Pukul lima pagi. Langit Jakarta masih terbungkus warna biru nila saat suara alarm ponsel Ratih memecah keheningan rumah.
Aniya, yang sepanjang malam hanya memejamkan mata tanpa benar-benar terlelap, langsung terjaga. Beberapa detik ia hanya berbaring menatap langit-langit kamar, mencoba menipu diri sendiri bahwa mimpi buruk semalam hanyalah bunga tidur. Namun, suara langkah kaki ibunya dari kamar sebelah segera menghantamnya kembali pada kenyataan.
Hari keberangkatan itu akhirnya tiba.
Dari arah dapur, sayup-sayup terdengar suara air mendidih, disusul denting sendok yang beradu dengan dinding gelas. Ratih bersenandung kecil—lagu lawas yang sering ia dengar di radio. Entah mengapa, melodi ceria itu justru membuat dada Aniya terasa sesak, seolah ada beban tak terlihat yang perlahan menekan paru-parunya.
Aniya bangkit, menyeret kakinya menuju dapur.
Ratih sudah rapi. Jilbab biru muda membingkai wajahnya dengan sempurna. Tas selempang kecil sudah tergantung di bahu. Di meja makan, dua piring roti bakar dan telur mata sapi telah tersaji, uap hangatnya menari-nari di udara.
“Kamu bangun juga,” sapa Ratih dengan senyum yang begitu jernih.
“Bagus. Temani Ibu sarapan.”
Aniya duduk. Ia memegang gelas teh hangat, namun hanya membiarkannya mendingin di tangan. Pikirannya masih menggantung pada bayangan mimpi semalam.
“Kamu masih kesal?” tanya Ratih lembut.
Aniya menggeleng pelan. “Bukan kesal.”
“Lalu?”
“Aku cuma ingin Ibu tidak pergi.”
Ratih tersenyum tipis, sebuah senyum yang sudah ia berikan puluhan kali untuk pertanyaan yang sama. “Aniya, Ibu janji akan hati-hati.”
“Janji?”
“Janji.”
Keduanya terdiam. Tidak ada yang menyadari bahwa janji manusia hanyalah bisikan kecil di hadapan takdir yang sudah dituliskan di garis cakrawala.
Pukul enam lewat tiga puluh. Klakson minibus sewaan terdengar dua kali di depan gang. Tut. Tut.
“Itu rombongan Ibu,” ujar Ratih. Ia bangkit, diikuti Aniya.
Di depan rumah, suasana sudah riuh. Ibu-ibu pengajian duduk berdesakan di dalam kendaraan, tertawa dan bercanda. Suasananya begitu lazim—seperti perjalanan wisata biasa. Tidak ada tanda bahaya. Tidak ada firasat buruk yang kasatmata. Namun, itulah yang justru membuat Aniya merinding. Musibah tidak pernah datang dengan wajah menyeramkan; ia sering kali datang menyamar dalam rupa hari yang cerah.
Ratih mengangkat koper kecilnya, tapi Aniya dengan sigap mengambil alih.
“Biar aku yang bawa,” ucap Aniya, suaranya sedikit bergetar.
Sesampainya di samping minibus, Ratih berbalik. Untuk sesaat, mereka saling menatap. Lebih lama dari biasanya. Lebih dalam. Ada ribuan kata yang tersangkut di tenggorokan, tak mampu keluar.
“Aniya.”
“Iya, Bu.”
“Jangan lupa makan.”
“Ibu juga.”
“Jaga diri, ya.”
Ratih menarik Aniya ke dalam pelukannya. Hangat. Lembut. Namun, kali ini Aniya merasakan sesuatu yang ganjil. Ia tidak ingin melepaskan pelukan itu. Sama sekali tidak.
“Bu…”
“Iya?”
“Kalau aku minta sekali lagi…”
Ratih membelai rambut putrinya dengan sabar. “Kamu keras kepala sekali.”
“Aku serius.”
“Aku juga serius,” jawab Ratih tenang. Ia mengecup kening Aniya. Sekilas. Sederhana. Sebuah memori yang tanpa mereka sadari akan menjadi artefak paling berharga bagi Aniya di sisa hidupnya.
Minibus bergerak meninggalkan gang. Aniya berdiri mematung, menatap kendaraan itu hingga lenyap di tikungan. Rumah itu mendadak terasa jauh lebih sunyi. Jauh lebih besar. Di meja makan, kopi milik Ratih masih tersisa, hangatnya belum hilang sepenuhnya, namun pemiliknya sudah pergi menjemput takdir.
Pukul delapan pagi. Aniya sudah berada di kampus, namun jiwanya tertinggal di rumah. Ia terus menatap ponselnya, menunggu kabar yang bisa meredam kegelisahannya.
Ting.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Ratih.
Aniya membuka pesan itu dengan tangan gemetar. Sebuah foto: Ratih berdiri bersama rombongan di atas kapal. Laut di belakang mereka terlihat begitu tenang, begitu biru, seolah tak punya dosa. Langit tanpa awan. Matahari bersinar dengan angkuh.
Di bawah foto itu, sebuah keterangan tertulis: “Sudah berangkat. Lautnya cantik sekali. Jangan khawatir, ya. Nanti Ibu bawakan oleh-oleh.”
Aniya tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, napasnya terasa lebih lega. Ia membalas pesan itu dengan cepat.
“Hati-hati ya, Bu. Jangan jauh-jauh dari rombongan.”
Balasan datang beberapa detik kemudian: “Siap, Komandan.” disertai emoji tertawa.
Aniya terkekeh pelan. Ia tidak tahu bahwa itu adalah percakapan terakhir yang akan ia terima. Di kejauhan, kapal wisata itu terus melaju membelah laut yang tampak terlalu tenang. Terlalu jernih.
Seolah-olah lautan pagi itu sedang menahan napas, menyembunyikan sesuatu yang perlahan-lahan sedang mendekat dari balik garis cakrawala.


