Jelajahi Keindahan Tropis Kepulauan Seribu
Ad ⓘ
Jelajahi Keindahan Tropis Kepulauan Seribu
Ad ⓘ
Pengelolaan Sampah Mandiri Kepulauan Seribu
Ad ⓘ

Mengko, Cara Unik Nelayan Berburu Udang Mantis

Avatar photo
Nelayan memasang jeratan dan mengangkat pengko atau udang mantis dari lubang saat air laut surut di Kepulauan Seribu.
Nelayan memperlihatkan pengko atau udang mantis yang berhasil ditangkap menggunakan jeratan saat air laut surut. Aktivitas mengko masih dilakukan oleh sebagian nelayan sebagai sumber penghidupan sekaligus warisan pengetahuan lokal. Ilustrasi: AI/BPSNet.
Jelajahi Keindahan Tropis Kepulauan Seribu
Ad ⓘ
🌴 Jejak Pulau

Di balik hamparan pasir yang muncul saat air laut surut, ada keterampilan membaca alam yang diwariskan turun-temurun oleh nelayan. Mereka menyebutnya mengko, cara unik berburu udang mantis yang hingga kini masih bertahan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pulau.

“Plak… plak… plak…”

Tepukan itu terdengar pelan di atas permukaan air yang mulai surut. Seorang nelayan berdiri memandangi sebuah lubang kecil di hamparan lumpur, lalu tersenyum sambil berkata lirih, “Woi Pengko… tuh gue kasih makan.”

Bagi orang yang baru pertama kali melihatnya, pemandangan itu mungkin terasa lucu. Namun bagi nelayan pulau, menepak air bukan sekadar gurauan. Kebiasaan itu telah menjadi bagian dari aktivitas mengko, sebutan yang digunakan masyarakat untuk berburu pengko atau udang mantis, salah satu hasil laut bernilai tinggi yang hidup di dasar perairan dangkal.

Mengko bukan pekerjaan yang mengandalkan tenaga, melainkan kesabaran, ketelitian, dan pengalaman membaca alam. Semua dimulai ketika air laut surut. Saat sebagian orang melihat hamparan pasir dan lumpur yang kosong, para nelayan justru melihat “peta” yang penuh tanda.

Mereka menyusuri dasar laut sambil mengamati permukaan tanah. Sasaran mereka bukan ikan yang berenang atau kerang yang terlihat di permukaan, melainkan sebuah lubang kecil berdiameter sekitar lima hingga tujuh sentimeter yang hampir tidak terlihat oleh mata orang awam.

Menemukan lubang itulah tantangan sesungguhnya.

Jika salah membaca, lubang yang tampak sama bisa saja hanya bekas hewan laut lain. Namun bagi nelayan yang sudah bertahun-tahun menggeluti mengko, bentuk lubang, posisi di hamparan pasir, hingga kondisi lumpur di sekitarnya menjadi petunjuk apakah seekor pengko sedang bersembunyi di dalamnya.

Setelah yakin, mulut lubang biasanya diperlebar hingga sekitar 12 sampai 15 sentimeter agar alat tangkap lebih mudah dipasang.

Infografis proses mengko, mulai dari mencari lubang pengko, memasang jeratan, hingga membawa udang mantis hidup dalam botol bekas.
Infografis proses mengko, cara unik nelayan berburu pengko atau udang mantis dengan jeratan berbahan tangsi, kemudian menyimpan hasil tangkapan tetap hidup menggunakan botol bekas sebelum dipasarkan ke restoran. Ilustrasi: AI/BPSNet.

Berbeda dengan anggapan banyak orang yang mengira pengko ditangkap menggunakan pancing, sebagian besar nelayan justru mengandalkan alat yang sangat sederhana.

Mereka menggunakan batang bambu sepanjang sekitar 60 hingga 80 sentimeter yang dipasangi jeratan dari senar atau tangsi. Pada ujung jeratan digantung umpan berupa ikan kecil yang sudah mati. Alat itu kemudian dimasukkan ke dalam lubang sebelum ditinggalkan mengikuti siklus pasang surut.

Jika dipasang saat air surut pagi, pemeriksaan biasanya dilakukan menjelang sore. Sebaliknya, bila dipasang saat surut sore, jeratan baru diangkat keesokan paginya.

Cara ini masih dipertahankan karena dianggap paling efektif.

Beberapa nelayan memang pernah mencoba menggunakan kail atau pancing garong. Namun pengalaman menunjukkan cara tersebut justru lebih sering melukai tubuh pengko ketika ditarik keluar dari lubangnya. Tidak jarang udang mati sebelum sampai ke tangan pembeli.

Padahal, bagi nelayan, mempertahankan pengko tetap hidup memiliki nilai yang jauh lebih penting.

Udang mantis hidup memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan yang sudah mati. Selain dianggap lebih segar, kualitas dagingnya dinilai lebih baik ketika diolah menjadi hidangan.

Karena itulah jeratan sederhana dari tangsi tetap menjadi pilihan hingga sekarang.

Tradisi mengko ternyata masih bertahan di beberapa pulau. Salah satunya di Pulau Payung, Kelurahan Pulau Tidung. Hingga kini, sejumlah nelayan masih rutin mencari pengko ketika air laut surut.

Hasil tangkapan kemudian dijual kepada pengepul maupun langsung dipasok ke sejumlah restoran di kawasan Kepulauan Seribu, di antaranya Nusa Resto dan Keramba Harun.

Di tempat-tempat itulah pengko berubah dari penghuni lubang di dasar laut menjadi menu favorit wisatawan.

Meski dagingnya tidak sebanyak udang windu atau lobster, pengko memiliki tekstur yang lembut dengan rasa manis alami yang khas. Tidak heran jika hidangan ini banyak diburu wisatawan yang ingin menikmati makanan laut premium.

Di kalangan sebagian masyarakat pulau juga berkembang cerita bahwa mengonsumsi pengko dipercaya dapat membantu meningkatkan vitalitas pria. Kepercayaan tersebut telah lama beredar dari mulut ke mulut sebagai bagian dari pengetahuan lokal, meski belum didukung bukti ilmiah yang memadai.

Keunikan lain terlihat setelah pengko berhasil ditangkap.

Alih-alih dimasukkan ke dalam ember, setiap ekor biasanya ditempatkan di dalam botol bekas air mineral. Cara sederhana ini memudahkan nelayan membawa hasil tangkapan sekaligus membantu menjaga pengko tetap hidup hingga tiba di tangan pembeli.

Botol bekas yang bagi sebagian orang hanyalah sampah, di tangan nelayan berubah menjadi wadah praktis yang memiliki nilai ekonomi.

Di balik aktivitas mengko, tersimpan pengetahuan yang tidak diajarkan di ruang kelas. Nelayan belajar mengenali waktu terbaik saat air surut, membaca bentuk lubang di dasar laut, memahami kebiasaan pengko, hingga menentukan jenis umpan yang paling tepat.

Semua itu diwariskan melalui pengalaman, dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Mungkin itulah yang membuat tepukan kecil di atas permukaan air tetap dipertahankan hingga sekarang.

Apakah tepukan itu benar-benar memancing respons pengko, atau hanya kebiasaan yang diwariskan turun-temurun, tidak ada yang benar-benar bisa memastikan. Namun bagi para nelayan, kebiasaan itu telah menjadi bagian dari mengko yang sulit dipisahkan.

Dan setiap kali suara “plak… plak… plak…” kembali terdengar di hamparan pasir saat air laut surut, tradisi itu seolah mengingatkan bahwa pengetahuan lokal tidak selalu ditulis dalam buku. Ada yang hidup dalam langkah kaki nelayan, dalam sebatang bambu, seutas tangsi, dan sebuah sapaan sederhana yang hanya dipahami oleh mereka yang akrab dengan laut.

“Woi Pengko… tuh gue kasih makan.”


🌴 Cerita dari Pembaca

Apakah di pulau Anda juga mengenal mengko atau memiliki sebutan lain untuk udang mantis?

Bagaimana cara nelayan di tempat Anda menangkapnya?

Ceritakan kepada Redaksi BPSNet, agar pengetahuan lokal masyarakat pulau tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Jelajahi Keindahan Tropis Kepulauan Seribu
Ad ⓘ

Tinggalkan Balasan