*Tips

PENTINGNYA DETEKSI DINI PERKEMBANGAN ANAK USIA DI BAWAH 5 TAHUN

Avatar photo
77
×

PENTINGNYA DETEKSI DINI PERKEMBANGAN ANAK USIA DI BAWAH 5 TAHUN

Sebarkan artikel ini

Penulis : Esty Arista Sari, M.Psi, Psikolog

Istimewa

Masa anak usia dini, khususnya di bawah 5 tahun, merupakan periode emas (golden age) dalam perkembangan manusia. Pada tahap ini, pertumbuhan fisik, kognitif, bahasa, sosial, dan emosional berlangsung sangat pesat. Menurut Santrock, masa kanak-kanak awal pada usia 2-5 tahun merupakan periode dimana kemampuan motorik baik kasar maupun halus, perkembangan bahasa, social- emosi dan pemahaman kognitif pra-operasional berkembang dengan pesat.

Anak menjadi lebih mandiri, aktif bermain, mulai bersosialisasi, mengembangkan imajinasi kreatif, dan memahami moral dasar untuk kesiapan menuju jenjang sekolah. Oleh karena itu, deteksi dini terhadap berbagai aspek perkembangan anak menjadi hal yang sangat penting dilakukan sejak usia dini untuk memastikan tumbuh kembang anak berjalan secara optimal.

Deteksi dini adalah proses mengidentifikasi kemungkinan adanya gangguan atau keterlambatan perkembangan pada anak yang dilakukan sejak awal tahap perkembangan anak. Salah satu alasan utama pentingnya deteksi dini adalah karena otak anak-anak pada usia dini memiliki plastisitas yang tinggi.

Hal ini dapat diartikan bila otak anak-anak sangat fleksibel sehingga mudah dibentuk dan dipengaruhi oleh stimulasi yang diberikan lingkungan. Jika terdapat keterlambatan, seperti dalam berbicara, motorik, atau interaksi sosial, intervensi yang dilakukan lebih awal akan memberikan hasil yang jauh lebih efektif dibandingkan jika dilakukan pada usia yang lebih besar.

Masalah tumbuh kembang pada anak usia di bawah lima tahun (balita) masih menjadi perhatian serius di Indonesia. Data terbaru menunjukkan bahwa gangguan perkembangan anak tidak hanya cukup tinggi, tetapi juga berpotensi berdampak jangka panjang jika tidak ditangani sejak dini.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar satu dari 12 balita di Indonesia mengalami gangguan tumbuh kembang. Kondisi ini paling banyak ditemukan pada kelompok usia 24–35 bulan, yang merupakan fase penting dalam perkembangan fisik dan kognitif anak. Gangguan yang sering ditemui meliputi stunting (tubuh pendek akibat kekurangan gizi kronis), wasting (berat badan rendah), keterlambatan perkembangan motorik, hingga gangguan bahasa dan bicara.

Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tahun 2023 melaporkan bahwa 5–10% anak mengalami gangguan spektrum autisme. Di tingkat daerah, data tahun 2025 dari RSUP Dr. Sardjito menunjukkan bahwa sekitar 5–8% anak usia dini mengalami keterlambatan bicara dan bahasa.

Melihat tingginya angka tersebut, para ahli menekankan pentingnya deteksi dini perkembangan anak sehingga orang tua maupun tenaga kesehatan dapat mengetahui apakah perkembangan anak berjalan secara normal atau terdapat tanda-tanda yang perlu mendapatkan perhatian khusus, sehingga dapat segera dilakukan intervensi yang tepat.

REFERENSI

Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2023). Panduan deteksi dan intervensi dini gangguan perkembangan anak.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.

RSUP Dr. Sardjito. (2025). keterlambatan bicara pada anak usia dini.

Santrock, J.W. (2011). Life-Span Development. Edisi ke-13. Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Bagaimana Anda menilai informasi ini? Berikan reaksi Anda!

Dukung Konten Berkualitas

Jika artikel ini bermanfaat bagi Anda, pertimbangkan untuk memberikan donasi melalui e-wallet.

Gunakan nomor: 082118113019 untuk melakukan donasi melalui aplikasi e-wallet pilihan Anda.

Lihat tata cara donasi di sini