BeritaPulauSeribu
BeritaPulauSeribu
*, Ekonomi  

Bukan Sekadar Bagi Sembako, The Anthea Project Gerakkan UMKM Kepulauan Seribu

Avatar photo
Produk UMKM Kepulauan Seribu berupa kerupuk ikan dan teri olahan disiapkan bersama bahan pokok lainnya sebagai isi paket sembako The Anthea Project. Foto: Istimewa
Produk UMKM Kepulauan Seribu berupa kerupuk ikan dan teri olahan disiapkan bersama bahan pokok lainnya sebagai isi paket sembako The Anthea Project. Foto: Istimewa

📌 Ringkasan Berita

  • 901 paket untuk warga duafa: The Anthea Project menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat kurang mampu di Kepulauan Seribu dengan melibatkan UMKM lokal sebagai pemasok berbagai kebutuhan pangan.
  • Gerakkan ekonomi pulau: Produk unggulan seperti kerupuk ikan dan teri olahan hasil UMKM Kepulauan Seribu menjadi bagian dari paket bantuan sehingga manfaat program tidak hanya dirasakan penerima, tetapi juga pelaku usaha lokal.

Tidung, BPSNet – Bantuan sosial tak selalu berhenti di tangan penerima manfaat, karena The Anthea Project membuktikan penyaluran sembako juga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat dengan melibatkan pelaku UMKM Kepulauan Seribu sebagai pemasok utama produk dalam setiap paket bantuan.

Advertisement

Sebanyak 901 paket sembako disalurkan kepada masyarakat duafa di Kepulauan Seribu dengan memprioritaskan produk hasil usaha lokal, mulai dari kerupuk ikan hingga teri olahan, sehingga manfaat program tidak hanya dirasakan warga penerima, tetapi juga pelaku usaha kecil di wilayah kepulauan.

Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh CEO The Anthea Project, Ruhani Nitiyudo, kepada masyarakat penerima manfaat yang tersebar di wilayah Kepulauan Seribu Selatan dan Kepulauan Seribu Utara.

Berbeda dengan program bantuan pada umumnya, setiap paket sembako sengaja dirancang untuk melibatkan warung dan produsen lokal agar roda perekonomian masyarakat ikut bergerak seiring penyaluran bantuan.

Isi paket bantuan terdiri dari beras 10 kilogram, minyak goreng satu liter, gula pasir setengah kilogram, teh celup, tiga bungkus abon, kerupuk ikan, serta teri olahan asal Lancang yang diproduksi oleh pelaku UMKM Kepulauan Seribu.

CEO The Anthea Project, Ruhani Nitiyudo, menyerahkan secara simbolis paket sembako kepada warga duafa di Kepulauan Seribu dalam program pemberdayaan UMKM lokal. Foto: Istimewa
CEO The Anthea Project, Ruhani Nitiyudo, menyerahkan secara simbolis paket sembako kepada warga duafa di Kepulauan Seribu dalam program pemberdayaan UMKM lokal. Foto: Istimewa

Keterlibatan produk lokal tersebut menjadi nilai tambah karena memberikan kepastian pasar bagi pelaku usaha kecil sekaligus memperkenalkan hasil olahan khas Kepulauan Seribu kepada masyarakat penerima manfaat.

Pendamping UMKM Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Ukhriyatul Ambiyah, mengatakan program ini menjadi contoh bahwa bantuan sosial dapat dirancang lebih berdampak melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Program ini dirancang untuk meringankan beban masyarakat sekaligus menggerakkan perekonomian akar rumput dengan menjadikan warung dan produsen kecil sebagai penyedia pasokan pokok lokal,” ujar Ukhriyatul Ambiyah.

Menurutnya, konsep tersebut menciptakan manfaat ganda karena bantuan tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga meningkatkan omzet pelaku UMKM yang menjadi bagian dari rantai pasok program.

Di wilayah Kepulauan Seribu Selatan, bantuan disalurkan kepada 243 penerima di Tidung, 76 penerima di Lancang, 24 penerima di Pari, dan 121 penerima di Untung Jawa, sehingga total mencapai 464 paket.

Sementara di wilayah Kepulauan Seribu Utara, bantuan diberikan kepada 107 penerima di Harapan dan Sabira, 78 penerima di Panggang dan Pramuka, serta 252 penerima di Kelapa dan Kelapa Dua, dengan total 437 paket.

Secara keseluruhan The Anthea Project menyiapkan 1.298 paket sembako, di mana 901 paket disalurkan kepada masyarakat duafa di Kepulauan Seribu, sedangkan sisanya didistribusikan kepada penerima manfaat di wilayah Sawangan, Depok.

Program ini menunjukkan bahwa kegiatan sosial tidak harus berhenti sebagai aksi berbagi, tetapi juga dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi yang memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

Model kolaborasi antara kegiatan sosial dan pemberdayaan UMKM tersebut diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak lembaga maupun dunia usaha untuk menghadirkan bantuan yang tidak hanya menyentuh aspek kemanusiaan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi daerah.