BeritaPulauSeribu
BeritaPulauSeribu
Advertisement
Wisata Kepulauan Seribu
Kisah  

Batas Buih 2 : Asap di Atas Laut

Avatar photo

Pukul 11.17 WIB. Jakarta tetap berjalan. Matahari bersinar angkuh di atas gedung-gedung tinggi. Kendaraan tetap mengalir di jalanan, mahasiswa masih sibuk dengan dunianya, dan pedagang tetap menjajakan dagangannya. Kehidupan di kota ini tidak pernah berhenti hanya karena ada seseorang yang dunianya sedang runtuh.

Di dalam taksi yang melaju kencang menuju pelabuhan, Aniya duduk kaku. Tangannya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Puluhan panggilan telah ia lakukan. Ke nomor ibunya. Ke Bu Diah. Ke siapa saja yang ada dalam daftar rombongan wisata itu.

Hasilnya selalu sama. Tidak aktif. Tidak ada jawaban. Hanya nada tunggu yang menyiksa.

Setiap kali panggilan terputus, harapan Aniya ikut terpotong sedikit demi sedikit, menyisakan ruang kosong yang perlahan diisi oleh ketakutan.

“Mbak, saya percepat lagi?” tanya sopir taksi, suaranya pelan dan hati-hati. Ia melirik kaca spion, melihat wajah pucat gadis di belakangnya yang matanya mulai sembab.

Aniya hanya mengangguk tanpa suara. Tenggorokannya terasa tersumbat.

Pukul 11.43 WIB. Pelabuhan telah bermetamorfosis. Tempat yang biasanya menjadi titik temu para petualang, kini berubah menjadi pusat duka. Sirene ambulans melengking tanpa jeda, membelah udara panas siang itu. Mobil pemadam kebakaran berjajar di tepi dermaga, dan puluhan petugas berseragam hilir mudik membawa perlengkapan darurat.

Begitu turun dari taksi, Aniya berlari. Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menekan dinding dadanya.

“Mbak, tidak boleh masuk!” cegat seorang polisi di gerbang. “Ibu saya… Ibu saya di kapal itu, Pak!”

Polisi itu terdiam. Ketegasan di wajahnya luruh oleh tatapan putus asa gadis di depannya. “Silakan ke posko informasi, Mbak. Di sebelah sana.”

Aniya berlari ke arah tenda darurat yang berdiri pucat di bawah terik matahari. POSKO KRISIS DAN INFORMASI KELUARGA KORBAN. Tulisan itu terasa seperti palu godam yang menghantam ulu hatinya.

Di dalam tenda, suasana lebih menyesakkan. Ini bukan sekadar ruangan. Ini adalah ruang tunggu antara hidup dan mati. Tangisan tertahan. Isak yang pecah. Doa-doa yang dirapalkan dengan suara bergetar. Semua orang di sana sedang menatap layar televisi yang menyiarkan gambar asap hitam yang membumbung tinggi dari tengah laut.

Aniya mendekati meja registrasi. Petugas di sana tampak kelelahan, matanya merah.

“Nama penumpang?” “Ratih.” “Usia?” “Lima puluh tahun.”

Petugas itu mengetik dengan jemari yang lesu. Ia berhenti sejenak. Menatap layar, lalu menatap Aniya. Ada keraguan di matanya—sebuah tatapan yang paling ditakuti oleh siapa pun yang sedang menunggu kabar.

“Apakah nama ibu saya ada?” suara Aniya serak. “Kami… kami masih melakukan pencocokan data, Mbak.”

Belum tahu. Dua kata itu lebih tajam daripada pisau.

Di gedung utama pelabuhan, ruang koordinasi darurat bekerja tanpa henti. Kepala Pelabuhan Rahadian terus menatap peta digital. Laporan jumlah korban yang berhasil dievakuasi terus berubah. Delapan kritis. Dua puluh tujuh selamat. Angka-angka itu adalah nyawa.

Di tengah kebisingan itu, televisi di sudut tenda kembali menayangkan visual dari lokasi kejadian. Asap hitam pekat. Kapal yang setengah terbakar. Laut yang terlihat begitu asing dan kejam.

Aniya menunduk. Tangannya gemetar hebat. Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di pelabuhan, ia tidak lagi mampu menahan air mata. Ia menangis dalam diam, di tengah keramaian ratusan orang yang bernasib sama.

Tiba-tiba, pintu tenda terbuka lebar. Seorang petugas masuk membawa selembar daftar panjang. Semua orang di dalam tenda spontan berdiri. Harapan muncul serentak, menekan udara hingga terasa tipis.

Petugas itu menarik napas panjang. Daftar pertama korban yang berhasil diidentifikasi ada di tangannya.

Dan di luar sana, sirene ambulans kembali meraung, membawa gelombang baru ketakutan. Membawa jawaban yang sedang dicari oleh semua orang di tempat ini.

*****

Bagaimana tanggapan Anda?

Editor: Sagara Ahmad