📌 Ringkasan Berita
- Inovasi pengelolaan sampah: Lurah Pulau Untung Jawa menghadirkan program ternak bebek berbasis sampah organik rumah tangga sebagai solusi mengurangi timbulan sampah sekaligus mendukung ketahanan pangan.
- Berpotensi diterapkan lebih luas: Program yang diresmikan Bupati Kepulauan Seribu ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas peternakan, memperkuat gizi masyarakat, dan berpeluang menjadi percontohan bagi pulau-pulau lain.
Untung Jawa, BPSNet – Berangkat dari persoalan sampah rumah tangga yang terus meningkat, Lurah Pulau Untung Jawa, Muslim, menghadirkan inovasi dengan mengubah sampah organik menjadi pakan bebek sebagai solusi yang menggabungkan pengelolaan lingkungan, ketahanan pangan, dan peningkatan gizi masyarakat.
Inovasi tersebut merupakan tindak lanjut Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber dengan memberdayakan pengurus RT dan RW mengelola peternakan bebek yang dibangun di dekat Tempat Penampungan Sampah (TPS) Pulau Untung Jawa.
Lurah Pulau Untung Jawa, Muslim, mengatakan inovasi tersebut lahir dari keinginan mengubah sampah organik menjadi sumber daya yang bermanfaat sehingga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Selain membantu mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, program tersebut juga menghasilkan telur bebek yang memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi sumber protein hewani bagi warga.
Muslim menjelaskan, pemanfaatan telur bebek diharapkan semakin memperkuat upaya menjaga status zero stunting yang telah dicapai Pulau Untung Jawa melalui peningkatan konsumsi pangan bergizi.
Program tersebut diresmikan oleh Bupati Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan, yang menilai pemanfaatan sampah organik sebagai pakan ternak merupakan terobosan sederhana namun memiliki manfaat besar bagi lingkungan dan masyarakat.
Menurut Fadjar, sampah organik yang selama ini menjadi limbah dapat diolah menjadi pakan bebek sehingga mampu mengurangi volume sampah sekaligus meningkatkan produktivitas peternakan warga.
“Gagasan ini bertujuan agar sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pakan bebek. Hasilnya cukup baik, bahkan dalam dua hari bebek sudah mulai produktif bertelur sehingga turut mendukung ketahanan pangan,” ujarnya.
Inovasi ternak bebek berbasis sampah organik tersebut diharapkan menjadi model pengelolaan sampah yang tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, dan dapat direplikasi di pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu.







