*Sekolah

UT Latih 50 Guru Kepulauan Seribu Integrasikan Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Matematika

Avatar photo
107
×

UT Latih 50 Guru Kepulauan Seribu Integrasikan Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Matematika

Sebarkan artikel ini

Kepulauan Seribu – Universitas Terbuka (UT) melalui Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Eksplorasi Kearifan Lokal Pulau Kelapa dalam Pengembangan Modul Ajar dan Media Pembelajaran Matematika”. Program ini melibatkan 50 guru yang tergabung dalam Gugus Mangrove sejak 18 Mei hingga Oktober 2025.

Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengembangkan pembelajaran matematika berbasis potensi lokal. Para guru dilatih untuk mengintegrasikan aktivitas keseharian masyarakat pesisir, seperti kegiatan nelayan, ukuran perahu, hingga ekosistem mangrove, ke dalam materi ajar matematika.

Perwakilan tim dosen UT menjelaskan, pendekatan ini diharapkan membuat pembelajaran lebih kontekstual, menarik, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. “Guru-guru dapat mengidentifikasi dan memanfaatkan potensi lokal yang relevan dengan materi matematika, sehingga pembelajaran lebih bermakna,” ujarnya.

Program dilaksanakan secara hybrid, dengan dua pertemuan tatap muka di SDN Pulau Kelapa 01 Pagi dan dua sesi daring. Tim dosen UT yang terlibat antara lain Suci Nurhayati, M.Pd., Dr. Thesa Kandaga, M.Pd., Valeria Yekti Kwasaning Gusti, M.Pd., Dr. Idha Novianti, M.Pd., dan Dr. Mery Noviyanti, M.Pd.

Dalam pelatihan, guru diajak menerjemahkan fenomena lokal menjadi soal matematika. Contohnya, menghitung luas tambak keramba dengan konsep geometri, menganalisis hasil tangkapan ikan untuk pelajaran statistik, atau menghitung kecepatan perahu menggunakan konsep perbandingan.

Antusiasme peserta terlihat pada sesi penutup, ketika setiap kelompok mempresentasikan modul dan media pembelajaran yang mereka ciptakan. Produk yang dihasilkan beragam, mulai dari alat peraga visual, permainan edukatif, hingga media digital sederhana terinspirasi kehidupan pesisir.

Sejumlah guru menyampaikan kesan positif. “PKM ini sangat membantu guru di Kepulauan Seribu, terutama tentang pembuatan modul ajar berbantuan AI,” tulis Nurul Huda dalam evaluasi. Peserta lain menambahkan bahwa pelatihan ini menambah kreativitas sekaligus membuka peluang kolaborasi antar sekolah.

Ketua tim PkM FKIP UT, Suci Nurhayati, menegaskan bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal dapat menjadi model replikable bagi daerah lain. “Program ini bukan sekadar pelatihan kecil, tetapi bisa diadopsi untuk memperkuat identitas budaya dan kecintaan siswa pada lingkungan,” ujarnya.

Melihat hasil yang dicapai, tim dosen UT berencana mengembangkan program lebih lanjut ke wilayah pesisir lain di Indonesia. Dr. Thesa Kandaga menjelaskan, pihaknya tengah merancang platform digital berbasis open-source agar modul karya guru dapat diakses dan diadaptasi secara luas.

Wakil Dekan Bidang Akademik FKIP UT, Heni, menambahkan bahwa inisiatif ini adalah percikan semangat inovasi bagi guru di seluruh negeri. “Pendidikan berkualitas tidak harus mahal atau rumit, cukup dimulai dari hal yang paling dekat dengan kita: rumah kita sendiri,” katanya.

Dengan langkah ini, Pulau Kelapa menjadi contoh nyata bagaimana matematika dapat diajarkan secara kontekstual, menyenangkan, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Bagaimana Anda menilai informasi ini? Berikan reaksi Anda!