Bagi sebagian orang, membeli sayur hanya perlu berjalan ke pasar. Namun bagi warga Pulau Kelapa, seikat kangkung harus lebih dulu menyeberangi laut. Dari antrean di dermaga hingga kebun hidroponik sederhana, lahirlah cerita tentang perjuangan sebuah pulau mengurangi ketergantungan pada pasokan dari daratan.
Sekitar pukul dua siang, Dermaga Pulau Kelapa mulai ramai.
Beberapa ibu rumah tangga sudah berdiri di sisi pelabuhan sejak kapal logistik masih tampak seperti titik kecil di kejauhan. Di tangan mereka hanya ada tas belanja dan harapan sederhana: membawa pulang sayur segar untuk dimasak sore nanti.
Begitu kapal merapat, suasana mendadak berubah.
Tak ada aba-aba. Tak ada peluit.
Puluhan tangan bergerak hampir bersamaan menuju tumpukan sayuran yang baru diturunkan dari lambung kapal.
Kangkung.
Bayam.
Sawi.
Siapa yang lebih cepat, dialah yang lebih dulu memilih.
Bukan karena warga senang berebut.
Mereka tahu, jika terlambat beberapa menit saja, pilihan yang tersisa biasanya hanya sayuran yang mulai layu setelah menempuh perjalanan lebih dari dua jam melintasi Laut Jawa.
“Di sini kalau sayur memang harus berebut. Kadang yang kita dapat sudah tidak segar, tapi tetap dibeli karena cepat habis,” tutur Julian Puput Lendri, warga Pulau Kelapa, mengenang rutinitas yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pulau.
Bagi warga Jakarta, harga kangkung mungkin hanya beberapa ribu rupiah seikat. Namun sesampainya di pulau, nilainya bisa melonjak dua bahkan tiga kali lipat. Ongkos pengangkutan dan perjalanan laut membuat harga kebutuhan pokok ikut menyeberang bersama ombak.
Persoalan itu menjadi semakin berat ketika cuaca sedang tidak bersahabat.
Angin kencang dan gelombang tinggi kerap memaksa kapal logistik menunda pelayaran. Saat itulah kecemasan mulai muncul di setiap dapur rumah warga. Persediaan sayur semakin menipis, sementara kapal yang ditunggu belum tentu bisa bersandar sesuai jadwal.
Selama bertahun-tahun, keadaan itu seolah menjadi kenyataan yang harus diterima.
Namun, sebagian perempuan di Pulau Kelapa memilih tidak berhenti pada keluhan.
Mereka mulai bertanya kepada diri sendiri, mengapa harus selalu menunggu kapal jika sebagian kebutuhan bisa ditanam sendiri?
Pertanyaan sederhana itu kemudian tumbuh menjadi langkah nyata.
Pada 2018, dengan pendampingan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Kepulauan Seribu, sejumlah perempuan membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Hijau Daun.
Mereka tidak memiliki sawah yang luas.
Tidak pula tanah hitam yang subur.
Yang mereka miliki hanyalah hamparan pulau berpasir, air tanah yang terbatas, dan tekad untuk mengubah keadaan.
Maka mereka memilih hidroponik.
Di atas rak-rak sederhana yang berdiri di lahan sekitar 30 x 10 meter, bibit kangkung, bayam, pakcoy, hingga cabai mulai tumbuh. Air hujan yang ditampung dari atap rumah dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan tanaman, sementara sinar matahari menjadi sahabat yang tak pernah absen setiap hari.
Sedikit demi sedikit, warna hijau mulai menghiasi sudut pulau yang sebelumnya lebih akrab dengan pasir putih dan semilir angin laut.
“Kalau menanam sendiri, kebutuhan dapur bisa terbantu. Selain itu hasilnya juga lebih segar,” ujar Rosda, Ketua KWT Hijau Daun Pulau Kelapa Dua.
Apa yang dilakukan para perempuan ini mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi masyarakat pulau, setiap lembar daun kangkung yang dipanen adalah bukti bahwa ketergantungan bisa dikurangi, meski tidak dihilangkan sepenuhnya.
Upaya itu bahkan mendapat perhatian lebih luas. Program urban farming yang mereka jalankan pernah meraih penghargaan sebagai salah satu yang terbaik di DKI Jakarta pada 2025.
Meski demikian, perjalanan menuju kemandirian pangan masih panjang.
Budidaya hidroponik di pulau hingga kini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat. Skala produksi masih terbatas dan sebagian kegiatan masih bergantung pada dukungan bibit serta pendampingan pemerintah.
Bagi pengamat Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, langkah yang dilakukan perempuan Pulau Kelapa merupakan fondasi penting bagi pulau-pulau kecil. Menurutnya, tujuan utama pertanian di wilayah kepulauan bukan mengejar produksi besar, melainkan memastikan masyarakat memiliki akses terhadap sayur dan buah segar tanpa bergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar.
Namun ia mengingatkan, keberhasilan tidak cukup hanya dengan menanam. Perlu dukungan berkelanjutan, mulai dari perencanaan kebutuhan pangan, pendampingan, hingga penguatan akses pasar agar semangat masyarakat tidak berhenti di tengah jalan.
Menjelang sore, kapal logistik akhirnya meninggalkan dermaga.
Keramaian perlahan kembali reda.
Sebagian ibu pulang membawa kantong berisi sayuran dari kapal.
Sebagian lainnya pulang sambil menyempatkan diri melihat tanaman hidroponik yang mulai siap dipanen.
Dua pemandangan itu mungkin terlihat biasa.
Namun sesungguhnya keduanya sedang bercerita tentang satu hal yang sama.
Tentang sebuah pulau yang perlahan belajar mengurangi ketergantungan.
Tentang perempuan-perempuan yang memilih menanam daripada terus menunggu.
Dan tentang keyakinan bahwa di tengah laut sekalipun, harapan bisa tumbuh.
Bukan di sawah yang luas.
Melainkan dari selembar daun kangkung yang tumbuh di atas rak hidroponik sederhana.
🌴 Cerita dari Pembaca
Apakah di pulau Anda juga pernah mengalami sulitnya mendapatkan sayur segar saat cuaca buruk?
Atau memiliki kisah tentang kebun, hidroponik, maupun tanaman pangan lokal yang membantu memenuhi kebutuhan keluarga?
Ceritakan kepada Redaksi BPSNet, agar jejak-jejak kecil tentang kehidupan masyarakat pulau tetap hidup dan menginspirasi generasi berikutnya.



