengan biaya operasional tinggi, pasokan energi yang terbatas, dan ketergantungan pada distribusi bahan bakar melalui jalur laut. Dalam kondisi seperti itu, sulit mengharapkan sektor pariwisata tumbuh secara optimal.
Langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama PLN membangun jaringan kabel listrik bawah laut menuju pulau-pulau resort patut diapresiasi sebagai fondasi pembangunan jangka panjang. Beberapa pulau telah memperoleh sambungan listrik, sementara pulau lainnya masih menunggu proses lanjutan. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah mulai melihat energi sebagai infrastruktur strategis bagi pengembangan pariwisata, bukan sekadar layanan dasar.
Namun, listrik tidak boleh dipahami sebagai tujuan akhir pembangunan. Listrik hanyalah pintu yang membuka peluang. Di balik jaringan kabel bawah laut, sesungguhnya tersimpan harapan yang jauh lebih besar: meningkatnya kepercayaan investor, tumbuhnya usaha pariwisata, lahirnya lapangan kerja baru, serta bergeraknya roda ekonomi Kepulauan Seribu secara lebih berkelanjutan.
Selama bertahun-tahun, biaya operasional yang tinggi menjadi salah satu tantangan bagi pengelola resort. Penggunaan genset memerlukan pasokan bahan bakar yang rutin, biaya perawatan yang tidak kecil, dan kapasitas listrik yang sering kali membatasi pengembangan fasilitas.
Ketika pasokan listrik lebih stabil, ruang untuk meningkatkan kualitas layanan menjadi semakin terbuka. Pengelola dapat mengembangkan fasilitas yang lebih modern, meningkatkan kenyamanan tamu, dan memperpanjang jam operasional berbagai layanan pendukung.
Dampaknya tidak berhenti pada sektor perhotelan. Resort yang berkembang akan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja. Mulai dari staf operasional, petugas kebersihan, teknisi, pemandu wisata, instruktur olahraga air, koki, awak kapal, petugas keamanan, hingga tenaga administrasi.
