Desa Wisata Pulau Kelapa memasuki tahapan verifikasi lapangan untuk meraih Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan dari Kementerian Pariwisata RI. Penilaian meliputi aspek pengelolaan, budaya, ekonomi masyarakat, hingga kelestarian lingkungan.
Kelapa, BPSNet – Desa Wisata Pulau Kelapa memasuki tahapan penting dalam upaya meraih Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan. Tim Kementerian Pariwisata RI melakukan verifikasi lapangan dengan meninjau berbagai aspek pengelolaan destinasi, mulai dari budaya, lingkungan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat, Kamis (16/7).
Asesmen lapangan dipimpin Asisten Deputi Perancangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata RI, Muhammad Nurdin, sebagai bagian dari proses verifikasi penerapan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan di Desa Wisata Pulau Kelapa.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari tahapan pengajuan Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan bagi Desa Wisata Pulau Kelapa. Tim melakukan verifikasi langsung terhadap implementasi praktik-praktik pariwisata berkelanjutan di lapangan sesuai kriteria yang telah ditetapkan,” ujar Muhammad Nurdin.
Dalam proses verifikasi, tim meninjau sejumlah lokasi yang menjadi indikator penilaian. Untuk aspek pengelolaan berkelanjutan, tim mengunjungi Sekretariat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pada aspek budaya dilakukan peninjauan ke Sanggar Seni Kembang Kelapa dan Kampung Adat Bugis.
Sementara itu, aspek sosial ekonomi dinilai melalui kunjungan ke sejumlah unit usaha masyarakat, seperti kafe, Souvenir Bahari, dan Batik Ecoprint. Adapun aspek keberlanjutan lingkungan meliputi peninjauan fasilitas BWRO Pulau Kelapa, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Bank Sampah Kresek Indah, hingga kawasan Taman Nasional Seksi I Kelapa Dua.
Lurah Pulau Kelapa, Muhammad Adriansyah, mengatakan pemerintah kelurahan bersama seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat sarana pendukung pariwisata dan lingkungan guna memenuhi standar desa wisata berkelanjutan.
“Kami terus melakukan pemeliharaan dan peningkatan fasilitas sesuai rencana masing-masing UKPD. Dalam waktu mendatang akan ada peningkatan mesin SWRO dan BWRO untuk mendukung kebutuhan air bersih masyarakat serta wisatawan,” katanya.
Selain penyediaan air bersih, pengelolaan sampah juga menjadi perhatian. Menurut Adriansyah, Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pulau Kelapa akan ditingkatkan seiring rencana pembangunan TPS3R oleh Sudin Lingkungan Hidup.
“Peningkatan TPS dan pembangunan TPS3R menjadi bagian dari penguatan pengelolaan sampah dan lingkungan yang berkelanjutan,” tambahnya.
Apabila memenuhi seluruh indikator penilaian, Desa Wisata Pulau Kelapa berpeluang memperoleh Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan dari Kementerian Pariwisata RI.
Pengakuan tersebut diharapkan semakin memperkuat daya saing pariwisata Kepulauan Seribu sekaligus mendorong pengelolaan destinasi yang mengedepankan keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial budaya, dan kelestarian lingkungan.







