BeritaPulauSeribu
BeritaPulauSeribu
Advertisement
Wisata Kepulauan Seribu
Kisah  

Batas Buih 2 : Asap di Atas Laut

Avatar photo

Pukul 14.08 WIB. Ruang medis darurat di pelabuhan dipenuhi aroma antiseptik yang tajam dan suara derap langkah kaki yang terburu-buru. Aniya perlahan membuka matanya. Langit-langit tenda putih terlihat samar, berputar pelan di kepalanya yang terasa berat.

Ingatan kembali menghantamnya seperti gelombang pasang: telepon dari Bu Diah, asap hitam, kapal yang terbakar, dan ketidakpastian nasib ibunya.

“Ibu…” bisiknya parau. Air mata seketika mengalir, membasahi bantal tipis di bawah kepalanya.

Seorang petugas medis mendekat, menahan bahunya. “Mbak Aniya, jangan dipaksa bangun dulu.”

“Ibu saya mana?” Aniya mengabaikan rasa pusingnya. Namun, petugas itu terdiam. Tidak ada jawaban yang bisa diberikan, karena memang belum ada kepastian.

Di luar tenda, pelabuhan adalah lautan duka. Keluarga korban memenuhi area tunggu; sebagian mulai menunduk dalam kepasrahan, sebagian lagi masih menolak untuk menyerah pada takdir. Di salah satu sudut, seorang gadis remaja duduk terbungkus selimut tebal. Wajahnya pucat pasi, matanya kosong menatap lantai. Namanya Nadia, penyintas yang baru tiba dua jam lalu.

Saat Aniya akhirnya keluar dari ruang medis dengan langkah tertatih, ia kembali ke posko informasi. Rahadian, yang kebetulan melintas, menatapnya dengan raut khawatir. “Harusnya kamu istirahat.”

“Saya tidak bisa,” jawab Aniya tegas.

Tiba-tiba, seorang petugas menghampiri mereka. “Pak Rahadian, salah satu penyintas ingin memberikan sesuatu.”

“Kepada siapa?”

Petugas itu menunjuk Aniya. “Kepada Mbak ini.”

Beberapa menit kemudian, Aniya duduk berhadapan dengan Nadia. Remaja itu gemetar. Di genggamannya, terdapat sebuah benda kecil yang terlipat rapi. Saat Nadia perlahan mengulurkannya, dunia Aniya seakan berhenti berputar.

Itu adalah sapu tangan putih gading dengan sulaman bunga melati kecil di sudutnya.

Dunia Aniya runtuh. Ia ingat benda itu. Ia sendiri yang membelinya dua bulan lalu, hadiah untuk ulang tahun ibunya yang ke-50. Tangannya menutupi mulut, napasnya tercekat. “Itu… punya ibu saya,” bisiknya nyaris tak terdengar.

Nadia menangis tanpa suara, mengangguk pelan. “Aku… aku terakhir melihat beliau.”

Aniya mendengarkan. Ia tahu ini adalah bagian paling menyakitkan yang akan ia dengar, namun ia tidak bisa berpaling.

“Asap masuk ke dek atas,” Nadia mulai bercerita dengan suara yang retak. “Orang-orang panik, berdesakan, menangis. Aku terpisah dari rombonganku. Aku takut sekali.”

Nadia menarik napas, mencoba menata ingatannya. “Lalu, ada seorang ibu menghampiriku. Beliau memegang pundakku. Beliau tenang sekali, padahal di sekeliling kami api sudah menjilat langit-langit kapal.”

Aniya menggenggam sapu tangan itu erat-erat. Itu Ibu, batinnya. Itu cara Ibu.

“Beliau bilang padaku,” suara Nadia pecah, “‘Nak, jangan ikut berdesakan. Kalau di sini, kamu akan terjebak. Kamu harus lompat ke laut.’ Aku bilang aku takut. Lalu beliau memakaikan pelampung itu padaku. Beliau yang mengikat semuanya dengan tangan beliau sendiri.”

Aniya menutup mata. Ia bisa membayangkan tangan ibunya yang lembut, kini sibuk menyelamatkan nyawa orang asing di saat maut sudah berada di depan mata.

“Beliau menyuruhku melompat,” lanjut Nadia, air matanya jatuh ke pangkuan. “Aku tidak mau. Aku menangis. Lalu beliau mendorongku… perlahan, supaya aku berani. Saat aku muncul ke permukaan laut, aku melihat beliau masih berdiri di atas kapal. Beliau melambaikan tangan.”

Tidak ada suara lagi. Hanya isak tangis yang tertahan.

Rahadian, yang berdiri tak jauh dari mereka, menundukkan kepala. Di tengah kepanikan, di tengah api yang membakar segalanya, Ratih tetap memilih untuk menjadi “ibu”. Bagi anak orang lain, di saat ia sendiri sedang menghadapi ajal.

Aniya memeluk sapu tangan itu ke dadanya, menghirup aroma samar melati dan parfum yang sangat ia kenal. Kini, ia memiliki sesuatu yang lebih berharga dari sekadar laporan pencarian. Ia memiliki potongan terakhir dari jiwa ibunya.

Bahwa di tengah asap, di tengah maut, ibunya tetap menjadi cahaya.

Aniya meraih tangan Nadia, menggenggamnya kuat. “Terima kasih,” bisiknya. “Terima kasih sudah memberiku cerita terakhir tentang Ibu.”

Sore turun dengan perlahan di atas pelabuhan, membawa sisa-sisa kecemasan yang menggantung. Aniya kini sadar; harapan ibunya masih hidup mungkin memang semakin tipis, namun di satu sisi, ia baru saja menyadari bahwa ia memiliki seorang ibu yang sangat luar biasa.

Ia belum tahu apakah Ratih akan kembali, namun ia tahu, apa pun yang terjadi, ibunya tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia ini tanpa meninggalkan jejak kasih yang mendalam.

*****

Bagaimana tanggapan Anda?

Editor: Sagara Ahmad