BeritaPulauSeribu
BeritaPulauSeribu
Advertisement
Wisata Kepulauan Seribu
Kisah  

Batas Buih 2 : Asap di Atas Laut

Avatar photo

Dentang sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar nyaring, memecah sunyi di ruang makan yang sempit. Rumah sederhana bercat krem di salah satu gang padat kawasan Kebayoran itu seharusnya ramai dengan denyut kehidupan—suara motor yang melintas, riuh anak-anak bermain bola plastik, hingga jerit pedagang keliling di ujung gang. Namun sore itu, bagi Aniya, dunia seolah kedap suara.

Pusat gravitasi ketakutan Aniya hari ini hanya tertuju pada satu titik: sebuah koper biru berukuran sedang yang tergeletak pasrah di dekat sofa ruang tamu. Benda itu tampak seperti ganjalan tak kasatmata yang menghalangi napasnya sejak pagi.

“Aniya, makannya dihabiskan. Jangan melamun.”

Suara Ratih memecah lamunan. Ibunya keluar dari dapur membawa segelas teh hangat dengan langkah yang terlampau ringan—terlalu bersemangat untuk ukuran seseorang yang akan melakukan perjalanan jauh. Ada rona cerah di wajah lima puluh tahun itu, sebuah binar yang sudah lama tidak Aniya lihat.

Aniya meletakkan sendoknya, tak mampu lagi menelan apa pun. “Ibu sudah benar-benar mendaftar?”

Ratih tersenyum tipis, menyesap tehnya. “Sudah, Nak.”

“Ibu masih bisa membatalkannya. Masih bisa.”

“Kamu mulai lagi.”

Aniya menatap ibunya dengan tatapan yang memohon. “Ibu, aku serius. Ini bukan sekadar wisata.”

“Teman-teman pengajian juga ikut, Nia. Kapalnya besar, aman.”

Aniya sontak menggeleng, napasnya sedikit tertahan. “Jangan katakan itu.”

Ratih terdiam. Ia tahu kalimat itu adalah duri. Kalimat yang sama—persis seperti itu—pernah diucapkan oleh suaminya, Ayah Aniya, lima belas tahun silam. Tepat sebelum pria itu melangkah pergi dan tak pernah lagi menjejakkan kaki di rumah ini.

Keheningan seketika membeku. Aniya menunduk, membiarkan rambutnya menutupi wajah. Ia membenci dirinya sendiri setiap kali pembicaraan mereka berakhir di palung kenangan yang sama. Luka itu tidak pernah benar-benar menutup; ia hanya berhenti berdarah, namun tetap basah.

“Aku cuma takut, Bu,” bisik Aniya, suaranya pecah.

Ratih menatap wajah putrinya, melihat sisa-sisa trauma seorang anak kecil yang kehilangan dunianya dalam satu malam. “Ayahmu tidak akan suka melihatmu hidup dalam kurungan ketakutan seperti ini.”

Aniya tersenyum getir. “Kalau Ayah masih ada, mungkin aku tidak akan sekecil ini nyaliku.”

Ratih menunduk, jarinya membelai pinggiran gelas. Kenangan itu kembali menyerbu: telepon tengah malam, kabar kapal terbakar, daftar korban yang dipajang di rumah sakit, hingga tatapan hampa Aniya kecil yang terus bertanya, “Ayah kapan pulang?”

“Lima belas tahun sudah berlalu, Nia,” lirih Ratih.

“Aku tahu.”

“Kamu harus berdamai dengan laut.”

Aniya menatap lurus ke mata ibunya, tajam dan penuh kepedihan. “Aku tidak sedang berperang dengan laut, Bu. Aku hanya takut kehilangan Ibu juga.”

Kalimat itu menghantam jantung Ratih lebih keras dari apa pun. Jam dinding berdetak ritmis—tik, tik, tik—menghitung detik-detik yang tersisa. Di luar, azan Maghrib mulai melengking dari musala ujung gang, membawa hawa dingin yang tak biasa.

“Aniya,” panggil Ratih lembut, matanya mulai berkaca-kaca.

“Iya?”

“Ibu juga takut,” aku Ratih jujur. “Sangat takut.”

“Lalu kenapa tetap pergi?”

Ratih memandang jendela. Langit sore yang tadinya jingga kini berubah ungu gelap, seperti memar. “Ibu capek hidup dalam ketakutan. Ibu ingin melihat dunia sekali lagi, sebelum Ibu benar-benar lupa caranya untuk bernapas.”

Malam turun dengan perlahan, membawa kepasrahan yang pekat. Saat Ratih mulai memasukkan pakaian, topi, dan obat-obatan ke dalam koper, Aniya hanya bisa mematung di ambang pintu. Setiap baju yang terlipat rapi ke dalam koper itu terasa seperti ancaman. Setiap desah napas ibunya terdengar seperti perpisahan.

Tengah malam. Gang di depan rumah telah mati, menyisakan sunyi yang mencekam. Namun, Aniya tidak mampu memejamkan mata. Pikirannya dipenuhi bayangan-bayangan buruk yang merayap di langit-langit kamar.

Pukul 02.17.

Aniya akhirnya terlelap, dan mimpi itu datang lagi.

Ia kembali menjadi gadis kecil di sebuah dermaga yang bising oleh tangis. Lampu ambulans berkelap-kelip merah-biru, menyapu wajah orang-orang yang putus asa. Di ujung dermaga, ia melihat ayahnya berdiri, namun saat ia berlari, sosok itu memudar.

Dunia di mimpinya berubah. Kini, ia melihat ibunya berdiri sendirian di atas geladak kapal yang megah. Tiba-tiba, cakrawala berubah menjadi kelabu, tertutup oleh asap hitam pekat yang menggulung ke langit.

“Ibu!” teriak Aniya.

Ia berlari sekuat tenaga. Namun kapal itu bergerak menjauh, ditelan kabut tebal yang dingin.

Aniya terbangun dengan napas memburu, tubuhnya dibasahi keringat dingin. Jam digital di meja menunjukkan pukul 02.17. Ia segera bangkit, berlari menuju kamar ibunya. Pintu itu sedikit terbuka. Ratih masih tertidur lelap, dadanya naik-turun dengan tenang.

Aniya mengembuskan napas lega, namun hatinya tidak bisa tenang. Ada firasat buruk yang mengendap jauh di dasar jiwanya—sesuatu yang tak mampu ia jelaskan dengan kata-kata. Ia tidak tahu bahwa saat ia berdiri di ambang pintu kamar ibunya, nasib mereka sedang diputar oleh takdir di tengah laut sana.

Pagi akan datang, membawa asap yang lebih pekat daripada mimpi buruk mana pun.

*****

Bagaimana tanggapan Anda?

Editor: Sagara Ahmad