Mengapa Putra-Putri Asli Kepulauan Seribu Masih Minim di Abnon?

Foto: Ilustrasi
EDITORIAL BPSNet
“Jangan sampai suatu hari nanti anak-anak pulau hanya menjadi penonton ketika daerahnya sendiri sedang mencari wajah terbaiknya.”
Kepulauan Seribu tidak kekurangan generasi muda berbakat. Yang dibutuhkan adalah panggung yang benar-benar memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh, mengabdi, dan menjadi representasi daerahnya sendiri.

Setiap tahun, Pemilihan Abang None (Abnon) Jakarta Kepulauan Seribu kembali hadir dengan kemasan yang semakin menarik. Seleksi berlangsung ketat, pembekalan digelar berhari-hari, malam final disiapkan megah, dan sepasang pemenang akhirnya dinobatkan sebagai wajah baru Kepulauan Seribu. Namun, di balik kemeriahan itu, ada satu pertanyaan yang patut dijawab bersama: mengapa putra-putri asli Kepulauan Seribu masih terasa minim tampil sebagai representasi daerahnya sendiri?

Pertanyaan ini bukan dimaksudkan untuk meragukan kualitas para finalis maupun pemenang. Mereka yang berhasil lolos tentu telah melewati proses seleksi yang objektif. Namun, ketika sebuah ajang mengusung nama Kepulauan Seribu, publik berhak berharap panggung tersebut benar-benar menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda yang lahir, besar, dan memahami denyut kehidupan masyarakat pulau.

Selama hampir satu dekade terakhir, narasi yang mengiringi penyelenggaraan Abnon relatif tidak banyak berubah. Setiap tahun masyarakat disuguhi proses seleksi, pembekalan, malam keakraban, unjuk bakat, hingga malam final. Rangkaian itu memang penting sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta. Akan tetapi, yang justru jarang terdengar adalah cerita tentang kiprah para alumni setelah selempang dilepas.

Publik hampir tidak pernah memperoleh laporan mengenai bagaimana para Abnon berkontribusi setelah masa tugas berakhir. Berapa banyak yang masih aktif mempromosikan pariwisata Kepulauan Seribu? Berapa yang mendampingi UMKM lokal? Berapa yang terlibat dalam kegiatan konservasi lingkungan, pendidikan, atau pemberdayaan masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan ini layak diajukan karena program tersebut menggunakan sumber daya publik dan membawa nama daerah.

Pesan yang disampaikan Sekretaris Kabupaten Kepulauan Seribu, Tri Indrawan, saat membuka Malam Keakraban Abnon 2026 sejatinya menjadi refleksi penting. Ia mengingatkan agar Abnon tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan pengabdian. Pernyataan itu patut diapresiasi karena menunjukkan kesadaran bahwa ukuran keberhasilan sebuah program tidak cukup dinilai dari kemeriahan panggung, tetapi dari manfaat yang dirasakan masyarakat.

Exit mobile version