Realitas kehidupan nelayan di Kepulauan Seribu semakin memprihatinkan. Mereka seakan terjebak dalam lingkaran ketidakpastian—terus bertahan dengan kondisi yang semakin sulit, tetapi juga tidak memiliki banyak pilihan lain. Di tengah gempuran modernisasi dan perubahan iklim, nasib mereka bak ‘hidup segan, mati tak mau.’
Salah satu faktor utama yang membuat kehidupan nelayan semakin sulit adalah menurunnya hasil tangkapan. Overfishing dan rusaknya ekosistem laut akibat aktivitas manusia menyebabkan jumlah ikan di perairan Kepulauan Seribu semakin berkurang. Dulu, melaut sehari saja bisa membawa pulang tangkapan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kini, berhari-hari di laut pun belum tentu menghasilkan yang sepadan.
Di sisi lain, biaya operasional semakin membebani para nelayan. Harga bahan bakar solar yang terus naik membuat mereka harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk melaut. Sementara itu, harga jual ikan di pasaran tidak mengalami kenaikan yang signifikan, bahkan kerap anjlok akibat permainan tengkulak. Akibatnya, keuntungan yang diperoleh semakin kecil, bahkan tidak jarang justru merugi.
Bukan hanya faktor ekonomi, tetapi juga kebijakan pemerintah yang kerap tidak berpihak pada nelayan kecil. Regulasi penangkapan ikan yang semakin ketat, larangan penggunaan alat tangkap tertentu, hingga kebijakan zonasi laut yang kurang mempertimbangkan kondisi nelayan tradisional justru semakin mempersempit ruang gerak mereka. Alih-alih membantu, kebijakan ini sering kali justru menjadi beban tambahan.
Belum lagi dampak perubahan iklim yang semakin nyata dirasakan. Cuaca ekstrem dan angin kencang semakin sering terjadi, membuat para nelayan tidak bisa melaut selama berhari-hari. Ketika mereka tidak melaut, berarti tidak ada penghasilan. Ini menjadi masalah besar bagi keluarga nelayan yang sepenuhnya bergantung pada hasil laut untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Persoalan lain yang tak kalah krusial adalah kurangnya regenerasi nelayan. Anak-anak muda di Kepulauan Seribu semakin enggan meneruskan profesi ini. Mereka melihat bagaimana orang tua mereka berjuang mati-matian tetapi tetap hidup dalam keterbatasan. Pendidikan yang minim dan kurangnya keterampilan di luar sektor perikanan juga membuat mereka sulit mencari alternatif pekerjaan yang lebih menjanjikan.
Solusi tentu harus segera dicarikan. Pemerintah tidak bisa hanya berpangku tangan dan mengeluarkan kebijakan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap nelayan. Perlu ada program subsidi bahan bakar bagi nelayan kecil, serta kebijakan harga jual ikan yang lebih adil agar mereka bisa mendapatkan keuntungan yang layak.
Selain itu, pendampingan dan edukasi tentang teknik perikanan yang lebih ramah lingkungan juga harus diperkuat. Pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan bukan hanya untuk menjaga ekosistem, tetapi juga untuk memastikan nelayan tetap bisa melaut dalam jangka panjang. Peran akademisi dan lembaga penelitian dalam memberikan solusi berbasis sains sangat diperlukan di sini.
Tidak kalah penting, pemerintah harus menciptakan alternatif mata pencaharian bagi nelayan yang sudah tidak bisa lagi bergantung pada laut. Pengembangan sektor wisata bahari, budidaya perikanan yang lebih modern, serta pelatihan keterampilan di sektor lain harus mulai digalakkan agar mereka tidak terjebak dalam siklus kemiskinan yang terus berulang.
Selain itu, akses nelayan terhadap modal dan teknologi juga perlu diperhatikan. Kredit usaha nelayan dengan bunga rendah, bantuan peralatan tangkap yang lebih efisien, serta pemanfaatan teknologi dalam pemasaran hasil tangkapan bisa menjadi solusi agar mereka bisa lebih berdaya saing di era modern ini.
Nelayan di Kepulauan Seribu tidak boleh terus dibiarkan dalam kondisi ‘hidup segan, mati tak mau.’ Mereka adalah pilar utama dalam ketahanan pangan laut Indonesia, dan sudah sepatutnya mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat. Tanpa kebijakan yang tepat dan intervensi yang konkret, profesi nelayan di Kepulauan Seribu bisa saja tinggal sejarah.
Langkah perbaikan harus dilakukan segera. Jika tidak, Kepulauan Seribu yang dahulu dikenal sebagai surga bagi nelayan tradisional hanya akan menjadi kenangan. Ironisnya, di tengah kekayaan laut yang melimpah, justru para nelayan yang paling menderita. Apakah kita akan terus membiarkan mereka berjuang sendirian?
[poll id=”3″]
Dukung Konten Berkualitas
Jika artikel ini bermanfaat bagi Anda, pertimbangkan untuk memberikan donasi melalui e-wallet.
Gunakan nomor: 082118113019 untuk melakukan donasi melalui aplikasi e-wallet pilihan Anda.












