BeritaPulauSeribu
BeritaPulauSeribu
Advertisement
Wisata Kepulauan Seribu
Kisah  

Batas Buih 2 : Asap di Atas Laut

Avatar photo

Pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Matahari pagi bersinar angkuh di atas perairan utara Jakarta. Laut tampak begitu tenang, permukaannya berkilauan seperti hamparan kaca yang memantulkan cahaya langit tanpa cela.

Bagi sebagian besar penumpang, pagi itu terasa sempurna. Hari yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang. Hari untuk melupakan rutinitas. Hari untuk tertawa. Hari untuk berlibur.

Di atas kapal wisata yang membawa ratusan penumpang menuju Kepulauan Seribu, suasana begitu hidup. Tawa terdengar di mana-mana. Beberapa orang sibuk mematut diri di depan kamera, berswafoto dengan latar laut biru. Ada yang merekam video untuk dikirim kepada keluarga. Ada pula yang duduk santai menikmati semilir angin laut yang membelai wajah.

Ratih termasuk salah satunya. Ia berdiri di sisi lambung kapal bersama tiga sahabat pengajiannya: Bu Diah, Bu Nining, dan Bu Sri. Keempat perempuan itu sudah bersahabat lebih dari sepuluh tahun.

“Kita seperti anak muda lagi, ya,” canda Bu Nining sambil tertawa. “Kalau anak muda, jangan panggil saya nenek-nenek begini,” sahut Bu Sri. Tawa mereka pecah bersamaan.

Ratih ikut tertawa, namun ada binar syukur di matanya. Sudah lama ia tidak merasakan kebahagiaan sesederhana ini. Tidak ada pekerjaan rumah. Tidak ada tagihan. Tidak ada kesibukan yang merongrong. Hanya laut, angin, dan perjalanan.

“Pasti Aniya masih marah sama saya,” ujar Ratih tiba-tiba. Bu Diah tersenyum. “Masih soal kapal?” Ratih mengangguk lemah. “Iya.” “Dia sayang sama kamu, Ratih.” Ratih menatap cakrawala. “Aku tahu. Tapi lukanya… masih trauma.”

Tidak ada yang melanjutkan percakapan. Mereka semua tahu kisah itu. Tentang suami Ratih. Tentang kecelakaan laut bertahun-tahun silam. Tentang seorang anak kecil yang tumbuh tanpa ayah. Dan tentang luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

“Kadang saya merasa bersalah,” kata Ratih pelan. “Karena sampai sekarang Aniya masih hidup dalam ketakutan.” Bu Sri menggenggam bahunya erat. “Itu bukan salahmu.” Ratih tersenyum tipis. Namun jauh di dalam hatinya, ia tidak sepenuhnya percaya.

Sementara itu, di bagian belakang kapal, Arman—salah satu awak kapal—sedang berjalan melakukan pemantauan rutin. Tubuhnya tinggi, kulitnya gelap terbakar matahari. Baginya, laut bukan sekadar tempat kerja, tapi rumah. Ayahnya nelayan. Kakeknya nelayan. Hampir seluruh darahnya adalah air laut.

Namun pagi itu, ada sesuatu yang mengusik instingnya. Ia menoleh ke arah buritan. Pandangannya terkunci pada salah satu kotak penyimpanan di dekat ruang mesin. Dari celah ventilasi kecil, tampak asap tipis muncul sesaat lalu hilang ditelan angin.

Arman mengernyit. Mungkin hanya uap panas. Atau mungkin bukan apa-apa. Namun instingnya berteriak sebaliknya.

Ia melangkah mendekat. Tiba-tiba, seorang awak lain memanggilnya, “Bantu angkat galon dulu, Man.” Arman menoleh ragu. “Nanti.” “Penumpang minta air minum.” Arman kembali menatap ventilasi itu. Asap tadi sudah tak terlihat. Ia mengembuskan napas panjang, mungkin ia hanya terlalu lelah. Ia akhirnya berbalik dan mengikuti rekannya.

Tanpa ia sadari, keputusan kecil itu akan menghantuinya seumur hidup.

Di kampus, Aniya sedang berusaha fokus pada presentasi kelompok. Namun pikirannya melayang. Sesekali ia membuka aplikasi pesan. Masih belum ada kabar baru dari ibunya.

“Nia, kamu kenapa sih dari tadi?” bisik Salsa, sahabatnya. Aniya tersenyum tipis. “Ibuku lagi wisata.” “Terus?” “Aku khawatir.” “Dia bukan anak kecil, Nia.” Aniya mengangguk. Ia tahu. Namun rasa khawatir tidak selalu tunduk pada logika. Ia muncul tanpa alasan, tanpa kendali.

Pukul sepuluh lewat dua belas menit. Kapal wisata terus melaju. Angin laut bertiup lembut. Sebagian penumpang membuka bekal, sebagian lagi bernyanyi. Suasana dek kapal begitu hangat. Tidak ada yang memperhatikan Arman yang kembali berjalan cepat menuju area mesin.

Kali ini langkahnya lebih lebar. Instingnya tak bisa lagi diabaikan.

Saat tiba di depan ventilasi yang sama, jantungnya seolah berhenti berdetak. Asap tipis itu muncul lagi. Kali ini lebih jelas. Lebih pekat. Dan disertai aroma yang membuat darahnya membeku. Bau kabel terbakar.

Arman langsung membuka pintu akses ruang mesin. Gelombang udara panas menyergap wajahnya seperti tamparan. Ia mematung. Matanya membelalak.

“Ya Allah…”

Api kecil terlihat menjilat salah satu instalasi listrik. Belum besar. Namun cukup untuk membuat seluruh tubuhnya gemetar. Arman segera meraih alat pemadam api ringan (APAR) di dekat pintu. Tangannya bergerak cepat, terlatih. Namun, saat ia menarik alat itu, wajahnya pucat pasi. Jarum indikator tekanan berada di zona merah. Kosong.

Untuk pertama kalinya pagi itu, ketakutan yang sesungguhnya menyergap. Sementara di atas dek, para penumpang masih tertawa. Masih berfoto. Masih menikmati laut yang indah. Tanpa mengetahui bahwa beberapa meter di bawah kaki mereka, sesuatu sedang lahir. Sesuatu yang akan mengubah ratusan kehidupan hanya dalam hitungan menit.

*****

Bagaimana tanggapan Anda?

Editor: Sagara Ahmad