Usai menikmati snorkeling di Gusung Petrik, wisatawan dapat menikmati kopi panas, es teh hingga mi rebus dari warung kopi terapung milik Halimah. Usaha sederhana ini menjadi inovasi warga Pulau Panggang dalam memanfaatkan ramainya kunjungan wisata bahari setiap akhir pekan.
Panggang, BPSNet – Menyeruput secangkir kopi panas di tengah laut menjadi pengalaman unik yang dapat dirasakan wisatawan saat berkunjung ke kawasan snorkeling Gusung Petrik, Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu.
Pengalaman tersebut dihadirkan Halimah bersama suaminya yang berprofesi sebagai nelayan melalui warung kopi terapung yang ditambatkan di sekitar lokasi favorit wisatawan untuk snorkeling.
Selain menyediakan kopi panas dan berbagai minuman dingin, warung terapung tersebut juga menjual mi rebus lengkap dengan telur, aneka minuman saset, makanan ringan, bahkan sesekali menyediakan nasi bungkus sesuai kebutuhan pengunjung.
Halimah mengatakan, usaha warung kopi terapung itu telah dijalani lebih dari satu tahun dan hanya beroperasi saat akhir pekan maupun hari libur ketika jumlah wisatawan meningkat.
“Kalau hari Sabtu, Minggu atau libur biasanya banyak wisatawan snorkeling. Saat itulah kami berjualan di sini. Alhamdulillah hasilnya lebih baik dibanding berjualan di darat karena saingan tidak banyak,” ujarnya saat berbincang santai dengan Kontributor BPSNet Pulau Panggang, Ilham Davala.
Menurut Halimah, keberadaan warung terapung bukan hanya memberikan tambahan penghasilan bagi keluarganya, tetapi juga memudahkan wisatawan yang ingin beristirahat sejenak tanpa harus kembali ke pulau setelah menikmati keindahan bawah laut Gusung Petrik.
Meski harga minuman sedikit lebih tinggi dibanding di darat, wisatawan tetap antusias karena dapat menikmati kopi maupun mi rebus sambil bersantai di atas perahu dengan panorama laut Kepulauan Seribu.
Selain mengutamakan pelayanan kepada wisatawan, Halimah juga berkomitmen menjaga kebersihan laut. Seluruh bungkus kopi saset, gelas plastik, dan sampah kemasan lainnya dikumpulkan terlebih dahulu sebelum dibawa pulang.
Ia menegaskan tidak pernah membuang sampah ke laut. Seluruh sampah dipilah di rumah untuk selanjutnya diserahkan kepada petugas pengelola sampah agar dapat diproses sesuai jenisnya.
Keberadaan kopi terapung di Gusung Petrik pun mendapat sambutan positif dari wisatawan. Banyak pengunjung memanfaatkan warung tersebut sebagai tempat beristirahat setelah snorkeling sambil menikmati secangkir kopi hangat atau semangkuk mi rebus di tengah suasana laut yang tenang.
Bagi masyarakat Pulau Panggang, usaha sederhana tersebut menjadi contoh bagaimana potensi wisata bahari dapat dimanfaatkan menjadi peluang ekonomi kreatif tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.







