Mengapa Putra-Putri Asli Kepulauan Seribu Masih Minim di Abnon?

Foto: Ilustrasi

Persoalan berikutnya menyangkut representasi. Kepulauan Seribu memiliki karakter yang berbeda dibanding wilayah lain di Jakarta. Kehidupan masyarakatnya dibentuk oleh laut, cuaca, pelabuhan, nelayan, wisata bahari, hingga budaya pesisir yang khas. Anak-anak muda yang tumbuh di pulau tentu memiliki pengalaman hidup yang tidak dimiliki mereka yang hanya mengenal Kepulauan Seribu dari kunjungan sesekali.

Karena itu, kehadiran lebih banyak putra-putri asli Kepulauan Seribu dalam ajang Abnon bukan sekadar persoalan kuota atau asal domisili. Ini menyangkut autentisitas. Seorang duta daerah idealnya mampu menceritakan daerahnya bukan hanya melalui materi pembekalan, tetapi melalui pengalaman hidup yang benar-benar ia rasakan.

Tentu tidak ada yang salah apabila peserta berasal dari berbagai latar belakang selama memenuhi persyaratan administrasi. Ajang ini harus tetap terbuka dan inklusif. Namun, apabila dari tahun ke tahun partisipasi generasi muda asli pulau belum dominan, maka kondisi tersebut patut dievaluasi. Apakah informasi mengenai seleksi sudah menjangkau seluruh pulau berpenduduk? Apakah pembinaan telah dilakukan secara merata? Atau justru masih ada hambatan yang membuat anak-anak pulau enggan tampil?

Di sinilah tantangan sebenarnya. Jangan sampai Abnon hanya menjadi panggung bagi mereka yang sejak awal telah memiliki akses lebih baik terhadap pendidikan, pelatihan, atau jejaring di daratan. Kepulauan Seribu menyimpan banyak talenta muda yang tidak kalah cerdas, komunikatif, dan memiliki kepedulian terhadap daerahnya. Yang mereka butuhkan sering kali hanyalah kesempatan, pendampingan, dan kepercayaan diri.

Lebih jauh lagi, indikator keberhasilan Abnon juga perlu diperbarui. Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada siapa yang menjadi juara. Padahal yang jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan para juara setelah itu. Selempang seharusnya menjadi awal perjalanan pengabdian, bukan garis finis sebuah kompetisi.

Sudah saatnya Abnon diposisikan sebagai laboratorium kepemimpinan generasi muda Kepulauan Seribu. Para finalis tidak hanya dilatih berbicara di depan publik, tetapi juga didorong menjadi penggerak lingkungan, pendamping UMKM, duta literasi, relawan konservasi, hingga motor promosi budaya pesisir. Dengan begitu, masyarakat dapat melihat manfaat nyata dari program ini.

Lebih penting lagi, penyelenggara perlu membangun sistem yang menjaga kesinambungan peran alumni. Selama ini publik lebih mengenal pemenang pada malam final, tetapi nyaris tidak mengetahui kiprah mereka beberapa tahun kemudian. Padahal jejaring alumni dapat menjadi kekuatan besar dalam mendukung promosi daerah apabila dikelola secara serius.

Exit mobile version