✦ Takdir Menjaga Cinta ✦
Takdir tidak selalu mempertemukan dua hati hingga akhir perjalanan. Kadang, ia justru menjaga cinta tetap hidup dalam doa, kesetiaan, dan harapan, sampai Allah mempertemukannya kembali pada waktu terbaik menurut-Nya.
✦✦✦
“Nek… benar nggak, Karang Pengantin itu ada?”
Aku tidak langsung menjawab. Jemari tuaku masih sibuk mengusap butiran tasbih yang hampir tak pernah lepas dari genggamanku — kayunya sudah menghitam dimakan usia, talinya pernah putus entah berapa kali, lalu kusambung kembali dengan simpul-simpul kecil yang kini nyaris tak terlihat. Di hadapanku, laut menjelang senja masih memantulkan cahaya keemasan seperti yang selalu kuingat sejak muda.
Pertanyaan itu bukan pertama kali kudengar. Anak-anak pulau selalu tumbuh bersama cerita tentang Karang Pengantin, dan setiap kali nama itu disebut, aku lebih sering memilih diam.
“Nenek pernah lihat?”
Aku menoleh. Cucu perempuanku sudah duduk di sampingku, wajahnya penuh rasa ingin tahu, persis seperti anak-anak pulau pada umumnya. Aku tersenyum kecil.
Ia memandangku lekat.
“Guru bilang setiap pulau punya cerita. Teman-teman bilang Karang Pengantin cuma dongeng. Ibu bilang, kalau ada yang benar-benar tahu, itu Nenek.”
Aku kembali mengusap tasbih di tanganku. Entah mengapa, setiap kali jemariku menyentuh butiran-butiran kayu itu, waktu seperti berjalan mundur. Laut yang kulihat bukan lagi laut hari ini, angin yang kurasakan bukan lagi angin senja ini — semuanya seakan membawaku pulang ke sebuah hari yang sudah lewat lebih dari enam puluh tahun, tetapi tak pernah benar-benar pergi dari ingatanku.
“Nek…”
Suara cucuku membuyarkan lamunanku.
“Kalau Nenek tidak bercerita, nanti siapa lagi yang akan mengingatnya?”
Aku menarik napas panjang. Pertanyaan itu lebih berat daripada yang ia bayangkan — bukan karena aku takut mengingatnya, melainkan karena setiap kali kisah itu kuceritakan, aku harus kembali berjalan menyusuri jalan yang sama, mendengar suara yang sama, melihat laut yang sama, dan kehilangan orang yang sama.
Aku memandang cakrawala cukup lama, lalu kutundukkan kepala.
“Tahukah kamu, Nak… selama ini orang-orang mengira mereka sedang menceritakan asal-usul Karang Pengantin.”
Aku berhenti sejenak.
“Padahal yang ingin kuceritakan bukan tentang sebuah karang. Bukan pula tentang ombak. Bukan tentang mitos.”
Aku menggenggam tasbih itu sedikit lebih erat.
“Yang ingin kuceritakan adalah tentang seorang lelaki yang mengajarkanku arti mencintai karena Allah.”
Aku menatap cucuku.
“Namanya…”
“…Saifudin.”
✦✦✦
Usiaku baru enam belas tahun ketika hidup terasa begitu ringan.
Setiap pagi aku terbangun oleh suara ombak yang memecah pelan di bawah rumah panggung kami. Burung camar berputar rendah di langit Pulau Panggang, sementara aroma laut yang asin selalu lebih dulu menyapa daripada bau kopi yang sedang diseduh Ibu di dapur. Aku sering berpikir, mungkin beginilah rupa kebahagiaan — sederhana, namun cukup untuk membuat seseorang tersenyum sejak membuka mata.
“Ayo bangun, Fatimah,” suara Ibu terdengar dari balik pintu. “Jangan sampai Hasanah datang duluan.”
Aku tersenyum sendiri. Hasanah memang tidak pernah pandai menyimpan kabar gembira. Sejak keluarga Saifudin datang beberapa hari lalu, hampir setiap pagi ia selalu menemukan alasan untuk datang ke rumah — kadang hanya meminjam kelapa, kadang mencari daun pandan, padahal yang ingin ia lihat bukan kelapa ataupun pandan, melainkan wajahku.
Dan pagi itu pun sama. Belum sempat aku menyisir rambut, suara langkahnya sudah terdengar di jembatan kayu.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Ibu dari dapur.
“Tuh kan…” Hasanah langsung masuk sambil terkekeh. “Masih dandan.”
Aku melemparkan tatapan kesal yang justru membuatnya tertawa lebih keras.
“Jangan ganggu Fatimah,” tegur Ibu sambil membawa dua cangkir teh hangat.
Hasanah mengangguk patuh — hanya beberapa detik, lalu ia kembali mendekatiku.
“Fat…”
“Apa lagi?”
“Masih nggak percaya ya… sebentar lagi kamu jadi istri ustaz.”
Aku menepuk pelan lengannya. “Hasanah…”
“Aku serius.” Ia menatapku dengan wajah yang kali ini tidak sedang bercanda. “Coba lihat seluruh Pulau Panggang. Gadis mana yang tidak ingin dipinang Saifudin?”
Aku tidak menjawab. Bukan karena malu, tetapi karena aku sendiri sering bertanya dalam hati, mengapa lelaki sebaik itu memilihku.
Saifudin bukan anak saudagar. Rumahnya jauh lebih sederhana daripada rumah kami, dan ia hanya tinggal berdua dengan ibunya, Hafsah — namun tidak ada seorang pun di pulau yang memandang rendah keluarganya. Enam tahun ia menuntut ilmu di sebuah pesantren di Banten. Ketika pulang, ia tidak membawa peti berisi emas; ia membawa Al-Qur’an di dalam dadanya.
Orang-orang mulai memanggilnya Ustaz Saifudin. Setiap sore serambi masjid dipenuhi anak-anak yang belajar mengaji bersamanya, dan setiap azan berkumandang, suaranya sering memimpin salat sebagai imam. Setiap kali ada warga yang membutuhkan bantuan, hampir selalu ia datang lebih dulu sebelum diminta — entah memperbaiki perahu, mengangkat barang, mengantar orang sakit, atau sekadar menemani seorang nelayan tua yang kehilangan teman berbicara.
Yang paling kuingat bukan wajahnya, melainkan senyumnya — seolah ia tidak pernah belajar memandang orang lain tanpa lebih dulu menghadiahkan ketulusan.
Bertahun-tahun kemudian aku baru mengerti: ada senyum yang sanggup dikenang jauh lebih lama daripada wajahnya.
“Fatimah…”
Lamunanku buyar. Ayah baru saja pulang dari dermaga, sorban putihnya masih tergantung di bahu.
“Saifudin tadi mampir.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Katanya nanti sore dia ingin membantu memperbaiki atap surau.”
Ibu tersenyum kecil. “Lelaki itu memang tidak bisa diam.”
Ayah mengangguk. “Lelaki yang sibuk mencari manfaat untuk orang lain biasanya akan sibuk menjaga keluarganya.”
Aku menunduk. Kalimat Ayah membuat pipiku kembali hangat.
Di luar rumah, Hasanah kembali menggoda. “Nah… Haji Ramli saja sudah sayang sama calon menantunya.”
Aku hanya bisa tertawa kecil. Di pulau kecil seperti tempat kami tinggal, kabar baik selalu berlayar lebih cepat daripada angin.
Namun ternyata, bukan hanya kabar bahagia yang sedang berlayar hari itu.
Di rumah paling besar di ujung pulau, seorang pemuda bernama Imron sedang duduk terdiam, secangkir kopi telah dingin di hadapannya sejak tadi.
“Benarkah Fatimah sudah menerima lamaran Saifudin, Pak?”
Pak Makmur tidak langsung menjawab. Ia memandang anak laki-lakinya cukup lama, lalu mengangguk pelan.
“Iya.”
Hanya satu kata — namun cukup membuat Imron mengerti bahwa ia telah terlambat. Tak ada amarah, tak ada kecewa yang diucapkan. Ia hanya menatap ke arah laut melalui jendela rumah.
Laut yang sama, pulau yang sama — tetapi sejak siang itu, rasanya tak lagi benar-benar sama.
✦✦✦
Setelah khitbah itu, ada satu kebiasaan baru yang diam-diam kulakukan: aku selalu memilih jalan memutar. Padahal kalau ingin ke rumah Hasanah, ada jalan yang lebih dekat, namun entah mengapa kakiku selalu membawa langkahku melewati serambi masjid. Aku tahu, menjelang Asar biasanya anak-anak mulai berdatangan — dan aku juga tahu siapa yang akan duduk di sana.
“Fatimah…”
Suara Hasanah membuatku terkejut. Sejak kapan ia berdiri di sampingku, aku sendiri tidak sadar.
“Kamu lagi.”
“Apa maksudmu?”
“Kalau bukan mau ke masjid, kamu pasti sudah sampai rumahku dari tadi.”
Aku pura-pura tidak mengerti. “Aku memang mau ke rumahmu.”
“Iya…” Hasanah menahan tawanya. “…lewat masjid.”
Aku mencubit pelan lengannya. Hasanah tertawa semakin keras.
“Sudahlah. Semua orang juga tahu.”
“Tahu apa?”
“Kalau sekarang ada satu gadis yang lebih rajin lewat depan masjid daripada anak-anak yang mau mengaji.”
Aku menunduk. Untung saja angin sore membawa kerudungku menutupi pipi yang mulai terasa hangat.
Dari kejauhan, suara anak-anak mulai terdengar. Aku tidak berani mendekat, cukup berdiri di balik pohon ketapang yang tumbuh di dekat jalan setapak. Di sana kulihat Saifudin sedang mengajarkan huruf-huruf hijaiyah kepada beberapa anak kecil. Ia tidak banyak berbicara, lebih sering mendengarkan.
Seorang anak laki-laki berkali-kali salah membaca. Aku sempat berpikir Saifudin akan menegurnya — ternyata tidak. Ia hanya tersenyum, lalu mengulang bacaan itu perlahan. Anak kecil itu kembali mencoba. Masih salah. Saifudin kembali mengulanginya, sampai akhirnya anak itu berhasil membaca dengan benar. Wajah bocah itu langsung berseri-seri, dan aku ikut tersenyum tanpa sadar.
Saat itulah aku mengerti — barangkali Allah tidak hanya memberi Saifudin hafalan Al-Qur’an, tetapi juga kesabaran. Dan menurutku, kesabaran jauh lebih sulit dihafal daripada ayat.
“Sudah puas melihatnya?”
Hasanah kembali berbisik di telingaku. Aku spontan menoleh.
“Aku tidak melihat siapa-siapa.”
“Iya…” Hasanah mengangguk sambil menahan tawa. “…yang kamu lihat cuma serambi masjid.”
Aku tidak menjawab. Karena kalau aku menjawab, Hasanah pasti akan menggoda lebih lama lagi.
✦✦✦
Menjelang Magrib, Ayah pulang lebih awal. Seperti biasa, aku mengambil kendi lalu menuangkan air untuk beliau.
“Terima kasih, Nak.” Ayah meminum beberapa teguk sebelum duduk di beranda. “Tadi Ayah bertemu Saifudin.”
Aku berusaha tetap tenang. “Beliau titip salam untuk Ayah?”
Ayah tersenyum. “Bukan.”
“Lalu?”
“Dia bilang ingin membantu memperbaiki pagar rumah minggu depan.”
Aku spontan mengangkat kepala. “Padahal Ayah tidak pernah memintanya.”
Ayah mengangguk pelan. “Itulah yang membuat Ayah menyukainya.”
Aku diam.
“Lelaki yang baik bukan yang menunggu diminta.” Ayah memandang laut yang mulai berubah jingga. “Lelaki yang baik adalah yang peka sebelum orang lain meminta.”
Kalimat Ayah sederhana, namun diam-diam kusimpan di dalam hati. Bertahun-tahun kemudian, aku masih mengingatnya sejelas sore itu.
Malamnya, Hasanah datang lagi. Ibu sampai geleng-geleng kepala.
“Hasanah, rumahmu masih di sebelah, kan?”
Hasanah tertawa. “Masih, Bibik.”
“Lalu kenapa setiap hari di sini?”
Hasanah menoleh kepadaku. “Lho… saya cuma menemani calon pengantin.”
Aku mengejar Hasanah sampai ke halaman. Ia berlari sambil tertawa.
“Kamu tahu tidak?” katanya setelah kami sama-sama berhenti kelelahan.
“Apa?”
“Imron.”
Aku memandangnya heran. “Kenapa dengan Bang Imron?”
“Tadi siang dia datang ke rumahku.”
“Lalu?”
“Dia bertanya…” Hasanah berhenti sejenak. “…benarkah kamu sudah menerima khitbah Saifudin.”
Aku terdiam.
“Kasihan sebenarnya.”
“Kenapa?”
“Semua orang tahu sejak lama dia menyukaimu.”
Aku menatap laut yang mulai gelap. Tak pernah sedikit pun aku ingin menyakiti hati siapa pun, apalagi Imron — ia juga dikenal sopan, tak pernah berkata kasar, tak pernah membuat keributan. Hanya saja, hatiku sudah lebih dulu memilih. Dan sejak hari Saifudin datang bersama ibunya ke rumah kami, pilihan itu terasa semakin mantap.
Saat itu aku percaya, dalam hidup, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada menemukan seseorang yang bukan hanya dicintai oleh kita, tetapi juga dihormati oleh seluruh kampung.
Aku belum tahu…
Bahwa Allah kadang memperlihatkan langit paling cerah tepat sebelum awan datang menutupinya.
✦✦✦
Seminggu. Hanya tinggal tujuh hari lagi. Di usiaku yang baru menginjak enam belas tahun, tujuh hari terasa lebih panjang daripada tujuh bulan. Setiap pagi aku bangun sambil menghitungnya — hari ini tinggal enam, besok tinggal lima, lalu empat. Rasanya matahari berjalan terlalu lambat.
Rumah kami tidak pernah sesibuk itu sebelumnya. Ibu mulai menyusun kain-kain yang akan kupakai. Bibi-bibiku datang hampir setiap hari — sebagian membawa beras, sebagian lagi membawa kelapa, yang lain datang hanya untuk membantu sambil bercakap-cakap. Di pulau kecil seperti tempat kami tinggal, pesta bukan hanya milik satu keluarga; seluruh kampung ikut menjadi tuan rumah.
“Fatimah…” Ibu memanggil dari dapur. “Tolong hitung lagi piringnya.”
Aku mengangguk. Belum selesai menghitung, Hasanah sudah muncul membawa bakul berisi daun pisang.
“Aku disuruh Emak.”
Aku tersenyum. “Atau memang sengaja mau menggodaku lagi?”
Hasanah tertawa. “Dua-duanya.”
Aku menggeleng sambil ikut tertawa.
“Timah…”
“Iya?”
“Nanti kalau sudah jadi istri ustaz, jangan sombong.”
Aku pura-pura berpikir. “Kalau sombong bagaimana?”
“Aku ceritakan waktu kecil kamu pernah jatuh ke laut gara-gara mengejar layang-layang.”
Aku langsung melempar gulungan daun pisang ke arahnya. Hasanah berlari sambil tertawa sampai ke halaman. Suara tawa kami membuat Ibu ikut tersenyum dari dapur. Sudah lama rumah ini tidak seramai sekarang.
Menjelang sore, Ayah memintaku mengantarkan beberapa kue ke rumah Mak Hafsah.
“Bilang sekalian besok Ayah mau bertemu.”
Aku mengangguk. Ini pertama kalinya aku datang sendirian ke rumah calon mertuaku. Rumah itu sederhana, halamannya dipenuhi tanaman bunga yang tertata rapi.
Mak Hafsah sedang menyapu ketika aku tiba.
“Assalamu’alaikum.”
Beliau menoleh. Senyumnya langsung mengembang.
“Wa’alaikumussalam…”
Beliau menghampiriku dengan langkah cepat.
“Fatimah…”
Entah mengapa, setiap kali beliau memanggil namaku, rasanya seperti dipanggil oleh ibu sendiri.
Aku menyerahkan baki berisi kue. “Ibu titip ini.”
“Masya Allah… merepotkan saja.”
Beliau mengajakku duduk di beranda. Kami berbincang tentang banyak hal — tentang persiapan pernikahan, tentang tamu-tamu yang akan datang, tentang rumah kecil yang kelak akan kutempati bersama Saifudin. Beliau tidak banyak berbicara mengenai anaknya, namun setiap kali nama Saifudin disebut, wajahnya selalu dipenuhi rasa syukur. Aku memahami itu — seorang ibu memang sering kali tidak pandai memuji anaknya sendiri, tetapi matanya selalu lebih jujur daripada kata-katanya.
Saat aku hendak pulang, Mak Hafsah menggenggam kedua tanganku.
“Jaga Saifudin…”
Aku tersenyum malu. Beliau buru-buru menggeleng.
“Maksudku… jaga rumah tangga kalian nanti.”
Aku mengangguk pelan. Kalimat itu sederhana, namun entah mengapa terus teringat sampai bertahun-tahun kemudian.
Sore berikutnya aku bertemu Saifudin. Bukan karena sengaja — ia baru saja selesai membantu memperbaiki jembatan kayu di dekat dermaga, sementara aku sedang menemani Ibu membeli ikan. Kami hanya berpapasan, itu pun dengan jarak beberapa langkah. Saifudin menundukkan kepala lebih dulu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Hanya itu. Tak ada percakapan panjang, tak ada rayuan, tak ada janji-janji. Namun entah mengapa, salam singkat itu terasa lebih hangat daripada seribu kata.
Ketika aku menoleh ke belakang, kulihat ia sudah membantu seorang kakek mengangkat keranjang ikan ke atas bahunya. Aku tersenyum sendiri. Mungkin benar kata Ayah — kebaikan seseorang sering kali terlihat ketika ia merasa tidak sedang diperhatikan. Dan saat itu, aku sedang memperhatikannya.
Bertahun-tahun kemudian, aku masih sering bertanya pada diriku sendiri, bagaimana mungkin kenangan sesederhana sebuah salam masih mampu membuat hatiku bergetar setelah puluhan tahun berlalu.
Mungkin karena cinta memang tidak selalu mengingat peristiwa-peristiwa besar. Kadang ia memilih tinggal pada hal-hal yang sangat sederhana — seperti sebuah salam, sebuah senyum, dan pertemuan singkat di tepi laut yang bahkan tidak sampai lima menit.
✦✦✦
Subuh itu aku terbangun sebelum ayam jantan berkokok. Entah karena terlalu bahagia atau terlalu gugup, semalaman mataku nyaris tak pernah benar-benar terpejam. Berkali-kali aku memandangi langit dari jendela kamar. Ketika azan Subuh berkumandang dari surau di ujung kampung, dadaku berdebar semakin kencang.
Hari itu, hari yang selama ini hanya berani kubisikkan dalam doa, akhirnya tiba.
Aku akan menikah dengan Saifudin.
Di dapur, suara perempuan-perempuan yang sedang memasak sudah terdengar sejak sebelum fajar. Denting panci, bunyi kayu bakar yang menyala, tawa para bibi, dan aroma santan yang mengepul memenuhi seluruh rumah.
“Fatimah… jangan keluar dulu,” suara Ibu terdengar dari balik pintu, “ada banyak tamu.”
Aku hanya menjawab pelan, “Iya, Bu.” Padahal aku ingin sekali mengintip keadaan di luar.
Matahari mulai muncul dari balik laut. Dari celah jendela, kulihat beberapa perahu mulai merapat di dermaga Pulau Panggang — orang-orang datang mengenakan pakaian terbaik mereka, ada yang membawa bakul berisi buah, ada yang mengangkat dulang, ada pula yang datang hanya membawa senyum dan doa. Di pulau kami, menghadiri pernikahan bukan sekadar memenuhi undangan; itu adalah cara ikut mendoakan kehidupan baru.
Pemuda-pemuda kampung sejak pagi sibuk memasang plampang dari bambu dan janur di depan rumah Ayah. Daun-daun kelapa muda melambai pelan diterpa angin laut, seolah ikut menyambut setiap tamu yang datang. Anak-anak berlarian di bawahnya sambil sesekali berhenti mengintip ke arah rumah, tertawa setiap kali Hasanah berpura-pura mengejar mereka.
“Pengantinnya jangan cemberut begitu.”
Hasanah masuk ke kamarku tanpa mengetuk, tangannya membawa sisir. “Kalau begini nanti dikira dipaksa nikah.”
Aku tertawa kecil. “Memangnya kelihatan?”
“Kelihatan.” Ia mendekat, lalu membetulkan kerudung yang menutupi rambutku. “Masih sempat lari kalau berubah pikiran.”
Aku menoleh sambil tersenyum. “Aku justru takut hari ini cepat berlalu.”
Hasanah berhenti, menatapku beberapa saat, lalu memelukku tanpa berkata apa-apa.
Menjelang pukul sembilan pagi, rumah Ayah telah dipenuhi orang. Para tetua kampung duduk bersila di ruang depan. Di antara mereka kulihat H. Muzamil, ulama yang sejak kecil menjadi tempat masyarakat bertanya tentang agama — wajahnya teduh dengan janggut yang mulai memutih, dan setiap orang yang datang menyalaminya dengan penuh hormat.
Tak lama kemudian hadir pula Lurah Wahab. Beliau menyalami Ayah, lalu ikut duduk bersama para sesepuh dan tokoh masyarakat. Tak ada sekat antara pejabat, nelayan, guru mengaji, maupun pedagang. Hari itu semua larut dalam satu kebahagiaan.
Aku hanya dapat melihat mereka dari balik tirai yang sedikit terbuka. Tanganku mulai dingin — bukan karena takut, melainkan karena sebentar lagi aku akan meninggalkan satu status yang telah menemaniku selama enam belas tahun.
Menjadi anak gadis.
Lalu… ia datang.
Saifudin melangkah memasuki rumah dengan pakaian sederhana yang rapi. Sorban putih melingkar di kepalanya, sementara senyumnya tetap seperti yang selalu kukenal. Tenang, teduh, tidak sedikit pun terlihat gugup. Ia menyalami satu per satu orang yang lebih tua sebelum akhirnya duduk di hadapan Ayah.
Aku tidak sanggup mengalihkan pandangan. Entah mengapa, pagi itu wajahnya tampak begitu bercahaya — bukan cahaya yang terlihat oleh mata, melainkan cahaya yang hanya bisa dirasakan oleh hati seseorang yang sedang dipenuhi rasa syukur.
Aku menundukkan kepala. Diam-diam aku berdoa, “Ya Allah… terima kasih.”
H. Muzamil membuka majelis dengan membaca basmalah. Suaranya tenang, mengalir lembut memenuhi ruangan. Beliau menyampaikan nasihat tentang rumah tangga; bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua nama, melainkan dua amanah yang harus dijaga dengan kasih sayang, kesabaran, dan iman. Beliau mengingatkan bahwa cinta akan tumbuh subur jika disiram dengan saling menghormati dan saling memaafkan.
Tak satu pun tamu bersuara; semua larut dalam kekhusyukan.
Kemudian Ayah bergeser mendekati Saifudin, dan kulihat tangan mereka saling menggenggam. Ruangan mendadak sunyi, aku bahkan dapat mendengar detak jantungku sendiri. Ayah mulai mengucapkan ijab. Suara beliau sempat bergetar sesaat, lalu kembali mantap.
Saifudin mengangkat wajahnya. Dengan suara yang jernih dan penuh keyakinan, ia melafalkan kabul dalam bahasa Arab dengan fasih — tidak terburu-buru, tidak pula ragu. Setiap kata keluar jelas, sebagaimana ketika ia memimpin salat atau mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an kepada anak-anak kampung.
Aku memejamkan mata. Belum selesai air mata di pelupukku kubendung, terdengar suara para saksi hampir bersamaan.
“Sah…”
Seisi rumah bergema oleh ucapan hamdalah, “Alhamdulillahirabbil ‘alamin…”
Lalu takbir bersahut-sahutan, “Allahu Akbar… Allahu Akbar...”
Air mataku akhirnya jatuh — bukan karena sedih, bukan pula karena takut. Aku menangis karena pada hari itu Allah menjadikan lelaki yang selama ini hanya mampu kudoakan dalam setiap sujud, benar-benar menjadi suamiku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku… aku menyandang nama sebagai seorang istri. Dan untuk pertama kalinya pula, aku memahami bahwa ada air mata yang terasa begitu manis ketika jatuh dari sepasang mata yang sedang sangat berbahagia.
✦✦✦
Orang-orang di pulau kami percaya, kebahagiaan tidak boleh berhenti di halaman rumah. Karena itulah, setelah akad selesai, doa-doa dipanjatkan, dan para tetua memberi restu, kedua mempelai akan diarak mengelilingi pulau — bukan untuk dipamerkan, melainkan agar setiap jalan yang kami lewati menjadi saksi, bahwa dua anak kampung telah memulai kehidupan baru dengan doa dari seluruh warga. Tradisi itu sudah ada jauh sebelum aku dilahirkan, dan pada hari itu, giliran aku yang menjalaninya.
Hasanah datang tergesa-gesa.
“Sudah siap?”
Aku mengangguk pelan. Ia membenarkan ujung kerudungku yang sedikit bergeser, lalu tersenyum.
“Jangan gugup.”
“Aku tidak gugup.”
“Kalau begitu, kenapa tanganmu dingin?”
Aku tidak menjawab. Aku sendiri tidak tahu. Mungkin beginilah rasanya menjadi seorang istri.
Di luar rumah, tabuhan rebana mulai terdengar. Dum… tak… dum… tak… Irama itu pelan, lalu semakin ramai, disusul lantunan selawat dari ibu-ibu majelis pengajian. Suara mereka menyatu dengan angin laut yang bertiup lembut dari arah utara. Bulu kudukku meremang — bukan karena takut, melainkan karena haru. Hari itu terasa begitu indah.
Pintu rumah dibuka.
“Pengantinnya keluar…”
Suara seseorang disambut tepuk tangan warga. Aku melangkah perlahan. Di sampingku, Saifudin berjalan dengan tenang. Ia sempat menoleh kepadaku, tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum — senyum yang sama seperti pertama kali kulihat bertahun-tahun sebelumnya. Entah mengapa, senyum itu selalu berhasil menenangkan hatiku.
Di depan kami, ibu-ibu majelis pengajian berjalan sambil menabuh rebana, lantunan selawat menggema di sepanjang jalan. Di belakang kami, rombongan keluarga, tetangga, sahabat, dan anak-anak kampung berjalan mengikuti. Tidak ada seorang pun yang merasa sebagai tamu — hari itu, seluruh Pulau Panggang adalah keluarga kami.
Rombongan mulai menyusuri jalan-jalan pulau. Rumah-rumah kayu yang berdiri rapat di kiri dan kanan seakan ikut berhias, dan di depan setiap rumah, orang-orang telah menunggu. Seorang nenek mengangkat kedua tangannya.
“Semoga sakinah… sampai akhir hayat.”
Kami menjawab dengan senyum.
Di tikungan berikutnya, seorang nelayan yang baru turun dari perahu masih mengenakan pakaian basah. Ia meletakkan keranjang ikannya di dermaga, lalu menghampiri kami.
“Barakallah…”
Saifudin segera menjabat tangannya. Begitulah dirinya — tak pernah membedakan siapa yang datang, tak pernah merasa lebih tinggi daripada siapa pun. Aku memandangnya diam-diam, lalu kembali tersenyum.
Anak-anak menjadi rombongan yang paling riuh. Mereka berlari mendahului, kemudian kembali lagi ke belakang, sesekali menirukan tabuhan rebana dengan memukul-mukul kaleng bekas. Orang-orang dewasa hanya tertawa melihat tingkah mereka.
Hasanah berjalan di sampingku.
“Masih malu?”
Aku mengangguk kecil.
“Kalau terus menunduk, nanti tidak tahu satu pulau sedang melihatmu.”
Aku spontan mengangkat wajah. Benar saja — di sepanjang jalan, hampir semua orang berdiri sambil tersenyum kepada kami. Ada yang melambaikan tangan, ada yang mengucapkan selamat, ada yang hanya menatap dengan mata yang berkaca-kaca.
Saat itulah aku mengerti — aku bukan hanya menikah dengan Saifudin, aku sedang diterima kembali oleh kampungku sebagai seorang istri.
Ketika rombongan melewati surau tempat Saifudin biasa mengajar mengaji, beberapa anak kecil yang mengenakan peci putih berlari keluar.
“Guru…”
Mereka serempak menghampiri. Salah seorang anak bahkan memeluk tangan Saifudin.
“Guru sudah nikah…”
Suasana langsung dipenuhi tawa. Saifudin mengusap kepala anak itu pelan.
“Iya.”
“Nanti tetap ngajar?”
Saifudin tersenyum.
“Insya Allah.”
Jawaban singkat itu disambut sorak kecil anak-anak.
Aku memperhatikan semuanya tanpa berkedip. Aku baru menyadari, lelaki yang kini berjalan di sampingku ternyata dicintai oleh begitu banyak orang. Dan entah mengapa, itu membuatku semakin bersyukur.
Di ujung jalan, Haji Muzamil berdiri bersama Lurah Wahab dan beberapa tetua kampung — mereka tidak ikut berjalan sejak awal, hanya menunggu di sana. Ketika rombongan mendekat, Haji Muzamil mengangkat kedua tangannya, memimpin doa. Semua orang ikut menengadahkan tangan, dan suara “Aamiin…” bergema hampir bersamaan.
Laut di belakang mereka tampak tenang. Langit membentang biru tanpa awan. Angin membawa harum asin yang sejak kecil begitu akrab denganku. Aku memejamkan mata sejenak, lalu diam-diam berdoa.
“Ya Allah… jika Engkau mengizinkan, biarkan aku menua bersama lelaki ini.”
Saat itu, aku benar-benar percaya bahwa kebahagiaan dapat berlangsung selamanya. Aku belum mengetahui bahwa hidup adalah rahasia yang hanya Allah simpan di balik waktu.
Yang kuingat dari hari itu bukan kemegahan pesta, bukan pula banyaknya tamu yang datang. Yang paling kuingat adalah rebana yang tak pernah berhenti ditabuh, selawat yang mengalun di sepanjang jalan kampung, wajah-wajah yang tersenyum tulus, dan langkah-langkah kecil kami berdua yang diiringi doa dari seluruh Pulau Panggang.
Sampai hari ini, jika aku memejamkan mata, aku masih dapat mendengar tabuhan rebana itu. Masih dapat melihat anak-anak yang berlari di belakang kami. Masih dapat merasakan hangatnya tangan Saifudin di sampingku.
Dan di antara semua kenangan yang Allah titipkan dalam hidupku, hari itulah yang selalu datang paling awal.
✦✦✦
Hari-hari pertama sebagai istri terasa begitu sederhana. Rumah kecil yang kutempati bersama Saifudin belum memiliki banyak perabot. Di sudut dapur hanya ada tungku tanah, beberapa periuk, tempayan air, dan rak kayu yang dibuat sendiri oleh Saifudin beberapa hari sebelum kami menikah.
Namun bagiku… Rumah itu terasa lebih luas daripada rumah Ayah. Mungkin karena di dalamnya ada seseorang yang selalu membuat hatiku tenang.
Setiap selesai salat Subuh, Saifudin hampir selalu membuka pintu rumah lebar-lebar. Ia duduk di beranda sambil membaca Al-Qur’an. Suaranya pelan. Merdu. Sesekali beberapa anak yang melintas berhenti untuk mencium tangannya.
“Guru…”
Sapaan itu terdengar akrab. Saifudin hanya membalas dengan senyum. Aku sering memperhatikannya dari dapur. Diam-diam aku bersyukur. Allah memilihkan seorang lelaki yang dicintai banyak orang untuk menjadi pendamping hidupku.
Pagi itu, ketika hendak memasak, aku mengangkat tutup tempayan. Airnya tinggal sedikit.
“Cukup untuk hari ini?” tanya Saifudin yang baru selesai merapikan jala.
Aku menggeleng. “Sepertinya tidak.”
Ia mendekat melihat isi tempayan. “Lusa tamu masih mungkin datang. Lebih baik kita isi lagi.”
Aku mengangguk. Saat itu, mengambil air bersih ke Pulau Pramuka adalah hal yang biasa dilakukan sebagian warga. Tidak setiap hari, tetapi juga bukan sesuatu yang aneh. Aku mengambil kendi kecil.
“Aku ikut.”
Saifudin tersenyum. “Tentu.”
Aku sempat terdiam. Entah mengapa, teringat ucapan seorang nenek beberapa hari sebelumnya. Katanya, pengantin baru sebaiknya jangan menyeberang dahulu pada pekan pertama. Aku menyampaikan itu pelan.
“Hanya pesan orang-orang tua…”
Saifudin tidak tertawa. Ia juga tidak meremehkannya. Beliau meletakkan jala di pangkuannya, lalu memandang laut yang tampak tenang dari beranda.
“Nasihat orang tua selalu layak dihormati.”
Ia berhenti sejenak. “Karena mereka ingin kita selamat.”
Aku mengangguk. “Tapi keselamatan tetap milik Allah.”
Matanya beralih kepadaku. “Kita hanya mengambil air. Insya Allah tidak lama. Cuaca juga sedang baik.”
Aku mengiyakan. Hatiku pun menjadi tenang.
Perahu kayu kecil kami meninggalkan dermaga ketika matahari belum terlalu tinggi. Air laut berwarna hijau kebiruan. Begitu jernih hingga dasar pasir masih terlihat di beberapa bagian. Angin pagi berembus lembut. Burung-burung laut melintas rendah di atas permukaan air.
Aku mencelupkan ujung jemariku ke laut. Dingin. Jernih. Damai.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Saifudin sambil tetap memegang kemudi.
Aku tersenyum. “Aku masih sulit percaya kita sudah menjadi suami istri.”
Ia tertawa kecil. “Aku juga.”
Untuk beberapa saat kami hanya saling tersenyum. Tak ada lagi kata-kata. Kadang kebahagiaan memang tidak membutuhkan banyak percakapan.
Pulau Pramuka mulai tampak semakin dekat. Beberapa perahu nelayan terlihat berpapasan dengan kami. Mereka saling melambaikan tangan. Ada yang berseru memberi ucapan selamat karena baru beberapa hari sebelumnya menghadiri pernikahan kami. Saifudin membalas lambaian mereka. Semuanya terasa begitu biasa. Begitu indah. Begitu… menenangkan.
Lalu… Aku merasakan angin yang berbeda. Tidak kencang. Tetapi lebih dingin. Aku menoleh ke arah barat. Di kejauhan, awan gelap perlahan berkumpul di atas laut.
“Bang…”
Saifudin ikut menoleh. Senyumnya perlahan memudar. Ia mengamati langit beberapa saat.
“Kita pulang.”
Tidak ada kepanikan dalam suaranya. Hanya ketegasan. Ia segera memutar haluan. Aku duduk lebih rapat sambil memegang bibir perahu. Angin mulai bertambah kuat. Permukaan laut yang tadi tenang berubah menjadi riak-riak panjang. Perahu kecil kami mulai terangkat perlahan. Turun. Lalu naik lagi.
Aku menatap wajah Saifudin. Ia tetap tenang. Tetapi tangannya menggenggam kemudi lebih erat daripada sebelumnya.
“Apa kita akan baik-baik saja?” tanyaku lirih.
Ia menoleh sebentar. Lalu tersenyum. Senyum yang selalu berhasil menenangkan hatiku.
“Insya Allah.“
Itulah jawaban yang paling sering keluar dari bibirnya. Dan setiap kali mendengarnya, aku selalu percaya. Namun pagi itu… Laut ternyata memiliki rencana yang tidak kami ketahui.
Ombak pertama datang menghantam lambung perahu. Air laut menyembur masuk hingga membasahi kakiku. Aku spontan memegang sisi perahu lebih erat. Saifudin segera mengarahkan haluan melawan gelombang.
Belum sempat perahu kembali seimbang… Dari arah samping, ombak yang lebih besar datang menghantam. Perahu berguncang keras. Aku kehilangan keseimbangan. Dan untuk pertama kalinya sejak kami meninggalkan dermaga… Aku melihat wajah Saifudin berubah. Bukan karena takut. Melainkan karena ia sedang berusaha memastikan satu hal. Bahwa apa pun yang akan terjadi… Aku harus tetap selamat.
Perahu itu kembali dihantam ombak. Kali ini lebih keras. Aku terlempar ke sisi kiri hingga bahuku membentur papan lambung. Tempayan yang kami bawa menggelinding, lalu jatuh ke laut bersama sebuah ember kayu.
“Fatimah!”
Suara Saifudin terdengar lebih keras daripada biasanya. Bukan suara seorang lelaki yang panik. Melainkan suara seseorang yang sedang berusaha mengalahkan gemuruh angin.
“Pegang papan perahu!”
Aku segera memegang bibir perahu dengan kedua tangan. Angin kini bertiup semakin kencang. Butiran air laut menerpa wajahku tanpa henti. Langit yang beberapa saat lalu masih biru telah berubah kelabu.
Aku tidak tahu berapa lama semuanya berlangsung. Di laut, waktu terasa kehilangan hitungan. Yang kuingat hanyalah ombak datang bergantian. Satu. Lalu satu lagi. Semakin tinggi. Semakin berat. Perahu kecil kami naik hingga puncak gelombang, kemudian jatuh begitu cepat ke lembah laut. Dadaku terasa seperti tertinggal di atas.
“Bang…”
Aku memanggil dengan suara bergetar. Saifudin tidak menjawab. Bukan karena mengabaikanku. Kedua tangannya sedang menggenggam kemudi sekuat tenaga. Matanya tak pernah lepas dari arah gelombang. Sesekali ia mengucap, “Bismillah…” Lalu kembali mengendalikan perahu.
Aku ikut berzikir. Tidak ada doa panjang yang mampu kuingat. Yang keluar dari bibirku hanya, “Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah…“
Sebuah ombak yang jauh lebih besar datang dari arah samping. Aku hanya sempat melihat dinding air menjulang di hadapan kami. Sesaat kemudian… Brak! Perahu berputar keras. Tubuhku terangkat. Lalu semuanya menjadi air.
Aku tercebur ke laut. Air asin memenuhi mulut dan hidungku. Aku berusaha menggapai apa saja. Tanganku mengenai sepotong papan. Belum sempat kugenggam erat, ombak berikutnya menyeretku menjauh.
“Fatimah!”
Aku mendengar suara itu. Suara Saifudin. Aku membuka mata. Di sela buih dan hujan, kulihat ia berenang ke arahku. Arus terus mendorongku. Namun ia terus mendekat. Begitu dekat hingga akhirnya tangannya berhasil menggenggam lenganku.
“Pegang aku.”
Aku langsung memeluk lengannya. Napas kami sama-sama terengah. Ombak terus datang. Tetapi ia tidak melepaskan genggamannya. Sedikit pun.
“Fatimah…”
Suara itu begitu dekat di telingaku. “Dengarkan aku.”
Aku menggeleng sambil menangis. “Aku takut…”
“Aku tahu.”
Ia tetap terdengar tenang. “Aku di sini.”
Kalimat itu membuatku menangis semakin keras. Di tengah laut yang mengamuk, lelaki itu masih berusaha menenangkan istrinya. Ia memandang sekeliling. Tak jauh dari kami, kulihat badan perahu yang telah terbalik masih mengapung.
Saifudin berenang menarikku perlahan ke sana. Setiap datang ombak, ia memosisikan tubuhnya di antara aku dan gelombang. Aku baru menyadarinya bertahun-tahun kemudian. Setiap hantaman yang seharusnya mengenainya, ia biarkan lebih dulu mengenai tubuhnya. Sementara aku tetap berada di belakangnya.
Kami akhirnya berhasil berpegangan pada lambung perahu yang terbalik. Napas kami tersengal. Hujan mulai turun. Laut tak lagi memperlihatkan batas antara langit dan air. Saifudin mengusap wajahku yang dipenuhi air laut.
“Jangan lepaskan pegangan.”
Aku mengangguk. “Tatap aku.”
Aku menatap kedua matanya. Di sana tidak ada ketakutan. Yang kulihat hanyalah keyakinan. Seakan ia sedang berkata bahwa selama ia masih memiliki tenaga, tak akan dibiarkannya aku menghadapi laut itu sendirian.
Ia kembali berucap pelan, “Hasbunallahu wa ni’mal wakil…“
Aku mengikuti ucapannya. Untuk beberapa saat kami hanya berzikir di tengah hujan dan ombak. Aku tidak tahu apakah pertolongan akan datang. Aku juga tidak tahu apakah kami akan selamat. Yang kutahu… Di tengah laut yang sedang menunjukkan seluruh kekuatannya, seorang lelaki bernama Saifudin tidak pernah sekalipun melepaskan tanganku.
Dan hingga hari ini… Genggaman itulah yang masih paling jelas kuingat, jauh lebih jelas daripada besarnya ombak atau gelapnya langit pada hari itu.
✦✦✦
Hujan turun semakin rapat. Butirannya terasa tajam ketika mengenai wajah. Aku masih memeluk lambung perahu yang terbalik, sementara kedua tanganku mulai kehilangan tenaga. Air laut yang dingin perlahan membuat tubuhku gemetar.
“Bang…”
Aku hampir tidak mampu mengeluarkan suara.
Saifudin menoleh. Ia masih menggenggam sebelah tanganku.
“Tatap aku.”
Aku mencoba mengangkat kepala. Sulit. Kelopak mataku terasa berat.
“Jangan pejamkan mata.”
Aku mengangguk pelan. Namun ombak kembali datang. Mengangkat kami tinggi, lalu menjatuhkan kami dengan keras. Peganganku terlepas. Tubuhku kembali terseret arus.
“Fatimah!”
Saifudin langsung menyelam. Dalam sekejap ia telah berada di dekatku. Tangannya kembali meraih lenganku. Ia menarikku mendekat, lalu memelukku agar kepalaku tetap berada di atas permukaan laut.
“Napas…”
“Napas yang panjang…”
Aku berusaha mengikuti ucapannya. Tetapi tubuhku sudah terlalu lemah. Di sela hujan yang semakin deras, Saifudin memandang ke kejauhan. Matanya menyipit. Aku mengikuti arah pandangnya.
Samar-samar… Di balik tirai hujan, tampak sebuah perahu nelayan. Kecil. Sangat kecil. Entah mereka melihat kami atau tidak.
Saifudin mengangkat sebelah tangannya setinggi mungkin.
“Hoy…”
Suaranya tenggelam oleh angin.
Ia mencoba lagi. Lebih keras.
“Hoy…!”
Tak ada jawaban. Perahu itu masih terlalu jauh. Aku dapat merasakan napas Saifudin mulai memburu. Bukan karena takut. Melainkan karena tenaganya terus terkuras melawan ombak. Namun setiap kali gelombang datang, ia tetap memutar tubuhnya agar aku berada di sisi yang lebih terlindung.
Barulah puluhan tahun kemudian aku menyadari… Sejak awal, ia selalu menjadikan tubuhnya sebagai pelindungku.
“Fatimah…”
“Iya…”
“Dengar baik-baik.”
Aku memandang wajahnya. Air hujan mengalir di dahinya. Entah mana yang air laut, mana yang air hujan.
“Kalau sebentar lagi ada orang datang…”
“…kau jangan lepaskan mereka.”
Aku langsung menggeleng.
“Jangan bicara begitu.”
Ia tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang membuatku jatuh cinta sejak pertama kali.
“Aku hanya ingin kau selamat.”
Air mataku bercampur dengan air laut.
“Kita selamat bersama.”
“Insya Allah.”
Jawaban itu kembali keluar dari bibirnya. Tenang. Penuh keyakinan. Seolah ia sedang menguatkan hatiku, bukan dirinya sendiri.
Gelombang berikutnya datang lebih besar. Menghantam kami tanpa ampun. Tubuh kami kembali terpisah beberapa hasta.
“Bang…!”
Aku menjerit. Saifudin berenang sekuat tenaga. Sekali lagi ia berhasil meraihku. Tetapi kali ini aku merasakan genggamannya tidak sekuat sebelumnya.
Aku memegang kedua tangannya.
“Dingin…”
bisikku.
Ia mengangguk pelan.
“Lihat aku.”
Aku menatapnya.
“Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.”
Aku menangis. Ia masih sempat mengingatkanku kepada Allah, ketika dirinya sendiri sedang bergulat dengan maut. Tak ada keluhan. Tak ada kemarahan. Tak ada pertanyaan mengapa semua ini terjadi. Yang ada hanya zikir yang tak putus dari bibirnya.
“Laa ilaaha illallah…”
Aku mengikutinya sambil terisak.
Tiba-tiba terdengar suara yang sangat jauh.
“Hoooi…!”
Saifudin menoleh cepat. Perahu nelayan itu kini tampak lebih jelas. Mereka melihat kami. Beberapa orang berdiri sambil melambaikan tangan. Harapan itu datang bersama ombak. Namun laut belum selesai menguji. Gelombang besar kembali berdiri di hadapan kami.
Saifudin menatapku. Lalu menatap perahu yang semakin mendekat. Ia menarik napas panjang. Kedua tangannya kembali menggenggam pundakku. Erat. Sangat erat.
Dan sampai hari ini… Aku masih mengingat tatapan matanya pada detik itu. Tatapan seorang suami yang telah mengambil keputusan di dalam hatinya. Tetapi aku… Belum mengetahui keputusan apakah itu.
✦✦✦
Perahu nelayan itu kini semakin jelas. Aku dapat melihat beberapa orang berdiri di haluannya. Mereka melambaikan kain putih. Berteriak memanggil kami. Namun suara mereka patah-patah ditelan angin.
“Bang…”
Aku menangis.
“Mereka datang…”
Saifudin menoleh ke arah perahu itu. Lalu kembali menatapku. Alhamdulillah… Baru kali itu kulihat matanya memancarkan kelegaan. Bukan karena dirinya. Melainkan karena harapan untukku akhirnya muncul.
Gelombang belum juga reda. Perahu nelayan itu tak berani mendekat terlalu cepat. Aku baru mengerti bertahun-tahun kemudian. Mereka sedang mencari sudut yang paling aman. Jika dipaksa melawan ombak secara langsung, bukan hanya kami yang celaka. Mereka pun bisa ikut karam.
Saifudin memahami itu. Ia tidak berteriak meminta mereka mendekat. Ia hanya terus berusaha menjaga agar aku tetap mengapung.
“Fatimah…”
“Iya…”
“Dengar aku.”
Aku mengangguk sambil terisak.
“Sebentar lagi mereka sampai.”
“Iya…”
“Nanti… kalau mereka sudah dekat…”
“…kau raih tangan mereka.”
Aku menggeleng kuat-kuat.
“Abang juga.”
Ia tersenyum kecil.
“Iya.”
Tetapi entah mengapa… Senyum itu terasa berbeda. Bukan senyum yang biasa kulihat. Melainkan senyum seseorang yang telah menyerahkan segala urusannya kepada Allah.
Ombak kembali datang. Lebih besar. Tubuh kami kembali terangkat. Aku merasakan tenaga di kedua lenganku hampir habis. Jari-jariku mulai sulit menggenggam. Saifudin menyadarinya. Ia memindahkan posisinya. Kini tubuhnya berada tepat di belakangku. Kedua lengannya menopangku agar kepalaku tetap berada di atas air.
Aku sempat memprotes.
“Bang… nanti Abang…”
Belum selesai aku berbicara. Ia berkata pelan di dekat telingaku.
“Seorang suami…”
“…lebih dulu memastikan istrinya selamat.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi menjadi kalimat yang terus hidup di dalam ingatanku sampai hari ini.
Perahu nelayan tinggal beberapa puluh depa lagi. Salah seorang nelayan berdiri di ujung haluan sambil membawa seutas tali.
“Lempar!”
teriak seseorang.
Tali itu meluncur. Terlalu jauh. Ombak menyeretnya menjauh. Mereka menariknya kembali. Mencoba sekali lagi. Saifudin mengangkat sebelah tangannya. Tetapi ombak membuat tubuh kami terus berputar. Percobaan kedua pun gagal.
Aku mulai putus asa.
“Ya Allah…“
Air mataku tak lagi dapat dibedakan dengan hujan.
Pada lemparan berikutnya… Tali itu jatuh lebih dekat. Sangat dekat. Namun masih berada di luar jangkauanku. Saifudin melihatnya. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil satu keputusan. Ia mendorong tubuhku perlahan ke arah tali itu.
“Pegang…”
Aku meraih. Masih kurang. Ia mendorongku sekali lagi. Aku berhasil menggenggam tali itu.
“Alhamdulillah…“
teriak para nelayan dari kejauhan.
Mereka segera menarik tali sekuat tenaga. Tubuhku mulai bergerak menuju perahu. Saat itulah… Aku baru sadar. Tanganku tidak lagi menggenggam tangan Saifudin.
“Bang…!”
Aku menoleh panik. Ia masih berada beberapa depa di belakangku. Ombak yang baru saja membantuku mendekati tali, justru mendorongnya menjauh. Aku berusaha melepaskan tali. Namun dari kejauhan para nelayan terus menarikku.
“Jangan…!”
teriak mereka.
Aku menangis sejadi-jadinya.
“Abang…!”
Saifudin menggeleng pelan. Lalu… Di tengah hujan yang semakin deras… Ia mengangkat tangan kanannya. Bukan meminta tolong. Melainkan melambaikannya kepadaku. Seolah ingin berkata…
“Jangan takut.”
Itulah lambaian terakhir yang kulihat. Sesaat kemudian… Gelombang yang jauh lebih besar datang menutup pandanganku. Tubuhku terangkat bersama tali menuju perahu nelayan. Aku terus menjerit memanggil namanya. Namun yang kudengar hanyalah suara angin… Suara ombak… Dan orang-orang yang berusaha menyelamatkanku.
Aku tidak pernah lagi melihat wajah Saifudin setelah gelombang itu. Yang tersisa hanyalah senyumnya. Dan lambaian tangannya. Lambaian yang masih kulihat setiap kali aku memejamkan mata, meski enam puluh tahun telah berlalu.
✦✦✦
Aku mengakhiri ceritaku tepat saat matahari hampir tenggelam. Entah sudah berapa lama kami duduk di beranda rumah, ditemani aroma laut yang tetap sama seperti puluhan tahun silam. Hanya saja, kini rambutku telah memutih, tanganku mulai dipenuhi keriput, dan langkahku tak lagi sekuat dulu—saat pertama kali aku berjalan di samping Saifudin mengelilingi Pulau Panggang.
Cucuku masih terdiam. Sejak tadi ia tak mengucapkan sepatah kata pun, mungkin sedang membayangkan laut, atau justru membayangkan sosok lelaki yang tak pernah sempat ia kenal. Perlahan, jemarinya menggenggam tanganku.
“Nek,” suaranya pelan, “apakah Karang Pengantin benar-benar membawa kutukan?”
Aku menggeleng pelan. “Laut tidak pernah mengutuk siapa pun, Nak. Begitu pula karang; ia tidak pernah meminta siapa pun datang kepadanya.”
Aku memandang jauh ke arah ufuk. “Yang menentukan hidup dan mati hanyalah Allah. Sedangkan manusia? Kadang mereka hanya memberi nama pada kesedihan yang terlalu besar untuk dipahami.”
Ia mengangguk, matanya masih basah. “Kalau begitu, mengapa orang-orang tua berpesan agar pengantin baru jangan menyeberang?”
“Itu nasihat,” jawabku tersenyum. “Nasihat agar kita lebih berhati-hati. Dan nasihat yang baik memang sepatutnya dihormati, namun jangan pernah meletakkan keyakinan kepada selain Allah.”
Kami kembali diam. Hanya suara ombak yang memecah kesunyian. Tak lama, ia bertanya lagi, “Nek, kalau waktu bisa diputar kembali… apakah Nenek tetap akan ikut menyeberang hari itu?”
Aku memejamkan mata. Aneh, setelah lebih dari enam puluh tahun, wajah Saifudin masih datang dengan sangat jelas. Senyumnya, tatapannya, dan genggaman tangannya. Aku membuka mata, menatap cucuku dengan mantap.
“Iya.”
“Kenapa, Nek?”
“Karena cinta tidak pernah diukur dari seberapa lama kita memilikinya,” bisikku lirih, “melainkan dari bagaimana kita menjaganya selagi Allah menitipkannya.”
Aku menunduk, jemariku memainkan butiran tasbih yang sejak tadi tak pernah kulepaskan. Tasbih yang sudah kusam, dengan tali yang pernah putus lalu kusambung kembali. Beberapa butirnya bahkan telah berubah warna dimakan usia. Cucuku baru menyadarinya.
“Nek… sejak tadi Nenek memegang tasbih itu terus.”
“Ini tasbih kakekmu,” jawabku sambil menggenggamnya lebih erat.
Entah mengapa, setiap kali butiran itu melewati jemariku, aku seperti kembali mendengar suaranya melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an di beranda rumah kecil kami. Suara itu tak pernah hilang; ia hanya berpindah tempat, dari telingaku ke dalam hatiku. Tasbih ini sudah menemaniku lebih dari enam puluh tahun, dan insya Allah, akan tetap bersamaku sampai Allah memanggilku pulang.
Orang-orang boleh mengenangnya sebagai Karang Pengantin. Tetapi bagiku, saat memandang laut itu, yang kuingat bukan karangnya, bukan ombaknya, bukan pula badai yang pernah datang. Yang selalu kuingat adalah seorang lelaki saleh yang menggenggam tanganku sekuat tenaga, sambil terus mengajarkan satu kalimat yang tak pernah berubah hingga akhir hayatnya: “Keselamatan tetap milik Allah.”
Dan setiap selesai salat, aku masih menyebut namanya dalam doa. Sebab cinta yang dibangun karena Allah tidak berakhir oleh kematian; ia hanya menunggu waktu untuk dipertemukan kembali.
Di luar sana, laut masih sama. Ombak datang dan pergi, anak-anak tetap bermain di tepi pantai, dan perahu-perahu masih hilir mudik. Orang-orang masih menyebut tempat itu sebagai Karang Pengantin. Biarlah, setiap orang berhak menyimpan ceritanya sendiri.
Sedangkan aku? Aku memilih mengingatnya sebagai tempat terakhir Allah memperlihatkan kepadaku betapa besar cinta seorang suami kepada istrinya.
Aku tidak pernah menyalahkan laut, pun tidak pernah menyalahkan karang. Sebab yang mengambil Saifudin dariku bukanlah ombak, melainkan Allah, Pemilik seluruh kehidupan. Dan kepada-Nya pula aku akan kembali.
Jika kelak tiba waktuku dipanggil pulang, aku hanya memiliki satu harapan. Semoga di antara orang-orang yang pertama kali kutemui di kampung akhirat nanti, ada seorang lelaki dengan senyum yang masih sama. Yang akan menyambutku sambil berkata pelan,
“Fatimah…”
Lalu aku akan menjawabnya…
“Aku sudah lama menunggu, Bang.”
Insya Allah.
✦✦✦
✦ Takdir Menjaga Cinta ✦
“Takdir mungkin memisahkan dua insan di dunia, tetapi cinta yang dibangun karena Allah tak pernah kehilangan jalan untuk pulang.”.
✦ Catatan Penulis ✦
Novel ini adalah karya fiksi yang terinspirasi oleh kehidupan, budaya, dan tradisi lisan masyarakat Kepulauan Seribu. Seluruh tokoh, dialog, dan alur cerita merupakan hasil imajinasi penulis sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya pesisir.








