Inspirasi

Bukan Dodol Biasa, Kuliner Khas Pulau Panggang Ini Punya Nilai Jual yang Menjanjikan!

Avatar photo
126
×

Bukan Dodol Biasa, Kuliner Khas Pulau Panggang Ini Punya Nilai Jual yang Menjanjikan!

Sebarkan artikel ini
Tampilan produk kemasan Dorula, dodol berbahan rumput laut seharga Rp20.000 per kemasan 200 gram hasil produksi mandiri Ibu Mahdiah, warga Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Panggang, Kabupaten Kepulauan Seribu, Selasa (30/06/2026). Kuliner ini memiliki nilai jual menjanjikan. (Foto: Istimewa)
Tampilan produk kemasan Dorula, dodol berbahan rumput laut seharga Rp20.000 per kemasan 200 gram hasil produksi mandiri Ibu Mahdiah, warga Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Panggang, Kabupaten Kepulauan Seribu, Selasa (30/06/2026). Kuliner ini memiliki nilai jual menjanjikan. (Foto: Istimewa)

📌 RINGKASAN BERITA

  • Nilai Jual Progresif: Dodol rumput laut Dorula karya Ibu Mahdiah di Pulau Panggang sukses mengombinasikan potensi bahari lokal menjadi produk kuliner bernilai jual menjanjikan sejak 2020.
  • Kemandirian Wirausaha: Meski kelompok usaha bersama telah nonaktif, komitmen mandiri dalam memproduksi kemasan retail Rp20.000 terus menggerakkan roda ekonomi rumah tangga pesisir.

Pulau Panggang, BPSNet — Pemanfaatan potensi maritim berupa rumput laut berhasil disulap menjadi produk kuliner premium bernilai jual tinggi bernama Dorula oleh warga lokal. Komoditas khas Pulau Panggang ini sukses mendobrak pasar camilan konvensional berkat cita rasa unik dan prospek bisnisnya yang sangat menjanjikan.

Proses produksi panganan manis bertekstur kenyal ini sangat bergantung pada faktor alam karena memanfaatkan metode pengeringan bahan baku secara tradisional. Sinar matahari menjadi penentu utama kelancaran produksi di mana cuaca cerah mempercepat proses penjemuran hingga hanya memakan waktu tiga hari.

Sebaliknya jika langit mendung dan hujan datang melanda kawasan pesisir, waktu pengeringan bisa membengkak hingga satu pekan penuh. Pelaku UMKM dituntut memiliki kesabaran ekstra dalam mengolah bahan baku mentah demi mempertahankan kualitas rasa yang autentik.

Kiprah Ibu Mahdiah selaku perintis bisnis Dorula ini bermula secara tidak sengaja dari keikutsertaannya dalam sebuah acara bazar di Balai Kota Jakarta pada tahun 2020 lalu. Langkah awal tersebut berhasil membuka jalan bagi perluasan jaringan usaha mikro di wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu.

Melalui program pemberdayaan ekonomi masyarakat, dirinya kemudian dipercaya untuk menakhodai kelompok usaha rumput laut lokal yang beranggotakan sepuluh orang warga pulau. Kelompok ini memperoleh suntikan dana hibah modal kerja senilai total lebih dari Rp40 juta untuk menunjang sarana prasarana.

Alokasi dana bantuan tersebut dimanfaatkan secara merata untuk pengadaan kompor, wajan, pembelian bahan baku berkualitas, hingga fasilitas gerobak pemasaran. “Uang waktu itu untuk 10 orang Rp40 juta lebih, bantuan modal berbentuk uang,” kenang Mahdiah pada Senin (15/06/2026).

Meskipun program pendampingan dari lembaga mitra kini telah selesai, Mahdiah tetap gigih melanjutkan roda produksi dodol rumput laut ini secara mandiri. “Kelompoknya sudah bubar, tapi jualannya masih berjalan karena kami terus mengembangkannya sendiri,” tuturnya dengan penuh rasa optimis.

Saat ini satu kemasan Dorula berukuran 200 gram dipasarkan dengan harga yang sangat terjangkau yaitu sebesar Rp20.000 saja. Kuliner bermutu tinggi ini memiliki ketahanan simpan selama satu bulan di suhu ruangan dan bisa bertahan jauh lebih lama jika dimasukkan ke dalam mesin pembeku.

Geliat omzet UMKM di wilayah perairan ini juga didukung kuat oleh kehadiran armada perbankan terapung melalui Kapal Bahtera Seva I yang bersandar sepekan sekali. Fasilitas bergerak tersebut terbukti memicu perputaran uang yang sangat masif hingga mencatat volume kas pelayaran mencapai miliaran rupiah. AF/Red

Bagaimana tanggapan Anda?