Ada kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai. Orang bilang waktu mampu menyembuhkan apa saja—dan aku sempat percaya. Namun, laut tidak berpikir demikian; ia hanya mengajari kita cara menerima.
Empat belas tahun telah berlalu. Rumah-rumah yang pernah kehilangan atap kini berdiri kembali, kokoh dan berwarna. Anak-anak yang dulu berlari tanpa alas kaki di lantai pengungsian mungkin telah tumbuh menjadi orang tua. Pohon-pohon kelapa yang dulu patah diterjang angin telah digantikan oleh tunas-tunas baru yang menjulang angkuh ke langit.
Segalanya berubah. Kecuali ingatan.
Ingatan selalu menemukan jalan pulang, terutama saat angin barat mulai bertiup. Aku tak pernah bisa membenci angin itu; sejak kecil, kami hidup bersamanya. Kami belajar mengenal arah mata angin sebelum mengenal nama jalan, belajar membaca keramahan laut dari warna langit, dan memahami kapan harus menunda berlayar hanya dengan melihat pucuk-pucuk kelapa yang mulai gelisah.
Begitulah kehidupan di pulau. Laut adalah pemberi makan, sekaligus penguji yang tak kenal ampun. Dan kami tidak pernah benar-benar marah kepadanya, karena kami tahu: laut tidak pernah memilih siapa yang akan ia uji.
Jika ada satu suara yang paling membekas dari hari itu, anehnya, itu bukan suara ombak ataupun raungan angin. Yang paling kuingat justru suara mesin tempel yang meraung tanpa henti, seolah berusaha melawan ketakutan yang diam-diam kami sembunyikan. Bau solar bercampur air asin, percikan ombak yang memukul wajah, serta jemari yang kaku karena terus mencengkeram lambung kapal—semuanya masih terasa nyata.
Dan suara itu. Suara seseorang di sebelahku.
“Bang…”
Hanya satu kata. Namun, hingga hari ini, setiap kali mengingatnya, dadaku masih terasa sesak.
Aku menoleh. Ia tersenyum—senyum yang sama seperti ketika kami masih anak-anak, senyum yang selalu muncul setiap kali ia hendak melakukan sesuatu yang membuatku khawatir.
“Apa pun yang terjadi,” katanya pelan, “kita harus sampai.”
Aku tidak menjawab. Bukan karena tidak setuju, tetapi karena aku tahu, tidak ada gunanya mencoba mengubah keputusan yang sudah tumbuh menjadi keyakinan di hatinya. Sejak kecil memang begitu; jika ia sudah memutuskan untuk melangkah, tugasku hanya satu: mengikutinya dan menjaganya.
Orang sering mengira keberanian lahir karena seseorang tidak mengenal takut. Menurutku, tidak. Keberanian justru lahir ketika rasa takut itu ada, tetapi kita tetap memilih untuk melangkah.
Hari itu, kami semua takut. Takut kapal kecil kami kalah oleh ombak, takut bantuan yang kami bawa tak pernah sampai, dan takut orang-orang yang kami cintai terus menunggu tanpa kepastian. Sebab, pulau yang kami tuju bukan sekadar titik di tengah laut. Di sanalah rumah kami. Di sanalah ibu menunggu. Di sanalah keluarga dan teman-teman masa kecil kami bertahan di tengah badai.
Perjalanan itu bukan perjalanan menuju bencana. Itu adalah perjalanan pulang.
Banyak orang mengingat hari itu sebagai kisah tentang keberanian menantang ombak, tentang kapal kecil yang nekat menerjang saat kapal besar memilih menepi. Aku tidak. Jika hari itu masih terus hidup di kepalaku sampai sekarang, itu bukan karena dahsyatnya ombak. Melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidup, aku benar-benar takut kehilangan adikku.
Dan mungkin, inilah saatnya aku menceritakan semuanya.
***
“Tidak semua pahlawan berdiri di depan. Ada yang memilih tetap di belakang, agar orang yang dicintainya bisa terus melangkah.”
Jika ada yang mengenal kami waktu itu, mungkin mereka akan bilang kami seperti langit pagi—selalu bersama. Jika melihat Fajar, biasanya tak lama kemudian aku akan terlihat di dekatnya. Padahal, sifat kami jauh berbeda. Aku lebih banyak diam, sedangkan Fajar… jika mulutnya mulai bercerita, kadang matahari lebih dulu tenggelam sebelum ceritanya usai.
Ia bisa berteman dengan siapa saja: nelayan, guru, petugas puskesmas, anak-anak yang baru dikenalnya lima menit, bahkan wisatawan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di pulau. Entah bagaimana caranya, setiap orang merasa sudah lama mengenalnya.
Aku sering menggodanya, “Kalau enggak jadi orang pulau, cocoknya jadi tukang ngobrol.”
Ia tertawa lebar. “Lumayan, Bang. Enggak perlu modal.”
Ada satu kebiasaan Fajar yang sampai sekarang masih kuingat. Ia selalu mencatat apa saja yang menarik baginya; nama burung, cuaca, cerita nelayan, ucapan orang tua, harga ikan, hingga jadwal kapal. Buku catatan kecilnya selalu penuh dengan tulisan yang bahkan aku sendiri sering kesulitan membacanya.
“Ngapain sih ditulis semua?” tanyaku suatu sore.
“Takut lupa,” jawabnya.
“Lupa apa?”
“Kalau enggak ditulis, nanti orang enggak tahu kalau pulau sekecil ini punya banyak cerita.”
Waktu itu aku hanya mengangguk, tanpa tahu bahwa kelak cerita-ceritalah yang membuat banyak orang di luar sana mengenal kampung kami.
Sementara Fajar sibuk mengejar cerita, aku lebih sibuk mengejar pekerjaan. Pagi di satu tempat, siang di tempat lain. Saat ada pekerjaan di pulau wisata, aku berangkat sebelum matahari terbit—menyapu jalan setapak, membersihkan pondok kayu, mengangkut sampah, mengepel lantai penginapan. Sore harinya, aku masih harus memindahkan pasir bersama teman-teman.
Tubuhku sering terasa remuk, kulit menghitam, dan telapak tangan dipenuhi kapalan. Tetapi begitulah hidup. Laut mengajarkan bahwa rezeki tidak pernah datang kepada mereka yang malas mendayung.
Suatu malam, ketika listrik kampung kembali padam, kami duduk di beranda ditemani lampu minyak. Ibu menjahit, Ayah memperbaiki jaring, dan Fajar membaca buku yang entah dipinjam dari siapa. Aku memperhatikan wajahnya; matanya selalu berbinar setiap kali membalik halaman.
“Bang…” panggilnya tanpa mengalihkan pandangan.
“Hm?”
“Aku pengin kuliah.”
Tanganku berhenti menggulung tali. Rumah mendadak sunyi, hanya suara ombak dari kejauhan yang terdengar. Tak ada yang langsung menjawab. Bukan karena mereka tidak senang, tetapi karena kami semua tahu: keinginan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Malam itu, setelah semua orang tidur, aku keluar rumah dan duduk sendirian di dermaga. Langit penuh bintang, air laut sedang pasang. Aku menatap bayangan bulan yang pecah di permukaan air, lama sekali. Lalu dalam hati aku berucap, “Kalau memang cuma satu yang bisa berangkat… biar Fajar.”
Tak ada saksi. Tak ada tepuk tangan. Tak ada air mata. Hanya ada laut, dan mungkin Tuhan.
Sejak malam itu, aku tak pernah lagi menghitung berapa pekerjaan yang kulakukan. Yang kuingat hanya satu: setiap kali menerima upah, aku selalu membayangkan wajah Fajar saat menceritakan mimpinya. Aneh memang, melihat orang lain mengejar cita-cita justru membuatku merasa ikut bahagia. Mungkin beginilah rasanya menjadi seorang kakak; kita belajar menemukan mimpi sendiri di dalam keberhasilan orang yang kita sayangi.
Beberapa tahun kemudian, Fajar benar-benar berangkat. Hari itu aku mengantarnya ke dermaga. Tasnya tak besar, isinya lebih banyak buku daripada pakaian. Sebelum naik ke kapal, ia menoleh.
“Bang…”
“Iya?”
“Nanti kalau aku sudah selesai…”
Ia belum sempat melanjutkan kalimatnya, aku lebih dulu menepuk bahunya. “Jangan pikirin pulang.”
“Kenapa?”
“Kejar dulu mimpimu.”
Ia tersenyum, lalu kapal perlahan menjauh. Aku berdiri di dermaga sampai bayangannya hilang di balik cakrawala. Tak sekali pun kulambaikan tangan. Bukan karena aku tak ingin, tetapi karena aku tahu… kalau saat itu aku melambaikan tangan, mungkin aku tak sanggup menahan air mata.
***
“Ada bunyi yang sampai hari ini masih membuatku menoleh. Bukan suara ombak, melainkan suara telepon yang berdering berkali-kali pada pagi itu.”
Aku masih ingat aroma kopi yang mengepul di atas meja kayu. Pahitnya belum sempat hilang dari lidah ketika telepon di sudut ruangan mulai berdering.
Satu kali. Lalu berhenti.
Tak sampai semenit kemudian, ia berbunyi lagi. Setelah itu, seolah tak mau memberi kami kesempatan untuk sekadar bernapas, telepon itu terus meraung—memecah keheningan pagi yang seharusnya tenang.
Pos kecil kami berdiri tak jauh dari Dermaga 14 Marina Ancol. Bangunannya sederhana; jika hujan turun disertai angin kencang, air asin dari laut akan menyelinap masuk melalui celah-celah jendela. Di sanalah kami menyimpan perlengkapan darurat, kardus logistik, peta gugusan pulau, dan sebuah kapal kecil yang selalu tertambat di ujung dermaga.
Kami menyebutnya Kapal Siaga Satu.
Saat itu, aku belum tahu bahwa beberapa jam kemudian, kapal itulah yang akan menjadi satu-satunya jalan pulang.
Pagi itu kami hanya berempat: aku, Fajar, Bahri, dan Liong. Sahrun dan relawan lainnya masih berada di pulau-pulau, mungkin sedang sibuk berjuang menyelamatkan warga. Kalau mengingatnya sekarang, rasanya seperti Tuhan memang sedang menempatkan setiap orang di titik yang sudah ditentukan.
Fajar mengangkat telepon pertama. Ia tidak banyak bicara.
“Halo… Iya… Baik.”
Hanya itu. Sesingkat itu. Ia menutup gagang telepon, lalu membuka buku catatan kecil yang nyaris tak pernah lepas dari saku bajunya. Tangannya bergerak cepat, menulis, lalu berhenti.
“Siapa?” tanyaku.
Ia tidak langsung menjawab. “Pulau utara.”
Aku mengangguk pelan. Musim angin barat memang belum usai. Di Kepulauan Seribu, kabar tentang angin kencang bukanlah hal asing; biasanya, dua atau tiga hari kemudian laut akan kembali tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Aku masih sempat menyeruput kopi dan bercanda dengan Liong yang sedang membongkar kotak peralatan di sudut ruangan.
Tidak ada seorang pun yang menyangka pagi itu akan menjadi awal dari hari terpanjang dalam hidup kami.
Telepon kedua datang kurang dari lima menit kemudian. Kali ini, wajah Fajar berubah. Ia berdiri tegak, tangannya meraih peta yang tergantung di dinding. Pulpen merah bergerak pelan, menandai satu titik, lalu titik lainnya.
Aku memperhatikan tanpa banyak bertanya. Sudah bertahun-tahun aku mengenal adikku; jika ia mulai berdiri saat menerima telepon, berarti kabar yang datang bukan lagi sekadar angin lalu. Setelah selesai, ia menarik napas panjang.
“Ada rumah yang rusak,” ucapnya datar.
“Di mana?”
“Kelapa.”
Dadaku seperti dihantam sesuatu. Pulau Kelapa. Rumah kami. Tempat Ibu menunggu, tempat masa kecil kami tertinggal. Aku terdiam. Ada rasa takut yang menjalar, membuatku enggan bertanya lebih lanjut.
Belum sempat kami saling bicara, telepon kembali berdering. Lalu satu lagi. Dan satu lagi.
Pagi itu, pos kecil kami berubah menjadi simpang kabar. Setiap telepon membawa berita yang berbeda, namun arahnya selalu satu: Utara. Selalu utara.
Aku melihat Fajar mulai menulis lebih cepat. Satu halaman, lalu halaman berikutnya. Sesekali ia mencoba menghubungi nomor lain—kadang tersambung, lebih sering tidak. Namun, yang membuatku paling cemas adalah saat kulihat ia mencoba menghubungi rumah.
Sekali. Tidak masuk.
Dua kali. Tetap gagal.
Tiga kali. Masih sama.
Ia menatap layar teleponnya selama beberapa detik, lalu memasukkannya kembali ke saku tanpa berkata apa-apa. Orang lain mungkin mengira ia tetap tenang, tapi aku tahu tidak. Fajar hanya sedang belajar menyimpan cemas di tempat yang tidak bisa dilihat orang lain. Aku mengenalnya sejak ia belum pandai berjalan; aku tahu persis kapan matanya menyembunyikan sesuatu.
Aku melangkah keluar. Hujan mulai turun, membasahi dermaga. Di ujung sana, Kapal Siaga Satu bergoyang pelan, diterpa riak air yang mulai gelisah. Aku berdiri beberapa saat memandanginya.
Entah mengapa, pagi itu aku merasa kapal kecil itu sedang menunggu sesuatu. Atau mungkin… sedang menunggu seseorang mengambil keputusan.
Dan aku belum tahu, bahwa keputusan itu akan mengubah hidup kami selamanya.
***
“Ada saat ketika seorang pelaut harus memutuskan: menunggu laut bersahabat, atau menerima bahwa hari itu laut memang tidak akan pernah bersahabat.”
Aku masih berdiri di dermaga ketika Fajar menghampiriku. Hujan belum sepenuhnya berhenti. Air yang menetes dari ujung atap jatuh satu per satu ke papan dermaga yang mulai licin. Di depan kami, Kapal Siaga Satu bergoyang pelan—naik-turun, naik-turun—seolah ia sedang bernapas, bersiap menelan apa pun yang akan kami hadapi.
“Apa kata mereka?” tanyaku.
Fajar tidak langsung menjawab. Ia berdiri di sampingku, memandang laut yang mulai berubah warna menjadi kelabu pekat. “Semua kapal diminta menunggu.”
Aku mengangguk. Jawaban itu sudah kuduga. Musim angin barat bukanlah lawan yang bisa diremehkan, apalagi jalur menuju gugusan pulau utara harus melewati perairan terbuka yang terkenal ganas.
Kami sama-sama diam. Hanya suara tali tambat yang sesekali bergesekan dengan besi pengikat. Ciiit… ciiit… Suara sederhana yang entah mengapa masih kuingat sampai hari ini, seperti irama yang menandai batas antara aman dan bahaya.
Liong datang membawa jas hujan. “Bensin penuh,” katanya singkat. Begitulah Liong; jika bisa menjawab dengan dua kata, ia tidak akan membuang waktu dengan tiga.
“Mesin?”
“Siap.”
Bahri menyusul dari belakang. Beberapa kardus mi instan, air mineral, selimut, obat-obatan, dan terpal mulai ditumpuk di dekat dermaga. Belum banyak—kabar bencana baru beberapa jam kami terima, dan bantuan logistik yang lebih besar masih dalam perjalanan menuju Marina.
Aku memperhatikan Fajar. Ia belum juga berbicara, matanya terus memandang laut seolah sedang berdialog dengan ombak. Telepon genggamnya kembali berdering. Ia menjauh beberapa langkah. Aku tidak berniat menguping, tetapi suaranya yang tegas terdengar jelas memotong angin.
“Siap.”
“Iya, kami terus memantau.”
“Belum ada kapal yang berangkat.”
“Kalau memungkinkan, kami akan berangkat.”
Kalimat terakhir itu membuatku menoleh. Setelah sambungan terputus, Fajar menghampiriku. “Ketua.”
Aku mengerti. Beliau pasti menerima laporan yang sama dari berbagai arah. “Apa katanya?”
Fajar menarik napas panjang. “Beliau tanya, kalau kita berangkat… sanggup enggak?”
Aku tersenyum kecil. “Jawabanmu?”
Fajar ikut tersenyum. “Aku bilang… belum tahu.”
Aku tertawa pelan. Itu jawaban paling jujur yang pernah kudengar. Bukan karena kami takut, tetapi karena laut memang tidak pernah bisa dijanjikan apa pun.
Tak lama kemudian, telepon kembali berdering. Kali ini dari Bupati. Fajar menyampaikan perkembangan terbaru: jumlah rumah yang rusak bertambah, korban luka mulai dievakuasi warga, dan gedung Karang Taruna telah penuh oleh pengungsi. Di seberang sana, Bupati hanya berpesan satu hal: “Keselamatan tim tetap yang utama.”
Fajar mengiyakan, namun setelah telepon ditutup, ia menatapku cukup lama. Aku tahu tatapan itu. Ia sedang meminta pendapatku tanpa harus mengucapkannya.
Aku menggeleng pelan. “Bukan aku yang harus menjawab.”
“Lalu siapa?”
Aku menunjuk ke arah laut. Laut tidak menjawab; ia hanya terus mengirim gelombang kecil yang menghantam tiang-tiang dermaga dengan tidak sabar.
Menjelang tengah hari, hujan sedikit mereda. Liong kembali dari ujung dermaga. “Kalau mau berangkat…” katanya, memecah kebisuanku, Fajar, dan Bahri. “…sekarang.”
“Kenapa?”
“Kalau nunggu sore, angin biasanya tambah keras.”
Aku memandang Fajar. Tidak ada rapat. Tidak ada voting. Hanya empat orang yang sudah saling mengenal terlalu lama hingga tidak perlu lagi banyak kata untuk saling mengerti.
Fajar membuka buku catatannya, menuliskan sesuatu dengan cepat, lalu menutupnya. “Baik.”
Hanya satu kata. Namun, kata itu terdengar jauh lebih berat daripada suara deburan ombak. Ia menatap kami satu per satu. “Kalau ada yang merasa ragu… enggak apa-apa.”
Liong lebih dulu mengangkat satu kardus logistik. Bahri menyusul membawa kotak obat. Aku hanya tersenyum. “Kalau dari tadi memang niatnya enggak ikut,” kataku sambil menyampirkan selimut ke pundak, “aku sudah di rumah, bukan di sini.”
Fajar tertawa kecil. Mungkin itulah tawa terakhir kami… sebelum laut mulai menunjukkan wajahnya yang sesungguhnya.
***
“Tidak semua perjalanan pulang dimulai dengan kepastian. Ada yang dimulai dengan doa.”
Aku masih ingat jam di dinding pos ketika Liong mengambil tali tambat dari bollard dermaga. Jarumnya baru melewati pukul sembilan pagi. Hujan masih turun tipis, dan langit Jakarta enggan menampakkan wajahnya, hanya menyisakan cahaya pucat yang memantul di permukaan laut.
Liong melompat ringan ke buritan, memeriksa sekali lagi dua mesin tempel Suzuki yang menggantung di belakang. Ia menekan selang bahan bakar, mengatur choke, lalu menarik tali starter.
Brraaaaanng…
Suara mesin memecah pagi, membuat beberapa burung camar yang bertengger di tiang dermaga langsung beterbangan. Mesin kedua menyusul sedetik kemudian. Raungannya berpadu, menciptakan irama yang sudah sangat akrab di telingaku.
Aku menoleh ke arah Fajar. Ia berdiri di haluan, memandangi laut tanpa berkedip. Entah apa yang ia pikirkan; mungkin Ibu, mungkin kampung, mungkin orang-orang yang sejak pagi hanya bisa kami bayangkan lewat laporan-laporan darurat. Atau mungkin, semuanya sekaligus.
Tali terakhir dilepas. Kapal perlahan menjauh dari Dermaga 14 Marina. Tak ada lambaian tangan, tak ada upacara, tak ada tepuk tangan. Hanya kami berempat, dan doa yang kami simpan rapat-rapat di dalam hati.
Aku menoleh ke belakang. Gedung-gedung Jakarta perlahan mengecil, semakin samar, lalu menghilang di balik hujan. Di depan kami, hanya laut.
Awal perjalanan terasa biasa saja. Gelombang memang sudah terbentuk, tetapi belum cukup untuk memperlambat laju kapal. Liong memainkan gas dengan halus, sementara Bahri duduk di samping kardus logistik, memastikan terpal tidak terlepas tertiup angin. Fajar terus membuka telepon genggamnya, mencari sinyal. Kadang muncul satu garis, lalu hilang lagi. Setiap kali tersambung, suaranya hanya terdengar putus-putus: “…rumah… angin… pengungsian… cepat…”
Sebelum akhirnya kembali hening.
Sekitar pukul sebelas siang, kami memutuskan merapat di Pulau Untung Jawa. Kami ingin memantau kondisi laut di depan. Dari dermaga kecil itu, jalur menuju Pulau Pari tampak kelabu. Angin membawa buih-buih putih yang berlarian di permukaan air, membuat pohon kelapa di bibir pantai membungkuk seolah memohon ampun.
Beberapa nelayan yang sedang mengikat perahu hanya menggeleng saat melihat kami. “Mau lanjut?”
Liong mengangguk. “Iya.”
“Laut lagi marah.”
Aku masih ingat wajah nelayan tua yang berdiri di ujung dermaga. Ia tidak melarang, juga tidak menyuruh. Ia hanya berkata pelan, “Kalau memang harus berangkat… jangan lupa minta izin sama laut.”
Kalimat itu sederhana, tapi sampai hari ini masih membekas. Karena orang pulau tahu, laut tidak pernah bisa ditaklukkan; ia hanya bisa dihormati.
Setelah salat Zuhur, kami kembali ke kapal. Hujan mulai mengecil, namun angin justru bertambah beringas. Liong memeriksa mesin sekali lagi, Bahri mengencangkan tali pengikat, dan aku memastikan semua jaket pelampung terpasang sempurna.
Fajar berdiri paling depan, matanya lurus ke utara. Ke arah kampung. Tak ada satu pun dari kami yang berkata, “Kalau tidak sanggup, kita putar balik.” Karena sejak tali tambat dilepas pagi tadi, kami tahu perjalanan ini bukan lagi soal keberanian. Ini soal siapa yang sedang menunggu di seberang sana.
Liong mendorong tuas gas perlahan. Dua mesin Suzuki meraung lebih keras. Haluan kapal mulai menghadap ke laut lepas, membelah jalur antara Pulau Untung Jawa dan Pulau Pari—perairan paling terbuka di musim angin barat.
Aku menarik napas panjang, lalu memandang Fajar. Ia menoleh, tidak tersenyum, hanya mengangguk pelan. Aku membalas anggukan itu. Kami tidak sedang saling meyakinkan, kami hanya sedang saling mengerti.
Beberapa detik kemudian, haluan Kapal Siaga Satu menghantam gelombang pertama. Dan untuk pertama kalinya hari itu, laut menunjukkan wajahnya yang sesungguhnya.
***
“Ada laut yang mengantar manusia mencari ikan. Ada pula laut yang menguji, apakah manusia masih pantas menyebut dirinya pelaut.”
Begitu meninggalkan perairan Pulau Untung Jawa, kami seperti memasuki dunia yang berbeda. Pantai perlahan menghilang, menyisakan hanya langit kelabu dan laut yang mengamuk. Angin bertiup semakin keras, memukul sisi kapal seolah ingin merobohkan apa pun yang berani melintas.
Liong tidak lagi banyak bicara. Kedua tangannya menggenggam kemudi dengan otot-otot yang menegang. Sesekali ia mengurangi gas saat haluan kapal terangkat terlalu tinggi ke angkasa, lalu kembali menambah putaran mesin begitu lambung menghantam permukaan air dengan keras.
Brraaaam… Brraaaam…
Suara dua mesin Suzuki itu terus meraung, nyaris tenggelam oleh pekikan angin yang membudekkan telinga. Aku memegang bibir lambung kapal sekuat tenaga; air asin menghantam wajah berkali-kali, rasanya perih hingga ke bibir. Dalam hitungan menit, tak ada lagi bagian pakaian kami yang kering.
Gelombang mulai meninggi—satu meter, lalu lebih. Ada saat di mana haluan kapal terangkat begitu curam hingga sesaat aku hanya melihat langit kelabu. Detik berikutnya, Brak! Lambung kapal menghantam permukaan air dengan guncangan yang menghentak dada. Kardus logistik bergeser, membuat Bahri segera merangkak untuk mengencangkan tali pengikat yang mulai mengendur.
Tak satu pun dari kami berteriak. Di atas kapal kecil ini, setiap orang tahu apa yang harus dikerjakan tanpa perlu diperintah.
Aku melirik ke arah Fajar. Ia berdiri di samping Liong. Satu tangannya mencengkeram tiang pegangan, tangan lainnya memegang radio komunikasi yang sejak tadi lebih sering diam daripada bersuara.
“Masih aman?” teriaknya kepada Liong.
Liong mengangguk tanpa melepaskan pandangan dari depan. “Aman,” jawabnya, lalu menambahkan dengan senyum tipis yang getir, “Asal lautnya juga mau diajak kompromi.”
Aku terkekeh pelan. Bahkan di tengah maut, Liong masih sempat menyelipkan canda. Namun, beberapa saat kemudian wajahnya kembali serius. Di depan kami, ombak datang berlapis-lapis tanpa jeda. Semakin ke utara, gelombang semakin tinggi. Buih-buih putih beterbangan, memukul wajah kami seperti serpihan kaca. Jarak pandang mulai memendek, tertutup tirai hujan yang turun semakin deras.
Pulau Pari yang biasanya tampak jelas, kini menghilang. Yang terlihat hanya dinding air.
Aku mulai menghitung dalam hati. Satu gelombang. Dua. Tiga. Empat. Ayah dulu pernah mengajariku bahwa setelah gelombang keempat biasanya ada jeda. Namun hari itu… laut seolah lupa memberi kami kesempatan.
Sebuah gelombang besar datang dari sisi kanan.
“Liong… kanan!” teriak Bahri.
Liong memutar kemudi dengan sigap. Kapal miring tajam, air laut masuk memenuhi dek. Aku refleks meraih bahu Fajar saat ia hampir kehilangan keseimbangan. Bahri segera mengambil gayung kecil, menguras air sekuat tenaga. Kalau air dibiarkan menggenang, kapal akan semakin berat dan tenggelam.
Di tengah raungan angin, Fajar menepuk bahu Liong. “Jangan lawan ombak! Ikuti iramanya!”
Liong mengangguk. Mereka bicara dalam bahasa yang hanya dimengerti pelaut sejati. Dalam keadaan seperti itu, tak ada jabatan. Tak ada pengurus. Tak ada senior atau junior. Kami hanya empat orang yang sedang berusaha pulang.
Waktu terasa melambat. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan lewat pukul dua siang—seharusnya kami sudah sampai sejak lama. Hari itu, laut mencuri seluruh waktu kami, tetapi tidak bisa mencuri tekad kami.
Lalu… di sela hujan yang mulai menipis, Liong mengangkat tangan menunjuk ke depan. “Itu…!”
Aku mengikuti arah telunjuknya. Mula-mula samar seperti bayangan, lalu perlahan semakin jelas: deretan pohon kelapa, menara air, dan garis pantai yang sangat kukenal.
Dadaku mendadak hangat. “Itu rumah kita…” bisikku nyaris tak terdengar.
Fajar tidak menjawab. Matanya tidak berkedip menatap pulau yang sejak pagi hanya hidup di dalam pikirannya. Namun, aku melihat sesuatu di sudut matanya—bukan air hujan, bukan air laut. Adikku sedang menahan rindu yang sejak tadi dipaksa diam demi tanggung jawabnya.
Aku pikir, setelah melihat Pulau Kelapa, perjalanan kami akan terasa lebih ringan. Aku keliru. Justru ujian terbesar… masih menunggu kami di bibir pantai.
***
“Sesampainya di pulau, kami baru sadar bahwa rumah sedang membutuhkan kami.”
Begitu lambung Kapal Siaga Satu menyentuh dermaga Pulau Kelapa, tak seorang pun di antara kami sempat menghela napas lega. Belum waktunya. Di kejauhan, beberapa lembar seng masih bergantung miring di atas atap rumah, pohon kelapa kehilangan pelepahnya, dan potongan asbes berserakan di jalan setapak yang biasanya ramai dilalui anak-anak pulang sekolah. Angin belum berhenti; ia masih bertiup kasar, seolah belum puas menunjukkan amarahnya.
Begitu kakiku menginjak dermaga, wajah pertama yang kulihat adalah Sahrun. Bajunya basah kuyup, celananya penuh lumpur, dan matanya merah karena kurang tidur. Namun begitu melihat kami, ia tetap menyeringai seperti biasa.
“Baru datang?” tanyanya sambil tertawa. “Kopi di sini sudah tinggal ampas.”
Aku ikut tertawa. Entah kenapa, padahal di belakangnya, beberapa warga sedang menggotong seorang ibu yang tangannya terbalut perban. Begitulah Sahrun; ia selalu punya cara agar orang lain tidak larut dalam kesedihan.
“Bagaimana keadaan?” tanya Fajar langsung.
Wajah Sahrun seketika serius. “Rumah rusak bertambah. Sebelas orang luka, kebanyakan kena pecahan asbes. Yang berat sudah dibawa ke puskesmas, sisanya masih di pengungsian.”
Fajar mengangguk. Tanpa komando, tanpa aba-aba, logistik segera diturunkan: air mineral, mi instan, terpal, selimut, dan obat-obatan. Semua berpindah tangan dari kapal ke dermaga, lalu diteruskan menuju Gedung Karang Taruna yang sejak pagi berubah menjadi tempat perlindungan.
Gedung itu penuh. Anak-anak duduk memeluk lutut, sementara para ibu menggenggam erat pakaian yang sempat diselamatkan. Di sudut ruangan, dapur darurat mulai mengepul. Di antara perempuan yang sibuk mengaduk panci besar, aku melihat Naila. Kerudungnya basah oleh uap, tangannya tak berhenti membagikan makanan kepada anak-anak yang lapar.
Ketika Fajar masuk, mereka hanya sempat bertatapan beberapa detik. Tak ada pelukan, tak ada percakapan panjang. Hanya sebuah senyum tipis, sebelum masing-masing kembali pada tugasnya. Di saat seperti ini, cinta memang harus mengalah kepada kemanusiaan.
Menjelang malam, hujan turun lebih deras. Kami memutuskan mendirikan tenda pleton di halaman pengungsian untuk menyimpan logistik. Tiang demi tiang berdiri, terpal dibentangkan. Untuk beberapa saat, kami mengira semuanya sudah cukup kuat.
Aku keliru.
Sekitar pukul sebelas malam, angin datang dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Suaranya menderu seperti kereta api yang melintas, semakin dekat, semakin keras.
“Lepaskan yang sebelah!” teriak seseorang.
Brraaaak!
Tenda pleton itu terangkat. Tiang utamanya patah. Salah satu tiang besi melayang tepat ke arahku. Aku membeku, semuanya terjadi terlalu cepat. Tiba-tiba, seseorang menerjang dari samping, memeluk tiang itu sekuat tenaga. Tubuhnya terseret beberapa langkah hingga tumitnya menancap di tanah. Tiang itu berhenti.
Orang itu adalah Fajar.
Aku langsung meraih ujung tiang yang lain. Sahrun datang sambil berteriak, “Woi! Tenda jangan ikut terbang! Belum ada tiketnya!”
Di tengah kekacauan itu, entah bagaimana kami masih sempat tertawa. Tawa yang aneh—tawa karena lelah, tawa agar tidak takut, tawa yang hanya dimengerti orang-orang yang sedang berusaha saling menguatkan. Bersama-sama, kami menjatuhkan rangka tenda ke tanah agar tidak diterbangkan angin. Tubuh kami basah kuyup, tangan penuh lumpur, napas memburu, namun tak ada satu pun yang mengeluh.
Malam itu hampir tidak ada yang tidur. Kami terus keluar-masuk pengungsian, membagikan selimut, mengantar obat, dan menenangkan anak-anak yang menangis setiap kali angin mengguncang dinding gedung. Fajar tak berhenti menerima telepon—dari organisasi, dari Bupati, dari berbagai pihak di Jakarta. Ia melaporkan segalanya apa adanya, tanpa dilebih-lebihkan.
Ketika azan Subuh berkumandang, aku baru menyadari satu hal: kami memang berhasil menembus laut, tetapi kemenangan ini bukan karena keberanian kami semata. Melainkan karena ada ratusan tangan di pulau ini yang tidak pernah berhenti saling menguatkan.
Di antara suara angin yang mulai melemah, aku melihat Fajar duduk sendirian di anak tangga gedung pengungsian. Ia memandang laut yang semalam nyaris merenggut perjalanan kami, lalu tersenyum kecil.
Mungkin karena akhirnya ia berhasil pulang. Bukan sebagai seorang adik, bukan sebagai seorang pengurus, melainkan sebagai anak pulau yang kembali tepat ketika kampungnya paling membutuhkan.
***
Empat belas tahun sudah berlalu. Laut yang dulu mengamuk kini kembali tenang. Jika aku berdiri di dermaga Pulau Kelapa pada sore hari, sulit rasanya membayangkan bahwa perairan yang tampak damai itu pernah mengurung kampung kami dalam ketakutan selama berhari-hari.
Anak-anak kembali bermain di pantai, perahu nelayan kembali berangkat menjelang subuh, dan para wisatawan kembali memotret matahari terbenam. Seolah laut ingin meminta maaf atas amarahnya waktu itu. Namun, kami, orang-orang pulau, tahu bahwa laut tidak pernah perlu meminta maaf; ia hanya sedang menjalankan tugasnya.
Orang-orang masih sering bertanya, “Masih ingat perjalanan Kapal Siaga Satu?”
Aku selalu tersenyum. Bagaimana mungkin aku lupa? Di kapal kecil itulah aku belajar bahwa keberanian bukan berarti ketiadaan rasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah, meski kita tahu rasa takut sedang duduk tepat di samping kita.
Banyak yang memuji Fajar. Katanya ia berani, pantang menyerah, dan selalu berada di garis depan. Aku hanya tertawa kecil. Mereka mengenal Fajar sebagai sosok yang sekarang—pemimpin yang tegas.
Aku mengenalnya sejak ia masih berlari tanpa sandal di pasir putih Pulau Kelapa. Aku tahu, di balik ketegasannya, ia tetaplah adik bungsu yang dulu selalu memintaku mengupas mangga muda. Ia masih Fajar yang sama.
Hari ini, ketika melihatnya memimpin rapat kemanusiaan atau berbicara mewakili organisasi yang kini dipimpinnya, aku sering teringat malam saat ia berdiri di haluan kapal. Tatapannya masih sama, selalu lurus ke depan.
Bedanya, jika dulu ia menjaga sebuah kampung, kini ia menjaga harapan banyak orang. Aku bangga bukan karena ia menjadi pemimpin, tetapi karena ia tidak pernah berubah menjadi orang lain. Ia tetap anak pulau yang percaya bahwa musibah harus dihadapi bersama.
Sahrun, Naila, Dimas, Liong, dan Bahri… kami masih sering berkumpul. Jika pembicaraan mulai mengarah ke malam badai itu, biasanya semua akan terdiam sejenak, lalu salah satu dari kami akan tertawa—entah siapa yang memulai. Begitulah cara kami mengenang luka: dengan syukur, bukan dengan sesal.
Ada satu hal yang tidak pernah kuceritakan kepada Fajar, dan mungkin sampai buku ini selesai pun ia tidak akan pernah tahu. Malam ketika tenda itu hampir roboh menimpanya, aku benar-benar takut. Aku tidak takut kehilangan diriku, aku hanya takut kehilangan adikku—takut kehilangan anak yang sejak kecil kujaga, yang mimpinya pernah kutitipkan pada setiap tetes keringatku.
Syukurlah, Tuhan masih mengizinkanku melihatnya terus berjalan, melihatnya tumbuh, melihatnya menjadi seseorang yang berguna. Bagi seorang kakak, anugerah sebesar itu sudah lebih dari cukup.
Kini rambutku mulai memutih, waktu berjalan begitu cepat. Namun, setiap kali angin barat kembali datang, aku selalu berdiri beberapa saat di tepi pantai. Memandang laut, bukan karena takut, melainkan karena ingin mengingat.
Bahwa pernah ada satu hari ketika empat orang berangkat dengan kapal kecil, membawa logistik yang tak seberapa, namun membawa keyakinan yang begitu besar. Keyakinan itulah yang akhirnya mengantarkan harapan ke kampung kami.
Orang sering berkata bahwa setiap matahari pasti akan tenggelam. Aku tidak membantah. Tetapi aku percaya, selama masih ada yang bersedia menunggu senja, akan selalu ada yang menjaga fajar. Dan selama masih ada orang-orang yang memilih menolong tanpa bertanya siapa yang akan ditolong, dunia tidak akan pernah benar-benar gelap.
“Untuk semua kakak yang diam-diam mengalah agar adiknya bisa bermimpi. Dan untuk semua relawan yang memilih berangkat, ketika yang lain memilih menunggu laut tenang.”
— Senja Buana



