Serka Aryanto, Babinsa yang telah mengabdi 12 tahun di Kepulauan Seribu, konsisten memerangi ancaman sampah kiriman dari daratan hulu. Melalui program Jaga Jayakarta, ia aktif merawat lingkungan demi kelangsungan hidup nelayan tradisional.
Kepulauan Seribu, BPSNet β Bagi Sersan Kepala (Serka) Aryanto, pengabdian selama 12 tahun di Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, memberikan tantangan tersendiri. Musuh terbesarnya saat ini bukanlah konflik bersenjata, melainkan tumpukan sampah laut.
Ariyanto merasa prihatin melihat kondisi perairan pesisir yang kerap tercemar oleh perilaku buang sampah sembarangan. Sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa), panggilan jiwa mendorongnya untuk bergerak langsung membersihkan lingkungan perairan.
βMirislah kalau memang melihat sampah ya, prihatin. Buang sampah sembarangan, kotor lautlah. Kita sebagai Babinsa merasa terpanggil di sini,β kata Ariyanto dikutip dari keterangan resmi Penkodam Jaya, Selasa (14/7).
Bagi jajaran TNI di pulau, seragam tentara bukan sekadar simbol pertahanan negara. Pakaian dinas tersebut menjadi wujud janji setia untuk merawat kehidupan masyarakat yang tinggal sunyi di ujung dermaga.
Setiap hari pesisir Kepulauan Seribu terus menerima kedatangan puluhan ton limbah. Sebagian besar plastik yang mengotori pulau bukanlah dari warga lokal, melainkan sampah kiriman daratan hulu yang hanyut terbawa muara.
Ariyanto menjelaskan bahwa tantangan lingkungan di wilayah pesisir ini tidak akan selesai dalam semalam. Jika dibiarkan mengendap, limbah plastik pelan tapi pasti merusak ekosistem terumbu karang yang sangat vital.
Dampak kerusakan lingkungan tersebut secara langsung mengikis mata pencaharian utama para nelayan tradisional. Kelangsungan hidup masyarakat pulau sangat menggantungkan sumber pendapatan harian mereka dari kondisi kelestarian alam bawah laut.
Melalui program Jaga Jayakarta, TNI konsisten turun ke pesisir merawat dua hal berharga. Upaya ini mencakup aspek Jaga Warga untuk ketenangan melaut, serta Jaga Bumi guna mengurangi beban pencemaran alam.
βKami memilih untuk tidak tinggal diam, karena pertahanan terbaik dimulai dari lingkungan yang sehat,β tegas Ariyanto. Langkah kecil ini diharapkan mampu membangkitkan kesadaran bersama menjaga ekosistem.








