BeritaPulauSeribu
BeritaPulauSeribu
Advertisement
Wisata Kepulauan Seribu
Kisah  

Batas Buih 2 : Asap di Atas Laut

Avatar photo

Pukul 12.15 WIB. Suasana di dalam posko krisis berubah dalam sekejap. Jika sebelumnya hanya dipenuhi kecemasan, kini udara terasa jauh lebih berat. Lebih sesak.

Petugas yang membawa daftar identifikasi berdiri di depan ruangan dengan wajah tegang. Di tangannya terdapat beberapa lembar kertas yang menjadi pusat gravitasi bagi puluhan pasang mata. Tidak ada suara. Tidak ada percakapan. Hanya ada degup jantung yang berpacu di dada masing-masing orang.

“Mohon tenang,” suara petugas terdengar berat. “Saya akan membacakan nama-nama korban yang telah berhasil dievakuasi dan berada di rumah sakit rujukan.”

Aniya memejamkan mata. Ia menahan napas. Jantungnya berdetak begitu kencang, menabrak dinding rusuknya sendiri. Duk. Duk. Duk.

Nama pertama menggema. Lalu kedua. Ketiga. Keempat. Kelima.

Orang-orang mulai bergerak. Beberapa menangis lega. Beberapa lainnya berlari keluar posko menuju ambulans. Seorang ibu tua jatuh bersimpuh, memeluk udara setelah mendengar nama anaknya disebut. Namun, Aniya masih berdiri mematung. Menunggu satu nama. Hanya satu.

Daftar pertama selesai dibacakan. Nama Ratih tidak ada. Sesuatu runtuh di dalam dada Aniya. Mungkin ada daftar berikutnya, bisik batinnya, sebuah harapan yang semakin tipis.

Pukul 12.37 WIB. Daftar kedua tiba. Kapal SAR terus hilir-mudik membelah perairan. Helikopter pemantau berputar-putar di langit, suaranya terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu konsentrasi. Di posko, harapan kini perlahan berubah menjadi keputusasaan.

Nama demi nama kembali dibacakan. Aniya masih berdiri. Tangannya mencengkeram tas selempang begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Ratih…” bisiknya lirih, seolah nama itu adalah doa yang harus ia lafalkan terus-menerus.

Namun sekali lagi, daftar itu selesai. Nama Ratih tetap tidak ada. Kali ini, kaki Aniya kehilangan kekuatannya.

Pukul 13.10 WIB. Di ruang koordinasi utama, Rahadian menatap laporan terbaru dengan tatapan kosong. Setiap laporan baru adalah beban yang menekan pundaknya lebih dalam. Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan kasar.

“Pak!” stafnya masuk tergesa. “Ada keluarga korban yang memaksa masuk area evakuasi. Mahasiswi. Mencari ibunya.”

Rahadian berdiri. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah keluar.

Di balik barikade dermaga, Aniya sedang beradu argumen dengan petugas. Air matanya sudah tidak terbendung, mengalir deras membasahi pipinya yang kuyu. “Pak, tolong!” suaranya pecah. “Tolong cari ibu saya!”

Petugas mencoba menahannya, tapi Aniya tidak menyerah. “Bagaimana saya bisa tenang?!” teriaknya. “Saya sudah kehilangan ayah saya! Saya tidak mau kehilangan ibu saya juga!”

Suasana seketika hening. Suara teriakan Aniya yang penuh luka itu seolah menghentikan waktu. Rahadian berhenti beberapa meter dari kerumunan. Ia memperhatikan gadis itu—bukan sebagai keluarga korban, tapi sebagai seorang anak yang takut dunianya runtuh untuk kedua kalinya.

Rahadian melangkah mendekat. “Aniya?”

Gadis itu menoleh. Wajahnya pucat pasi, matanya merah bengkak. “Pak… tolong…”

“Kami sedang berusaha,” jawab Rahadian pelan. “Tolong bilang mereka jangan berhenti mencari,” suara Aniya bergetar. “Laut sudah mengambil ayah saya. Tolong… jangan biarkan laut mengambil ibu saya juga.”

Kalimat itu menggantung di udara, membuat petugas di sekitar menunduk dalam. Rahadian sendiri kehilangan kata-kata. Prosedur dan SOP seolah tidak ada artinya di depan duka yang begitu murni.

Tiba-tiba, napas Aniya memburu. Pandangannya berkunang-kunang. “Bu…” bisiknya sebelum dunianya menggelap. “Jangan pergi…”

Tubuh Aniya roboh ke depan. Rahadian bergerak cepat, namun beberapa petugas sudah lebih dulu menangkap tubuh gadis itu sebelum menghantam aspal. “Medis! Bawa tandu!”

Di tengah kekacauan itu, radio di tangan Rahadian menjerit. “Posko, kami menemukan kelompok korban baru di sektor pencarian timur.”

Rahadian menoleh ke radio, lalu ke arah Aniya yang terbaring lemah. “Berapa orang?” “Tujuh korban.” “Status?”

Jeda radio itu terasa selamanya. “Kami masih melakukan identifikasi.”

Rahadian menatap laut yang berkilauan di kejauhan. Di sana, di antara asap hitam dan ombak yang tak peduli, nasib Ratih sedang diperjuangkan.

*****

Bagaimana tanggapan Anda?

Editor: Sagara Ahmad