Catatan LautEditorial

Mengapa Putra-Putri Asli Kepulauan Seribu Masih Minim di Abnon?

Avatar photo
25
×

Mengapa Putra-Putri Asli Kepulauan Seribu Masih Minim di Abnon?

Sebarkan artikel ini
Foto: Ilustrasi
EDITORIAL BPSNet
β€œJangan sampai suatu hari nanti anak-anak pulau hanya menjadi penonton ketika daerahnya sendiri sedang mencari wajah terbaiknya.”
Kepulauan Seribu tidak kekurangan generasi muda berbakat. Yang dibutuhkan adalah panggung yang benar-benar memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh, mengabdi, dan menjadi representasi daerahnya sendiri.

Setiap tahun, Pemilihan Abang None (Abnon) Jakarta Kepulauan Seribu kembali hadir dengan kemasan yang semakin menarik. Seleksi berlangsung ketat, pembekalan digelar berhari-hari, malam final disiapkan megah, dan sepasang pemenang akhirnya dinobatkan sebagai wajah baru Kepulauan Seribu. Namun, di balik kemeriahan itu, ada satu pertanyaan yang patut dijawab bersama: mengapa putra-putri asli Kepulauan Seribu masih terasa minim tampil sebagai representasi daerahnya sendiri?

Pertanyaan ini bukan dimaksudkan untuk meragukan kualitas para finalis maupun pemenang. Mereka yang berhasil lolos tentu telah melewati proses seleksi yang objektif. Namun, ketika sebuah ajang mengusung nama Kepulauan Seribu, publik berhak berharap panggung tersebut benar-benar menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda yang lahir, besar, dan memahami denyut kehidupan masyarakat pulau.

Selama hampir satu dekade terakhir, narasi yang mengiringi penyelenggaraan Abnon relatif tidak banyak berubah. Setiap tahun masyarakat disuguhi proses seleksi, pembekalan, malam keakraban, unjuk bakat, hingga malam final. Rangkaian itu memang penting sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta. Akan tetapi, yang justru jarang terdengar adalah cerita tentang kiprah para alumni setelah selempang dilepas.

Publik hampir tidak pernah memperoleh laporan mengenai bagaimana para Abnon berkontribusi setelah masa tugas berakhir. Berapa banyak yang masih aktif mempromosikan pariwisata Kepulauan Seribu? Berapa yang mendampingi UMKM lokal? Berapa yang terlibat dalam kegiatan konservasi lingkungan, pendidikan, atau pemberdayaan masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan ini layak diajukan karena program tersebut menggunakan sumber daya publik dan membawa nama daerah.

Pesan yang disampaikan Sekretaris Kabupaten Kepulauan Seribu, Tri Indrawan, saat membuka Malam Keakraban Abnon 2026 sejatinya menjadi refleksi penting. Ia mengingatkan agar Abnon tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan pengabdian. Pernyataan itu patut diapresiasi karena menunjukkan kesadaran bahwa ukuran keberhasilan sebuah program tidak cukup dinilai dari kemeriahan panggung, tetapi dari manfaat yang dirasakan masyarakat.

Persoalan berikutnya menyangkut representasi. Kepulauan Seribu memiliki karakter yang berbeda dibanding wilayah lain di Jakarta. Kehidupan masyarakatnya dibentuk oleh laut, cuaca, pelabuhan, nelayan, wisata bahari, hingga budaya pesisir yang khas. Anak-anak muda yang tumbuh di pulau tentu memiliki pengalaman hidup yang tidak dimiliki mereka yang hanya mengenal Kepulauan Seribu dari kunjungan sesekali.

Karena itu, kehadiran lebih banyak putra-putri asli Kepulauan Seribu dalam ajang Abnon bukan sekadar persoalan kuota atau asal domisili. Ini menyangkut autentisitas. Seorang duta daerah idealnya mampu menceritakan daerahnya bukan hanya melalui materi pembekalan, tetapi melalui pengalaman hidup yang benar-benar ia rasakan.

Tentu tidak ada yang salah apabila peserta berasal dari berbagai latar belakang selama memenuhi persyaratan administrasi. Ajang ini harus tetap terbuka dan inklusif. Namun, apabila dari tahun ke tahun partisipasi generasi muda asli pulau belum dominan, maka kondisi tersebut patut dievaluasi. Apakah informasi mengenai seleksi sudah menjangkau seluruh pulau berpenduduk? Apakah pembinaan telah dilakukan secara merata? Atau justru masih ada hambatan yang membuat anak-anak pulau enggan tampil?

Di sinilah tantangan sebenarnya. Jangan sampai Abnon hanya menjadi panggung bagi mereka yang sejak awal telah memiliki akses lebih baik terhadap pendidikan, pelatihan, atau jejaring di daratan. Kepulauan Seribu menyimpan banyak talenta muda yang tidak kalah cerdas, komunikatif, dan memiliki kepedulian terhadap daerahnya. Yang mereka butuhkan sering kali hanyalah kesempatan, pendampingan, dan kepercayaan diri.

Lebih jauh lagi, indikator keberhasilan Abnon juga perlu diperbarui. Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada siapa yang menjadi juara. Padahal yang jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan para juara setelah itu. Selempang seharusnya menjadi awal perjalanan pengabdian, bukan garis finis sebuah kompetisi.

Sudah saatnya Abnon diposisikan sebagai laboratorium kepemimpinan generasi muda Kepulauan Seribu. Para finalis tidak hanya dilatih berbicara di depan publik, tetapi juga didorong menjadi penggerak lingkungan, pendamping UMKM, duta literasi, relawan konservasi, hingga motor promosi budaya pesisir. Dengan begitu, masyarakat dapat melihat manfaat nyata dari program ini.

Lebih penting lagi, penyelenggara perlu membangun sistem yang menjaga kesinambungan peran alumni. Selama ini publik lebih mengenal pemenang pada malam final, tetapi nyaris tidak mengetahui kiprah mereka beberapa tahun kemudian. Padahal jejaring alumni dapat menjadi kekuatan besar dalam mendukung promosi daerah apabila dikelola secara serius.

BPSNet meyakini bahwa kritik terhadap sebuah program bukan berarti menolak keberadaannya. Sebaliknya, kritik adalah bentuk kepedulian agar program tersebut semakin relevan dan memberi manfaat yang lebih luas. Abnon Kepulauan Seribu memiliki potensi besar menjadi wadah lahirnya pemimpin muda daerah, asalkan orientasinya benar-benar diarahkan pada pengabdian, bukan sekadar seremoni tahunan.

Lima Langkah yang Layak Dipertimbangkan

Pertama, membangun pembinaan sejak bangku sekolah melalui pelatihan kepemimpinan, komunikasi publik, bahasa asing, dan wawasan kepariwisataan di seluruh SMA dan SMK di pulau-pulau berpenduduk.

Kedua, memperkuat afirmasi bagi putra-putri asli Kepulauan Seribu tanpa menutup kesempatan peserta lain. Tujuannya bukan membatasi kompetisi, melainkan memastikan representasi masyarakat lokal semakin kuat.

Ketiga, membentuk Forum Alumni Abnon Kepulauan Seribu yang aktif menjalankan program promosi wisata, pemberdayaan UMKM, konservasi lingkungan, hingga edukasi generasi muda.

Keempat, mengubah indikator keberhasilan dari sekadar jumlah peserta dan kemeriahan malam final menjadi capaian program sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan yang dijalankan para finalis maupun alumni.

Kelima, menerbitkan laporan kinerja tahunan Abnon agar masyarakat dapat mengetahui kontribusi nyata program ini sekaligus meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penyelenggara.

Pada akhirnya, Kepulauan Seribu tidak kekurangan anak muda berbakat. Yang dibutuhkan adalah sebuah panggung yang benar-benar memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh, mengabdi, dan kembali membangun tanah kelahirannya. Masyarakat mungkin akan lupa siapa yang mengenakan selempang pada malam final. Namun masyarakat tidak akan pernah lupa kepada mereka yang kembali ke pulau, bekerja bersama warga, dan menjadikan gelar Abang None sebagai awal pengabdian, bukan akhir sebuah perlombaan.


Catatan Redaksi:
Editorial ini merupakan pandangan redaksi berdasarkan pengamatan terhadap dinamika penyelenggaraan Abang None Kepulauan Seribu selama beberapa tahun terakhir. Tujuannya mendorong evaluasi konstruktif agar program pembinaan generasi muda tersebut semakin inklusif, berdampak, dan mampu melahirkan duta daerah yang tumbuh bersama masyarakat Kepulauan Seribu.

Bagaimana tanggapan Anda?