“Anaaaak… kadaaal…!”
Teriakan itu memecah sore di sebuah lapangan tanah Pulau Kelapa pada akhir dekade 1980-an hingga awal 1990-an. Seketika anak-anak yang sedang bermain berlarian menuju sumber suara. Di tangan mereka hanya ada dua potong kayu kecil. Namun, dari benda sederhana itulah tawa, persaingan, dan persahabatan tumbuh hampir setiap hari.
Bagi anak-anak Pulau Kelapa saat itu, Anak Kadal bukan sekadar permainan. Ia menjadi bagian dari masa kecil yang sulit dilupakan. Sepulang sekolah, selepas mengaji, atau ketika hari libur tiba, lapangan kosong selalu dipenuhi anak-anak yang ingin membuktikan siapa paling piawai memainkan sepotong kayu kecil.
Permainan ini umumnya dimainkan oleh anak laki-laki dengan membentuk dua kelompok yang masing-masing terdiri atas dua orang atau lebih. Alatnya sangat sederhana, yaitu dua potong kayu atau bambu. Satu berukuran sekitar lima hingga delapan sentimeter yang disebut anak, sementara satu lagi sepanjang sekitar lima belas hingga dua puluh sentimeter digunakan sebagai pemukul.
Sebelum permainan dimulai, kedua kelompok menentukan giliran melalui suit tangan. Setelah itu dibuat lubang kecil memanjang di tanah sebagai tempat meletakkan potongan kayu pendek.
Saat itulah terdengar teriakan yang paling ditunggu.
“Anaaaak… kadaaal…!”
Potongan kayu kecil diungkit hingga melayang ke udara. Anak-anak yang berjaga langsung berlari mengejar. Bila berhasil ditangkap sebelum menyentuh tanah, giliran bermain berpindah. Namun jika lolos, permainan berlanjut ke tahap berikutnya.
Pemain kembali mengungkit potongan kayu itu, lalu memukulnya saat masih melayang di udara. Semakin banyak pukulan yang berhasil dilakukan, semakin tinggi nilai yang diperoleh. Ketepatan mata, kecepatan tangan, dan keberanian menjadi modal utama untuk memenangkan permainan.
Yang menarik, alat permainan ini hampir selalu dibuat sendiri. Banyak anak sengaja memilih potongan bambu atau kayu terbaik, kemudian menghaluskannya agar lebih nyaman digunakan. Bahkan ada yang berlatih memukul sendirian sebelum bertanding dengan teman-temannya.
Tak jarang permainan berlangsung hingga matahari mulai tenggelam. Bahkan ketika ada jam pelajaran kosong di sekolah, sebagian anak diam-diam memanfaatkan waktu untuk bermain di lapangan sebelum guru datang. Masa kecil terasa sederhana, tetapi penuh cerita.
Kala itu, hampir setiap pulau berpenduduk di Kepulauan Seribu masih memiliki lapangan tanah yang luas. Pulau Kelapa, Pulau Tidung, hingga Pulau Panggang menjadi tempat ideal bagi anak-anak menghabiskan sore bersama. Kini, sebagian besar lahan telah berubah menjadi jalan berpaving atau beraspal sehingga ruang bermain seperti dulu semakin sulit ditemukan.
Menariknya, nama permainan ini belum tentu sama di setiap pulau. Di Pulau Kelapa permainan tersebut dikenal dengan sebutan Anak Kadal. Boleh jadi, masyarakat di pulau lain memiliki nama berbeda meski aturan permainannya hampir serupa.
Yang perlahan menghilang mungkin bukan hanya permainan Anak Kadal. Lebih dari itu, hilang pula kebiasaan berkumpul di lapangan tanah, membuat sendiri alat permainan, belajar menerima kekalahan, dan pulang ke rumah saat azan Magrib mulai berkumandang.
🌴 Masih Ingat?
Kalau Anda tumbuh di Kepulauan Seribu pada akhir 1980-an atau awal 1990-an, apakah pernah memainkan Anak Kadal?
Atau mungkin permainan ini memiliki nama lain di pulau tempat Anda dibesarkan?
Ceritakan kepada Redaksi BPSNet. Kami ingin mendokumentasikan permainan tradisional Kepulauan Seribu agar tidak hilang ditelan zaman.


Masih ingat.. dulu asik itu aku mainnya…
Bisa aja Bg Redi ma.. pernah tah main… paling main bekel ama papan congklak